Riawani Elyta: Behind the scene of A Miracle of Touch

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 24 October 2013

Behind the scene of A Miracle of Touch






Penulis : Riawani Elyta
Tebal : 240 halaman
Terbit : November 2013
Cover : Softcover
ISBN : 978-979-22-9949-6


Sinopsis


Untuk alasan dan kepentingan masing-masing, Ravey dan Talitha memutuskan untuk menikah. Pernikahan yang sarat perbedaan dan tak sedikit pun diselipi rasa cinta membuat rumah tangga mereka seakan berjalan di atas bara api. Posisi Talitha makin terjepit saat ibunda Ravey menantangnya untuk membuktikan bahwa pernikahan mereka dapat mengubah karakter buruk Ravey.

Pengakuan dari seorang wanita bernama Mary Anne bahwa ia tengah mengandung anak Ravey kian memperuncing persoalan. Belum lagi semua persoalan ini terurai, kecelakaan menimpa Ravey. Kecelakaan yang dicurigai justru ditujukan untuk menyingkirkan Talitha.

Berhasilkah Ravey dan Talitha melalui semua kemelut itu? Siapakah sebenarnya dalang di balik kecelakaan yang menimpa Ravey?


---------------------------------------------------------------------------------------------------------




Kalaulah ketika itu Allah nggak menggerakkan hati sahabat saya Shabrina WS untuk bertubi-tubi mengirimi saya SMS, mendorong saya untuk ikutan Lomba Amore, mungkin, sampai hari ini ide dari novel ini masih hanya akan jadi penghuni sel dalam benak saya, berputar-putar di tempat tanpa tahu kapan ia akan dibebaskan untuk menjadi satu cerita utuh.

Ketika itu, jujur aja, pengumuman Lomba ini memang sempet bikin saya mupeng, karena udah lama saya memendam keinginan untuk bisa nerbitin di GPU. Tapi, apa daya, ketika itu saya sedang mengerjakan secara bersamaan novel The Coffee Memory, Perjalanan Hati dan First Time in Beijing, yang masing-masing punya dateline berdekatan. Sehingga tak ayal, saya sempet ngalamin kelopak mata bengkak dan mata yang terasa periih banget.

Tapi, yah, terkadang gerak hati memang sulit diduga. Saya sendiri nggak menyangka, tepat  1,5 bulan jelang dateline, SMS-SMS Shabrina akhirnya membuat saya goyah. Malam itu juga, saya menulis sinopsis dan outline. Besoknya, proyek gila ini pun saya mulai. Saya memilih waktu tengah malam untuk menulis supaya bisa fokus. Dan berhubung mata saya masih bengkak dan perih, saya menulis dengan hanya memandang kibor, paling-paling baru nengok layar saat pergantian halaman. Walhasil, saat usai nulis, begitu kepala saya tegakkan, dunia rasanya muter-muter akibat kelamaan nunduk, hehe.

Dua minggu jelang dateline, naskah saya kirim. Bismillah.....
Sebulan kemudian, saya dapet BBM dari Elita Duatnofa, bilang kalo nama saya masuk dalam list nominasi. Alhamdulillah, sampe tahap ini pun, saya udah senengg banget, karena ada tulisan di bawahnya, kalo yang masuk nominasi, naskah juga akan diterbitkan. Tapi tetep aja, pas hari pengumuman, saya deg-degan, dan sekitar jam dua lewat, saat membaca pengumuman di kanal twitter, Alhamdulillah, nama saya dan judul novel ini nongol di urutan Pemenang Berbakat. Duuh, gak tahu deh kaya' apa reaksi wajah saya saat itu, rasanya semua adegan mata bengkak, perih dan dunia yang muter-muter langsung terobati dalam sekejap.

Selanjutnya, seperti biasa, naskah melalui tahap revisi. Dan, rasanya 'sesuatu' banget, saat tahu kalo editing naskah saya ditangani oleh mas Ijul, yang review-reviewnya di GRI selalu saya jadiin acuan nulis dan hunting buku baru, serta mbak Hetih Rusli, yang selama ini namanya udah sering saya baca di identitas buku terbitan GPU. Bekerja bersama dua orang ini juga membuat saya dapet tambahan beberapa ilmu baru dalam menulis. Thanks a lot ya, mas dan mbak :D

Oh ya, saya juga mau cerita sedikit tentang ide novel ini. Saat nulis sinopsisnya, satu kata yang saya bayangin sebagai premisnya, yaitu Cinta yang berlandaskan Kepentingan. Ya. Kepentingan, bukan Cinta, dan dari sini, pesan moral yang kemudian saya bayangin harus muncul adalah, bahwa ibadah yang niat awalnya udah nggak bener, ya dalam menjalaninya pasti bakal menghadapi cobaan dan rintangan. Selanjutnya ya kembali pada orang yang menjalaninya, apakah mereka mau menyadarinya untuk kemudian mengoreksi langkah ke depan, atau memutuskan untuk menyerah.

Untuk settingnya, awalnya saya ingin memilih India, karena tokoh-tokoh dalam cerita ini memang sebagiannya orang India, tetapi, karena keterbatasan waktu, saya akhirnya memindahkan ke yang dekat aja, yaitu Singapura, karena di negara ini pun, orang India-nya cukup banyak.

view Little India, salah satu setting dalam novel, gbr dari Wikipedia


Dan sebagai inspirasi untuk tokoh prianya, sekali lagi karena keterbatasan waktu, saya memilih untuk 'meminjam' beberapa karakter fisik seorang aktor bollywood yang menurut saya aktingnya cukup brillian, jago nari dan tentu aja ....cakep *uhuk*. Siapa dia? Temukan aja dalam novelnya nanti ya :D Buat pertama kalinya juga, saya buka-buka kamus nama untuk menemukan nama yang cocok dengan karakter tokohnya, padahal sebelum-sebelumnya, saya nggak terlalu fokus untuk urusan nama. Oh ya, untuk membuat suasana India-nya lebih terasa meski tidak mengambil lokasi langsung di India, saya juga masuk grup khusus bahasa India untuk menyerap beberapa kosakata bahasa India.Boleh yaa pamer satu kalimat aja :D


Mein tumhein pyaar karti hoon =  aku mencintaimu, I love you, wo ai ni. tsahhh :D

Berhubung naskah ini buat lomba, jadi untuk bisa menarik perhatian juri, mau nggak mau harus nyelipin sesuatu yang mungkin bisa tampil beda. Jadi di sini saya sekilas mengangkat tentang penyakit jiwa yang namanya pseudo-halusinasi. Seperti apa gambarannya? Ya tentu aja temukan di dalam novelnya nanti ya, hehe.

Oh ya, mengikut jejak sahabat saya Shabrina WS, saya juga mau kasih tahu novel yang mendampingi saya selama penulisan novel ini. Judulnya Sang Penerjemah (The Translator) karya Leila Abouleela, novel tentang kisah cinta beda agama, dan dari segi diksi dan penuturan, novel ini menurut saya cukup berhasil menyelipkan nilai-nilai Islami dari sisi akidah tanpa menyinggung SARA dan mengemasnya secara lembut juga apik. Lantas, hubungannya dengan novel Amore saya? Entahlah, yang jelas, saya seneng aja baca penuturannya yang puitis, lembut dan dalem, meski nyaris tak ada konflik yang berarti.


Oke deh sampe sini kisah dibalik layarnya. Terima kasih buat teman-teman yang udah jadi pembaca setia novel-novel saya selama ini, semoga novel ini juga nggak mengecewakan kalian, dan saya tetap terbuka untuk semua kritik dan masukan yang membangun agar bisa berkarya lebih baik lagi.

Syukriya,
Riawani Elyta


4 comments:

  1. acha.. acha.. kayakna Mbak Lyta jadi bisa bahasa India karena nulis novel ini :D

    ReplyDelete
  2. selesai nulisnya, udah gak bisa lagi :D

    ReplyDelete
  3. Luar biasa perjuanganmu mbak. Setimpal dengan hasil yang didapat ^^ Kualitas oke walaupun dikejar DL> jempol empat buatmu mbak.

    ReplyDelete