Riawani Elyta: RESENSI NOVEL LIVOR MORTIS : MISI INI UNTUK SIAPA?

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 3 October 2013

RESENSI NOVEL LIVOR MORTIS : MISI INI UNTUK SIAPA?




Judul buku      : Livor Mortis
Penulis             : Deasylawati P.
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Cetakan I        : Juni 2008
ISBN               : 978-979-1397-41-4

Resensi :
Tak sedikit fakta buram dibalik pelayanan oleh Institusi Kesehatan, dalam hal ini rumah sakit umum pemerintah yang pernah kita dengar, saksikan bahkan kita alami. Namun hanya sedikit yang berhasil terkuak, muncul ke permukaan lalu mendapat solusi dan perhatian sebagaimana ‘mesti’nya. Selebihnya justru harus dibungkam rapat-rapat demi menjaga nama baik dan kredibilitas institusi juga sebagai bentuk ‘penerimaan tanpa syarat’ terhadap subsidi yang digulirkan pemerintah.

Fakta-fakta inilah yang kemudian mengilhami alur cerita didalam novel berjudul Livor Mortis ini. Livor Mortis sendiri merujuk pada tanda-tanda fisik seseorang berupa bentuk lebam pada permukaan kulit yang menjadi ‘bukti pengesahan’ bahwa seseorang itu telah pasti meninggal sejak rentang waktu beberapa jam.


Dalam novel ini, pembaca akan diajak menyingkap tabir yang menyelubungi sederet fakta buram akan perawatan dan pelayanan yang pernah terjadi di rumah sakit umum, antara lain tentang kasus malpraktek, operasi pasien yang dijadikan ajang latihan dan percobaan para dokter baru, perbedaan perlakuan atas pasien tergantung pada kelas kemampuan, perilaku indisipliner perawat jaga, juga upaya membungkam pihak yang dirugikan atas kasus malpraktek sebelum menyebar luas dan mencuat ke jalur hukum.

Adalah Fatiya, tokoh sentral didalam novel ini, seorang perawat honorer yang baru ditugaskan di sebuah rumah sakit umum milik pemerintah. Pada masa awal bertugas, ia sudah harus menghadapi serangkaian kenyataan dan fakta negatif yang bertentangan dengan idealisme dan nurani yang selama ini ia junjung tinggi. Mulai dari peraturan yang ketat dalam hal pakaian seragam sementara Fatiya adalah seorang muslimah yang taat menjaga hijab, berhadapan dengan pasien tidak mampu yang harus pasrah menerima perawatan kurang memadai sementara pasien yang mampu mendapat perlakuan yang istimewa pula, juga kasus malpraktek yang menimpa seorang wanita bernama Lena saat menjalani operasi persalinan bayinya. Lika-liku yang dijalani Fathiya dalam profesinya ini juga diwarnai kisah cinta segitiga dengan dokter Pras dan seorang perawat bernama Haris.  Fatiya dan Haris diam-diam saling menaruh simpati, namun secara tak terduga dokter Pras justru lebih dulu ‘maju selangkah’ untuk mengkhitbah Fathiya melalui perantaraan gurunya.

Kepolosan Fatiya ternyata kemudian dimanfaatkan oleh Alfan, seorang konsultan hukum yang bekerjasama dengan Robi, suami Lena yang kecewa atas perlakuan pihak rumah sakit terhadap perawatan istrinya, untuk mengungkap kebobrokan di rumah sakit umum tersebut. Meski usaha ini berhasil mengungkit dan memublikasikan kasus kematian seorang pasien tidak mampu akibat kelalaian perawat jaga ke media cetak, namun pada akhirnya kekuatan yang hanya segelintir itu pun berhasil dibungkam pihak yang lebih berkuasa. Fatiya pun memilih mundur. Mundur dari rencana perjodohannya dengan dokter Pras, juga mundur dari pekerjaannya.

Dibandingkan dengan novel-novel lokal yang pernah mengangkat lika-liku profesi medis, sejauh ini Livor Mortis boleh dianggap novel yang paling berhasil menyajikan tema ini secara komplit dan apik, karena disini lika-liku itu tak hanya berfungsi sebagai latar ataupun pendukung cerita, melainkan beraplikasi pada tema sentral, alur cerita, penokohan karakter utama, juga setting, membuat pembaca serasa sedang menyaksikan Grey’s Anatomy, sebuah film serial berlatar belakang dunia kedokteran dan setting yang didominasi oleh pemandangan dan peristiwa di rumah sakit namun dalam visi dan misi yang berbeda.

Setting yang dominan ini, meski sangat pas dengan tema dan alur cerita, namun terasa sedikit membosankan karena sebagian besar perpindahan adegan hanya bergerak di seputar bangsal, ruang operasi, kamar inap pasien dan bagian-bagian yang ada di rumah sakit. Istilah-istilah medis pun bertaburan dengan cukup dominan. Sebagiannya dilengkapi catatan kaki, namun sebagiannya tidak, hingga terasa sedikit asing bagi pembaca awam.

Didukung oleh latar belakang pendidikan penulisnya, fakta-fakta yang tersaji didalam novel ini terasa nyata. Liukan konfliknya tergarap apik tanpa terkesan terlalu dramatis. Demikian pula karakter penokohannya, sebagian besar dekat dengan karakter humanistik di kehidupan sehari-hari, kecuali karakter Fatiya yang memang di’kondisi’kan sangat idealis, sulit ditemukan pribadi semacam ini di dunia nyata, namun kehadirannya menjadi tokoh ‘kunci’ untuk menghadirkan pertentangan antara idealisme – kepentingan didalam novel ini.

Dalam hal kesalahan penulisan, terdapat beberapa kesalahan EYD, diantaranya pada kata ‘telentang’ dan ‘merutuk’ namun tertulis ‘terlentang’ dan ‘meruntuk’ sebanyak dua kali, juga keterangan tentang Pak Karto yang sejak awal disebutkan sebagai seorang pembuat kue namun terdapat kalimat yang justru menyebutkan dia adalah seorang pemulung. Dari segi lay-out, pemilihan font dan jenis kertas untuk novel ini cukup nyaman dibaca, juga pemilihan gambar, tagline dan sinopsis pada sampul novel yang mempermudah transfer pemahaman pembaca akan isi novel ini sebelum membukanya, mengingat istilah Livor Mortis sendiri tergolong asing bagi pembaca awam.

Novel ini juga dibalut nuansa islami yang cukup kental, melalui deskripsi akan prinsip syar’i yang dijalankan oleh sosok Fatiya dan proses khitbah antara dirinya dengan dokter Pras. Dari segi muatan, novel ini tak hanya sekedar menampilkan potret buram dari fakta-fakta negatif yang berseliweran di dalam tubuh institusi kesehatan, tapi juga menyiratkan keinginan penulisnya untuk mewujudkan kata hati nurani menjadi sebentuk tindakan nyata, mengingat di zaman ini kemurnian nurani dan idealisme telah kian tergerus dan tak berdaya saat berhadapan dengan kepentingan, kekuasaan dan materi.

Terlepas dari visi dan misi mulia ini, satu pertanyaan tak urung mengemuka : siapakah segmen pembaca yang paling tepat untuk disasar oleh novel ini? Paramedis yang bergelut di institusi, pihak-pihak yang berada di tampuk kepentingan dan kekuasaan, ataukah  para pembaca awam?  Jika jawabannya adalah yang pertama, sementara ‘solusi’ yang dihadirkan lewat sosok Fatiya didalam novel ini justru adalah sebuah titik balik dengan jalan mengundurkan diri, akankah ini juga menjadi solusi utama yang ditawarkan kepada paramedis yang tetap ingin mempertahankan kemurnian nurani ditengah pengaruh negatif lingkungan pekerjaan?

Jika jawabannya adalah yang kedua, berkemungkinan besar akan berefek positif ataupun sebaliknya, nurani para penguasa yang berhasil dibangunkan dari tidur panjang atau setidaknya merasa tersentil, atau justru menganggap novel ini sebuah pencitraan buruk terhadap institusi kesehatan (jika novel ini ditulis pada masa Orde Baru, tak tertutup kemungkinan dalam proses terbitnya akan dijegal, mengingat muatannya yang secara langsung mengungkap borok pemerintah dalam hal ini direpresentasikan oleh pihak-pihak yang berada dibalik institusi kesehatan).

Dan jika jawabannya adalah yang ketiga, juga tak mustahil akan menghasilkan dua efek yang saling bertolak belakang : pembaca yang merasa tergugah dan tercerahkan akan fakta dunia medis yang selama ini terselubung, atau justru menjadi trauma dan phobia terhadap pelayanan rumah sakit dan menganggap semua rumah sakit umum sama buruknya mengingat ada lebih banyak fakta buram yang selama ini mungkin tak diketahui namun dipaparkan secara gamblang dalam novel ini. Meski fakta-fakta tersebut tetap dibalut oleh kemasan fiksi, namun efek yang ditimbulkan boleh jadi tak kalah telak dengan efek yang dihasilkan oleh paparan realita.

Secara keseluruhan, novel ini layak menjadi pilihan pembaca, khususnya pembaca yang menyukai tema-tema berunsur humanis-idealis-islami yang didasarkan oleh peristiwa dari kehidupan nyata. Begitupun misi mulianya untuk menggugah kebangkitan nurani, sensitivitas dan rasa perikemanusiaan, sangat layak diapresiasi.

Hari ke-2 battle challenge #31hariberbagibacaan

8 comments:

  1. Kayaknya aku bakalan suka nih novel ini. Intrik dan seluk beluk dunia kedokteran selalu menarik.

    ReplyDelete
  2. aku memang penasaran dengan intrik-intrik dalam profesi. Aku jarang nemuin sih...
    terutama penulis dari Indonesia, hanya saja bila berpusat pada pemahaman religi. mungkin lain kali saja. :D

    ReplyDelete
  3. Wow...bagus banget resensinya. saya baca sampai habis ;)

    ReplyDelete
  4. Iya mbak ade n vera, ceritanya keren, tp settingnya mank rd monoton seputar RS aja
    Leyla, ditunggu juga reviewnya:-)
    Makasih mbak eky udah mampir:-)

    ReplyDelete
  5. bukunya sekarang masih ada ga ya, mba? aura bangsal itu nyeremin, heuheu

    ReplyDelete
  6. kami perawat selalu berusaha kerja keras demi membantu pasien2 kami..tp knp ini balasan yg di berikan kpada kami..bukan hanya dajih yg tidak sesuai di banding profesi lain...namun sikap2 dari kalian yg selalu mencari2 kesalahan kami....kami ingatkan pada kalian...kami ini perawat..tepatnya..hanya perawat...yg membantu penyembuhan pasien kami degn ilmu manusia...bukan ilmu tuhan...jadi jika ada suatu kesalahan..itu lah kami...kami hanya manusia yg sama seperti kalian yg pernah berbuat kesalahan......

    ReplyDelete
  7. jika kami bisa mengembalikan waktu...kami pasti lebih memilih profesi lain selain perawat...

    ReplyDelete