Riawani Elyta: BAGAIMANA MEMBUAT SINOPSIS YANG BAIK

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 8 October 2013

BAGAIMANA MEMBUAT SINOPSIS YANG BAIK

Tidak semua penulis terbiasa menulis dengan diawali sinopsis. Ada yang lebih suka menulis dan membiarkan jalan cerita berkembang sesuai imajinasi dan keinginan. Tetapi, saat melihat syarat-syarat pengiriman naskah ke penerbit yang pasti menyebutkan perlunya sinopsis, maka mau tidak mau, sebagai penulis kita juga kudu mempersiapkan sinopsis yang baik karena sinopsis adalah penilaian awal redaksi sebelum mulai membaca naskah kita.


Meskipun saya bukan editor, tetapi saya cukup sering mendapat kiriman sinopsis dari teman-teman yang minta dibaca dan dikomentari. Dan inilah beberapa hal yang kerap saya temui dari sinopsis yang pernah saya baca tsb :

1. Secara ide, umumnya penulis baru punya ide yang lebih baik dan fresh
2. Sinopsis tidak fokus, hingga sampai akhir membaca, saya gagal menemukan ide pokok, premis dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis
3. Alur dan plot yang tidak runut
4. Sinopsis yang terlalu muluk, cerita yang kelewat dramatis, konflik yang terlalu rumit, dsb, pokoknya yang serba "terlalu".

Dari hasil introspeksi sinopsis yang pernah saya ajukan ke penerbit, ada yang langsung diterima, ada yang diterima dengan revisi, ada juga yang ditolak mentah-mentah, berikut beberapa tips untuk menulis sinopsis :

1. Sinopsis harus bisa menjawab 5W + 1H, siapa tokoh utamanya, apa ide utama ceritanya, bagaimana alur dan plotnya, dimana lokasi dan latar waktu.

2. Sinopsis yang baik adalah sinopsis yang fokus. jadi begitu membacanya, editor langsung tahu apa ide utama, kekuatan cerita atau yang ingin ditonjolkan, serta pesan moral (kalau ada)

3. Jika sinopsis yang diajukan adalah untuk genre romance, jangan menulis sinopsis yang terlalu complicated, lebih baik konfliknya sederhana tapi penyelesaiannya makjleb, ketimbang konflik bertumpuk-tumpuk tetapi menyelesaikannya malah keteteran. Ini berbeda dengan sinopsis genre sejarah, atau fiksi bermuatan kultur-sosial misalnya, yang memungkinkan memberi ruang untuk konflik yang lebih banyak

4. Apakah sinopsis novel romance nggak boleh menampilkan konflik yang bersinggungan dengan perbedaan kultur, latar belakang, kehidupan sosial, dsb? Boleh-boleh saja. Malah hal tsb akan membuat cerita jadi lebih kaya dan menarik. Tetapi jangan lupa, bahwa konflik utama dan penyelesaian dalam novel romance haruslah yang terkait dengan perjalanan cinta tokohnya

5. Kemunculan sesuatu yang baru selalu menarik perhatian penerbit. Yang baru tidak hanya seputar ide, karena ide biasanya hanya daur ulang. Tetapi bisa juga pada latar waktu, tempat, profesi tokoh utama, dsb. Misalnya saja latar tempat yang jarang diangkat, profesi yang juga jarang dijadiin profesi tokohnya, dsb.

Ketika disodori beberapa nama kota untuk proyek STPC, pilihan saya langsung jatuh pada Beijing, karena menurut saya, setting Beijing belum pernah diangkat oleh novel romance lokal, tapi kalau novel sejarah atau terjemahan, cukup sering. dan menurut saya profesi chef juga jarang ditampilkan novel lokal, selain saya juga suka makanan, maka jadilah latar resto dan chef menjadi pilihan saya untuk novel FTIB. Meskipun dalam outputnya, masih banyak hal yang dikritisi dari novel tersebut, setidaknya saya sudah berusaha menampilkan sesuatu yang tidak terlalu mainstream.

Beberapa bulan lalu, ketika penerbit meminta saya mengajukan sinopsis baru, saya ajukan dua sinopsis, yang satu ditolak mentah-mentah karena dianggap terlalu dramatis, yang diterima yang satunya lagi, dengan satu alasan penerbit bahwa sinopsis yang kedua itu mengangkat cerita tentang profesi bodyguard wanita, profesi yang tergolong langka di realita apalagi diangkat dalam fiksi. Sekarang kisah si bodyguard ini  sedang dalam proses. Mudah-mudahan kisah ini kalau insya Allah sudah terbit nanti, bisa mengobati kerinduan beberapa teman yang ingin saya nulis setype Tarapuccino or Persona non Grata lagi.

1 comment: