Riawani Elyta: Mamaku Contoh Teladanku

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 18 October 2013

Mamaku Contoh Teladanku



“Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. ....”

Kutipan hadits Rasululllah SAW ini jelas mengisyaratkan bahwa setiap manusia terlahir sebagai pemimpin. Dan kelak, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Minimal, sebagai pemimpin atas dirinya sendiri. Oleh karena itu, setiap orang tua wajib membentuk karakter pemimpin dalam diri anak-anaknya.


Lantas, seperti apa karakter seorang calon pemimpin yang ideal?

Dari beberapa sumber referensi dan quiz yang pernah saya gelar berjudul “ciri-ciri pemimpin ideal”,  jawaban yang paling banyak dimunculkan responden adalah : bahwa ciri-ciri pemimpin ideal adalah seorang yang beriman dan bertakwa, cerdas, disiplin dan bertanggung jawab, serta punya semangat juang yang tinggi.

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya bersama mama. Sosok yang menjadi contoh teladan saya dalam mendidik anak, termasuk membentuk karakter pemimpin seperti yang tersebut diatas meskipun beliau tetap tak luput dari kekurangan dan kealpaan. Tujuh tahun berlalu sejak kepergiannya, namun kesan positif beliau dalam ingatan saya, tak memudar sedikit pun.

Untuk lebih mudahnya, pelajaran-pelajaran positif dari beliau saya rangkum dalam beberapa poin  berikut ini :

Pertama – peduli gizi
Meskipun wanita bekerja, mama sangat peduli soal gizi. Beliau mengharuskan anak-anaknya untuk makan tiga kali sehari di rumah, tidak boleh jajan di luar kecuali hanya untuk jajan makanan ringan. Setiap pagi sebelum pergi bekerja, mama pasti menyempatkan diri untuk memasak di dapur. Siang harinya pas jam istirahat, mama juga pasti pulang ke rumah untuk menyiapkan makan siang. Kami memang tinggal di kota kecil, dan dari kantor mama ke rumah hanya butuh waktu sepuluh menit.

Mama selalu memastikan bahwa makanan yang tersedia di rumah memenuhi syarat empat sehat lima sempurna. Nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan juga susu. Untuk makanan cemilan di sore hari pun, mama lebih suka membuat sendiri ketimbang membeli, alasannya tentu saja karena lebih higienis dan murah.

Kepedulian mama dalam soal gizi ini, saya sadari menjadi kontribusi terbesar terhadap diri saya dalam hal pertumbuhan fisik dan perkembangan otak. Kewajiban menyantap sarapan pagi membuat saya tidak mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi pada pelajaran di sekolah. Saya juga tetap bersemangat untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah dengan asupan nutrisi yang mencukupi.

Saya baru menyadari efek dari ketidakseimbangan gizi ketika duduk di bangku SMA. Waktu itu, gara-gara ikutan teman, saya coba-coba berdiet dengan mengurangi porsi makan dan lebih giat berolahraga. Akibatnya, saya sering belajar dalam kondisi perut keroncongan, dan itu tak hanya membuat saya sulit berkonsentrasi dalam belajar, tetapi juga jadi gampang uring-uringan dan mudah terkena penyakit.

Dari pengalaman ini, saya mendapat satu pelajaran berharga, bahwa benarlah jiwa dan pikiran yang sehat itu baru terwujud jika tubuh kita berada dalam kondisi yang sehat. Fisik yang sehat membuat  daya serap dan daya pikir menjadi lebih baik, jiwa lebih tenang saat menghadapi persoalan, rasa percaya diri menjadi lebih besar, dan ini semua adalah modal penting untuk menumbuhkan karakter pemimpin di dalam diri kita. Ya. 

Bagaimana mungkin seseorang mampu memimpin dirinya sendiri dan orang lain disaat tubuhnya gampang terkena penyakit, jiwanya labil dan pikirannya pun sulit diajak berkonsentrasi? Oleh karenanya, asupan gizi yang seimbang mutlak menjadi faktor penting untuk menopang tubuh, jiwa dan pikiran yang sehat.

Kedua – menanamkan pentingnya pendidikan spiritual
Sejak usia balita, saya sudah diwajibkan belajar mengaji, sholat dan berpuasa. Semakin besar, mama mulai memberi target pada saya untuk mengkhatamkan Al-Quran setiap bulan Ramadhan.  Ketika itu, saya baru sekadar memahami bahwa ibadah adalah kewajiban umat beragama yang jika dilakukan akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan akan berdosa.

Namun pembiasaan melakukan ibadah sejak dini ini ternyata memberi efek sangat mendalam setelah saya tumbuh remaja dan dewasa. Saya selalu merasa gelisah kalau belum sholat, tak peduli meski orang-orang di lingkungan sekitar saya tidak satu pun mengerjakan shalat. Saya juga jadi termotivasi untuk mengkhatamkan Al-Quran setiap kali bulan Ramadhan.

Dan tentu saja, spiritualitas yang berorientasi pada Sang Maha Pencipta merupakan modal penting yang harus dimiliki setiap calon pemimpin. Karena ketundukan pada Tuhan akan mencegah seseorang dari berbuat hal-hal menyimpang. Jika diibaratkan pondasi, maka penanaman pendidikan spiritual sejak dini adalah pondasi bagi seorang calon pemimpin untuk selalu mengingat Allah dan berorientasi kepadaNya dimana pun ia berada dan dalam apapun kondisinya. Seorang calon pemimpin harus memiliki spritualitas yang kuat agar tak mudah goyah meski lingkungan  di sekitarnya memberi pengaruh buruk yang tak kalah hebatnya.

Ketiga – membentuk mental positif lewat pengalaman berkompetisi
Mama kerap mengikutsertakan saya pada perlombaan-perlombaan tingkat anak-anak. Dan Alhamdulillah, dalam beberapa kali perlombaan, saya pernah jadi juara. Dorongan untuk mengikuti lomba-lomba, perlahan saya sadari merupakan cara mama mendidik saya untuk mengerti arti perjuangan, punya sifat berani, siap menghadapi kekecewaan jika kalah juga tak lantas tinggi hati saat menang. Karena biasanya setelah satu lomba usai, lomba yang lain sudah menanti, sehingga saya tak punya waktu lama untuk larut dalam euforia kemenangan.  Hal lain yang saya kagumi dari mama, bahwa ia mengikutsertakan saya dalam lomba-lomba yang bertujuan untuk syiar Islam dan mengasah kemampuan intelektualitas seperti lomba mengaji, pidato dan cerdas cermat, dan bukannya lomba-lomba yang mengandalkan kelebihan fisik semata.

gbr atas : saya dalam lomba MTQ anak-anak, gbr bawah : saya dan mama

Menimba pengalaman lewat kompetisi, bagi saya menjadi modal penting untuk mengasah jiwa pemimpin, karena seorang calon pemimpin harus punya semangat juang, sikap berani dan mental yang kuat dalam menghadapi berbagai kendala.

Keempat – menanamkan disiplin dan tanggung jawab
Mama sudah menanamkan sifat disiplin sejak saya masih kecil. Dimulai dari jadwal bangun tidur dan kembali tidur malam yang harus selalu tepat waktu, harus tidur siang, harus selalu minum susu dan belajar, juga harus menyiapkan sendiri keperluan sekolah sejak saya masuk Sekolah Dasar.

Uniknya, mama tidak pernah menemani atau mengawasi saya belajar, atau pun mengingatkan saya sudah membuat PR atau belum. Tetapi setiap kali pembagian rapor, mama pasti sangat teliti melihat perkembangan nilai-nilai saya. Jika menurun, mama akan bertanya kenapa. Dari sini saya menangkap isyarat bahwa sayalah yang harus bertanggung jawab dengan nilai-nilai pelajaran saya sendiri. Jika saya mau nilai bagus, maka saya harus belajar tekun. Jika menurun, maka saya harus siap mengemukakan alasan yang tepat dan berkomitmen untuk memperbaikinya.

Dan, tentu saja disiplin dan tanggung jawab adalah karakter penting yang harus dimiliki seorang calon pemimpin. Bahkan untuk mampu memimpin diri sendiri, kedua sifat ini mutlak adanya.
Lalu, jika ditanyakan kepada saya, apakah  didikan mama ketika itu berhasil menjadikan saya seorang yang berkarakter pemimpin atau tidak?

Dari sisi organisasi, meskipun belum pernah memimpin organisasi dalam skala besar, setidaknya saya pernah menjadi wakil ketua kelas dan selalu menjadi ketua kelompok belajar saat duduk di bangku Sekolah Dasar. 
Ketika SMP, saya menjadi ketua regu pramuka putri. Saat SMA, kemampuan oganisasi saya memang tidak menonjol, tetapi saya lebih banyak mengikuti kompetisi, mulai dari cerdas cermat, pidato, lomba siswa berprestasi hingga siswa teladan. Dan Alhamdulillah, dalam kompetisi pada usia yang sudah berangkat remaja ini pun, saya beberapa kali meraih juara.

Apa yang terpenting, bahwa di mata saya, mama tergolong berhasil menanamkan karakter-karakter positif yang harus dimiliki oleh seorang calon pemimpin dalam diri saya, minimal, untuk memimpin diri sendiri. Saya jadi menyadari betapa pentingnya peranan gizi dalam mendukung kesehatan jiwa dan pikiran, pentingnya pemahaman dan pembiasaan aktivitas spiritual keagamaan sejak dini, pentingnya memiliki mental yang kuat juga sifat disiplin dan tanggung jawab.

Hal-hal ini jugalah yang kemudian saya tanamkan pada anak-anak saya saat ini. Meskipun dalam prakteknya, saya belum bisa melakukan sebaik mama, dan dalam beberapa hal, saya juga harus melakukan perubahan dan modifikasi dari cara yang diajarkan mama.

Dari segi menjaga asupan gizi misalnya, karena kantor saya jauh dari rumah, maka saya tidak sempat menyiapkan makanan setiap pagi seperti mama. Tetapi saya tetap mewajibkan anak-anak saya sarapan pagi, dan melarang mereka jajan sembarangan. Saat ada di rumah, saya juga berusaha memastikan mereka memperoleh asupan gizi yang seimbang.

Untuk aktivitas ibadah, saya juga mendorong anak-anak untuk membiasakan melakukannya sejak dini. Sehingga pada usia Sekolah Dasar sekarang, anak sulung dan yang nomor dua sudah rutin mengerjakan sholat lima waktu dan mengaji, meski sesekali tidak melakukannya secara full. Anak sulung saya juga sudah mengkhatamkan AL-Quran pertama kali saat usianya enam tahun.

Dalam hal kompetisi, saya juga meniru cara mama untuk memberi kebebasan pada anak mengikuti kompetisi yang positif. Karena dari pengalaman ini, mental yang positif termasuk karakter kepemimpinan dengan semangat juang tinggi dan bermental baja akan terbentuk. Alhamdulillah, anak saya yang sulung, pencapaiannya mampu mengalahkan saya ketika seusianya. Dulu, paling tinggi saya hanya mampu mengikuti kompetisi sampai tingkat propinsi, dan sulung saya, Alhamdulillah berhasil meraih penghargaan dalam olympiade sains mulai dari tingkat kota, propinsi hingga nasional.

anak-anak saya dan pencapaiannya

Hanya saja, untuk urusan disiplin dan tanggung jawab, saya akui, saya masih keteteran. Menanamkan kedua karakter ini terhadap anak lelaki ternyata jauh lebih sulit. Meski begitu, saya tak ingin menyerah. Adapun cara mama yang saya modifikasi, adalah dengan lebih bersikap terbuka dengan anak. Berbeda dengan jaman saya dulu, antara anak dan orang tua seperti ada dinding pembatas, anak tidak bisa bebas bicara dan curhat pada orang tua, tetapi sekarang, seiring dinamika dan perubahan jaman, orang tua harus lebih dekat dengan anak sehingga anak tak sungkan menjadikan orang tua sebagai sahabat. Lewat kedekatan ini pun, karakter positif yang harus dimiliki seorang calon pemimpin bisa dibangun, diantaranya adalah sifat terbuka, jujur, mau mendengarkan dan menghargai serta mengembangkan kemampuan berdiskusi dan bermusyawarah.

Demikianlah beberapa fase pengalaman saya bersama mama, pelajaran berharga yang saya dapatkan darinya dalam mendidik dan membentuk sifat kepemimpinan pada anak, serta hal-hal positif darinya yang saya tiru dan lanjutkan saat mendidik anak-anak saya saat ini. Dan apa yang membuat semua contoh teladan mama menjadi luar biasa di mata saya, karena mama ikhlas dan gigih melakukan itu semua meski saya bukanlah anak yang terlahir dari rahimnya.







5 comments:

  1. Makasih santi udah mampir:-)
    Bukan mama tiri mbak ela, tp mama angkat, kisah hidup sy wkt kecil agak2 nyinetron, hehe

    ReplyDelete
  2. Mamanya luar biasanya mbak, jadi belajar banyak nih

    ReplyDelete
  3. Wah, lomba-lomba masa kecilnya 'shalih'. Klo saya malah lombanya baca puisi dan nyanyi :-D

    ReplyDelete