Riawani Elyta: RESENSI NOVEL : 12 MENIT, KISAH INSPIRATIF-KAH?

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 27 August 2013

RESENSI NOVEL : 12 MENIT, KISAH INSPIRATIF-KAH?

 
Judul                  : 12 Menit
Penulis              : Oka Aurora
Penerbit            : Nourabooks
Tebal                 : 348 hal
Terbit                : Mei 2013

“Kisah yang mencerahkan dan inspiratif.” (Andy F. Noya, host Kick Andy)
“...........Cerita yang akan menyemangati dan menginspirasi pembaca hingga lembar terakhir.” (Helvy Tiana Rosa, penulis)

Dua kalimat diatas adalah penggalan endorsement untuk novel buah karya Oka Aurora ini. Menarik. Saat menemukan kata inspiratif dan menginspirasi pada kedua kalimat tersebut. Seolah menegaskan kesamaan pendapat kedua endorser, bahwa novel ini memang layak disebut sebagai novel inspiratif.
Lantas, novel macam apa yang sesungguhnya layak menyandang predikat inspiratif? Apakah novel ini termasuk satu diantaranya ataukah stempel yang “diselipkan” via endorsement tersebut hanya strategi penjualan belaka?
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “inspirasi” termasuk kata benda yang berarti “ilham”, dan kata “ilham” sendiri memiliki tiga arti, yaitu : petunjuk Tuhan yang timbul di hati, pikiran yang timbul dari hati, dan sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta.
Dengan demikian, maka sebuah karya yang dianggap “inspiratif” atau menginspirasi adalah karya yang setidaknya berhasil memunculkan satu dari ketiga pengertian tersebut di hati pembacanya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saatnya kita telisik sisi internal novel ini melalui ulasan berikut.
Sekilas, judul novel ini mengingatkan pembaca pada judul-judul cerita bergenre thriller. Sebut saja diantaranya, film seri “24 Hours” yang bercerita tentang rencana pembunuhan calon presiden Amerika Serikat. Apalagi, cover novel yang menampilkan gambar rak kayu berwarna biru dan bernuansa muram, cukup mendukung kesan tersebut, andai saja tidak terdapat tambahan gambar alat musik trompet dan mallet, serta insert foto orang-orang yang sedang berlatih marching band. Namun, novel ini sama sekali jauh dari unsur thriller, suspense dan sejenisnya.

“Dalam dua belas minggu ke depan, kita akan habiskan ratusan jam, siang dan malam, demi dua belas menit. Dua belas menit di Istora nanti.”
“Dua belas menit ini yang akan menentukan apakah kita akan juara. Dua belas menit ini yang menentukan apa yang akan kita kenang seumur hidup.” (Hal.83)


Inilah sesungguhnya inti dari novel berkapasitas 348 halaman ini. Inti yang kemudian terurai dalam lembar demi lembar yang bercerita tentang perjuangan keras Marching Band Bontang Pupuk Kaltim demi meraih kemenangan dalam Grand Prix Marching Band (GPMB), di mana waktu yang tersedia untuk penampilan puncak itu hanya 12 menit saja.
Siapa menduga, ada pengorbanan luar biasa, tetesan keringat dan air mata, kerja keras dan lika-liku panjang selama berbulan-bulan dan ribuan jam, dibalik sebuah penampilan yang “hanya” memakan waktu 12 menit tersebut, yang disajikan secara apik dan menawan oleh Oka Aurora di dalam novel ini. Novel yang juga merupakan novel pertama penulis dan diadaptasi dari skenario filmnya yang keempat.
Adalah Rene, seorang mantan pemain marching band dengan kemampuan dan pengalaman internasional, lalu meningkat menjadi pelatih marching band yang berhasil membawa anak asuhnya menjadi juara umum GPMB berturut-berturut, akhirnya dipinang oleh sebuah perusahaan besar untuk melatih marching band Bontang Pupuk Kaltim. Marching band yang beranggotakan anak-anak daerah dengan tingkat kepercayaan diri sangat rendah dan selalu merasa kecil meski sesungguhnya mereka memiliki potensi.
Kemampuan dan pengalaman cemerlang Rene benar–benar teruji disini, bukan hal mudah baginya menyuntikkan semangat kepercayaan diri kepada para pemain, menjaga agar semangat ini tetap eksis dan konsisten hingga akhir, ditambah lagi konflik internal yang melanda beberapa anggota inti, membuat upaya keras Rene untuk mewujudkan tim binaannya menjadi juara, menemui berbagai rintangan yang tidak mudah.
Diantara para anggota inti, terdapat Elaine, gadis blasteran Indonesia – Jepang yang pindah dari Jakarta ke Kalimantan mengikuti ayahnya yang pindah tugas. Elaine seorang pemain biola dengan kemampuan musikalitas sangat baik, dan berkat kemampuannya, juga didukung penampilannya yang menawan, Elaine terpilih sebagai field commander dalam marching band Bontang. Namun passion Elaine dalam bermusik ditentang keras oleh sang ayah. Beliau lebih menginginkan putri tunggalnya itu menjadi ilmuwan menyusul jejaknya. Juga menganggap pendidikan adalah satu-satunya kunci pembuka gerbang masa depan.
Selanjutnya ada Tara, gadis muda berbakat yang memiliki keterbatasan pendengaran akibat sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya. Tragedi tersebut membuatnya trauma, sehingga kerap menyalahkan diri sebagai penyebab kematian sang ayah. Sementara itu, ibunya melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan Tara diasuh oleh opa dan oma yang sangat menyayanginya serta sangat mendukungnya. Keterbatasan pendengarannya membuatnya harus berjuang ekstra keras saat harus berlatih dan diperlakukan secara “normal” dibawah tempaan tangan dingin Rene bersama anggota marching band yang lain. “Kombinasi” kekurangan fisik dan tekanan psikis ini, hampir saja membuat Tara menyerah.
Juga ada Lahang, anak seorang tetua suku Dayak yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, dan harus pula melewati perjalanan panjang nan penuh mara bahaya setiap kali pergi mengikuti latihan marching band. Lahang menghadapi dilema luar biasa saat ayahnya sakit keras, antara tetap tinggal untuk merawat ayahnya, atau pun mengikuti pertandingan marching band di Jakarta. Di satu sisi ia takut kehilangan ayahnya saat tak berada di samping beliau, di sisi lain ia tetap ingin mewujudkan janjinya pada sang ayah serta mewujudkan impiannya sendiri.
 Selain keempat tokoh utama tersebut, terdapat juga beberapa tokoh pendukung lainnya, diantaranya Pak Manajer, Rob, kedua orang tua Elaine, opa dan oma Tara, ayah Lahang, Pemeliatn atau pemuka agama dalam suku Dayak, yang kehadirannya berhasil dioptimalkan penulis untuk memperkuat alur cerita ini dan tidak sekadar tempelan belaka.
Di dalam novel ini, pembaca juga akan diajak mengenal dan memahami dunia marching band lebih dalam, tidak hanya sekadar mengenalkan nama alat musik seperti perkusi (alat musik pukul), brass (alat musik tiup), snare drum, mallet, dan sebagainya, serta istilah-istilah di dalamnya seperti cadet band, drum corps, fouettes, field commander dan sebagainya, tetapi juga sebuah gambaran holistik tentang marching band sebagai sebuah aktivitas tim musikal yang membutuhkan kerja keras, disiplin dan kekompakan dalam jangka waktu panjang demi menghasilkan penampilan yang prima.
Novel ini mengambil latar utama kota Bontang di Kalimantan Timur. Unsur budaya Dayak pun turut dihadirkan di sini melalui ritual Beliatn yang dipercaya dapat mengusir roh jahat dari tubuh orang sakit, meski untuk kedua latar tempat dan kultur ini, porsi penceritaannya tidak terlalu besar.
Kembali pada pertanyaan di awal, apakah novel ini layak disebut sebagai novel inspiratif, tentu, sangat dibutuhkan kejujuran pembaca akan kesan yang diperoleh setelah aktivitas membaca berakhir. Tetapi, setidaknya ada 3 (tiga) poin penting dari novel ini yang layak dicermati, dan memiliki relevansi sangat erat dengan nilai-nilai pembangun inspirasi.  Poin ini saya singkat dengan MAP, yaitu :

M = Motivational quotes (kalimat motivasi)
Salah satu trik populer saat ini untuk buku bermuatan inspirasi dan motivasi, baik fiksi maupun non fiksi, adalah dengan menyelipkan kalimat-kalimat motivasi atau motivational quotes didalamnya. Quotes semacam ini dapat mempertegas gagasan untuk lebih mudah diterima dan dipahami oleh pembaca, membuat tulisan menjadi lebih kaya makna, dan tentu saja, menyuntikkan semangat dan energi baru. 
Tak terkecuali di dalam novel ini, ada banyak taburan kalimat motivasi yang tersebar di dalam narasi maupun dialog-dialognya. Berikut beberapa kutipannya :
“Berapa pun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan, karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang menyambung hidupmu, hanya keberanian.” (hal. 104, nasehat ayah Lahang kepada anaknya).
“Tapi, ibarat sedang berenang, kalian semua sekarang sedang berenang melawan arus yang sangat kuat. Begitu kalian berhenti, kalian akan segera terdorong ke belakang. Untuk melawan arus, kalian bukan hanya butuh tubuh yang kuat. Kalian juga butuh mental yang kuat.” (hal.134, ucapan Rene saat memotivasi tim marching band).
Buat apa hidup jika tak bahagia. Apapun yang kita lakukan dengan hidup kita pada akhirnya adalah untuk menuju satu. Kebahagiaan. Lahir batin. Dunia akhirat. (hal. 165)
“Jika dirimu sedang sedih, lihatlah ke bawah. Ada orang yang jauh lebih sedih darimu. Sehingga kamu bisa belajar bersyukur.” (hal. 187)
“Berpikirlah kalah, maka kalian akan kalah. Kalau ingin menang, berpikirlah sebagai pemenang.” (hal. 307) 

Kehadiran kalimat-kalimat tersebut sama sekali tidak terkesan menggurui, karena penulis berhasil menempatkannya secara tepat sehingga berhasil membangkitkan citarasa inspirasi dalam porsi yang pas. Apalagi dengan ditunjang gaya penceritaan yang lugas, sederhana namun energik, membuat pesan-pesan dari novel ini sangat mudah dicerna oleh pembaca.

 A = A novel inspired by true story (novel yang terinspirasi dari kisah nyata)
Inspirasi novel ini memang bersumber dari keberhasilan tim marching band Bontang pupuk Kaltim yang telah mengukir prestasi sangat fenomenal, yaitu menjadi juara umum sebanyak sepuluh kali di dalam Grand Prix Marching Band (GPMB) atau kejuaraan Marching Band tingkat nasional, serta pernah pula meraih dua kali penghargaan internasional yaitu Sudlier Shield Award (1998) dan Band of the Year (2001).
Tak dipungkiri, bahwa fiksi yang mengambil inspirasi dari kisah nyata, apalagi kisah nyata yang inspiratif, memiliki kekuatan tersendiri untuk menggugah hati pembaca,  ini mungkin terkait dengan semacam “keyakinan”, sugesti, bahwa pada faktanya kisah tersebut – meski telah bertransformasi ke dalam bentuk fiksi - benar-benar ada, pernah terjadi, sehingga bukan hal mustahil untuk dapat terwujud, dan dapat dijadikan teladan bagi pembaca.
Dan seperti beberapa novel lainnya yang terinspirasi dari kisah nyata lalu diangkat ke layar lebar, novel ini pun mengalami hal serupa, yaitu difilmkan oleh Big Pictures Production dan disutradarai oleh Hanny R Saputra dengan judul “12 Menit untuk Selamanya”.

P = Positive Character (Karakter positif)
Melalui tokoh-tokoh dalam novel ini, terdapat banyak karakter positif yang pantas untuk dipelajari dan diteladani. Dari sosok Rene, pembaca akan belajar tentang pentingnya sifat-sifat kepemimpinan untuk membawa tim mencapai tujuan seperti kemampuan memotivasi, ketegasan, disiplin, pantang menyerah, profesional dan berdedikasi tinggi. Satu hal yang unik disini, bahwa dalam versi aslinya, pelatih tim marching band Bontang yang bernama Rene Conway adalah seorang laki-laki, tetapi dalam versi novel, sosok Rene adalah seorang wanita.
Dari sosok Tara, pembaca mendapatkan pelajaran berharga bahwa kekurangan fisik bukanlah hambatan untuk merealisasikan mimpi. 
Sosok Lahang dengan jalinan kisahnya yang dramatis, akan menggugah hati pembaca bahwa kekuatan mimpi dan keteguhan akan janji merupakan faktor substansial dalam mewujudkan cita-cita. 
Dan sosok sang field commander marching band, yaitu Elaine, juga ikut menyumbangkan pelajaran tak kalah berharga, bahwa ketekunan dan kegigihan dalam menggeluti passion  - meski bidang passion yang ditekuni itu mendapat perlawanan dari keluarga sendiri, dalam hal ini ayahnya – pada gilirannya kelak akan membalikkan semua perlawanan dan cemoohan menjadi dukungan dan bahkan kebanggaan.
Beberapa tokoh-tokoh lainnya juga mengajarkan pembaca akan betapa pentingnya dukungan positif dari orang-orang yang dicintai. Diantaranya adalah yang apa ditunjukkan oleh opa dan oma Tara, ayah Lahang juga ibunda Elaine. Mungkin, tanpa dukungan oleh orang-orang terkasih ini, sosok Tara akan tetap berkubang dengan trauma masa lalunya, Lahang akan tetap memilih terus berada di samping ayahnya yang sakit keras ketimbang mewujudkan impiannya, dan Elaine memilih mundur teratur dari pembuktian diri di depan ayahnya.
Semua karakter ini pun berhasil dibangun oleh penulisnya secara natural, dengan metode “show” yang sangat baik, yaitu kemampuan untuk memvisualisasikan karakter lewat emosi, ekspresi, gestur dan dialog tokoh sehingga pembaca dapat langsung mengidentifikasi karakter masing-masing tokohnya tanpa perlu sang penulis menamai masing-masing karakter tersebut.

Dengan beberapa poin diatas, sungguh tak berlebihan rasanya, jika novel ini layak distempeli predikat sebagai novel inspiratif, dan sangat direkomendasikan bagi anda yang saat ini tengah berjuang merealisasikan mimpi, serta yakin bahwa setiap orang pasti akan sampai pada tujuannya saat menjalaninya dengan keteguhan hati dan tak pernah takut meraih mimpi. Hal ini sesuai bunyi firman Allah swt yang ditampilkan di awal lembar novel ini, yaitu :
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sebuah bangsa sampai mereka mengubah keadaan mereka sendiri (QS Ar-Ra’d (13) : 11).
Juga quote pada lembar berikutnya, yang semoga dapat meyakinkan anda bahwa novel ini memang mampu menggugah semangat anda untuk menjadi pemenang kehidupan :
“Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri. Buku ini adalah bagi semua yang memenangkannya.”
 


7 comments:

  1. Singkat, padat, dan tepat sasaran. Review yg enak dibaca. Novelnya sepertinya memang inspiratif. Boleh pinjem? :P

    ReplyDelete
  2. adududuh, novel ini berarti hebat bener kalau mbak Ria udah kasih resensi sehebat ini.InsyaAllah menang mbak Ria^^

    ReplyDelete
  3. Wow .... resensinya oke sekali. Detil dan tajam. Kalo dari resensi ini, sepertinya novelnya oke sekali.

    Moga menang ya mbak :)

    ReplyDelete
  4. Makasih mbak Niar. Amiin. Iya novelnya keren :)

    ReplyDelete
  5. baru baca, sempat terbawa emosi pada bagian akhir buku ini

    ReplyDelete