Riawani Elyta: EMOSI DALAM MENULIS

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 13 August 2013

EMOSI DALAM MENULIS

Dalam menulis, baik fiksi maupun non fiksi, terdapat satu unsur yang sama sekali nggak ada sangkut pautnya dengan teknis menulis. Dia-lah sang emosi, bagaimana si penulis melibatkan emosi dan perasaannya dalam menulis, nyatanya bukan hal yang bisa dianggap sepele.

Karena keterlibatan emosi inilah yang akan "menentukan" sebuah fiksi terasa "bernyawa", seolah memiliki "ruh" atau "feel" yang kuat, meskipun dibangun dengan unsur-unsur tehnis yang standar-standar saja. Begitu pun dalam penulisan non fiksi, sebuah karya non fiksi akan menjelma text book yang kaku dan monoton jika penulisnya mengabaikan keterlibatan emosi di dalamnya.

Tentu kamu pernah mengalami, bukan? Saat membaca sebuah tulisan yang meski digarap dengan baik tetapi "feel"nya terasa hambar dan begitu menutupnya kamu nggak merasakan kesan  apa-apa? Atau sebuah tulisan yang meski sederhana tetapi terasa "dalam" dan meninggalkan kesan yang bertahan dalam ingatan?
Disinilah faktor keterlibatan emosi membuktikan bahwa perannya pun tak kalah penting dengan teori menulis itu sendiri.

Lantas, bagaimana caranya kita bisa menggali hal-hal yang dapat mendorong keterlibatan emosi secara maksimal di dalam proses menulis?


Pertama - dari pengalaman hidup. Jika sebuah cerita atau tulisan bersumber dari pengalaman pribadi atau orang lain yang membekas dalam ingatan dan perasaan kita, maka biasanya kita akan lebih bersemangat dan menghayati proses penulisannya. Apalagi jika sumbernya adalah pengalaman pribadi. Kita bisa lebih fokus pada eksplorasi emosi ini karena sebagian alur cerita sudah pernah kita alami dan hanya tinggal menuangkan serta mengembangkannya.

Kedua - dari kecenderungan, kepedulian dan empati. Ada beberapa hal atau bidang tertentu dalam hidup ini yang menarik perhatian dan rasa peduli kita lebih dari hal yang lain. Maka ini bisa dijadikan tema tulisan  agar emosi kita juga bisa lebih klik dengan apa yang kita tulis. Contohnya, ada orang yang sangat peduli dengan masalah lingkungan, ada yang sangat care terhadap penyelesaian problema rumah tangga, dll. Kenali apa kecenderungan, rasa peduli dan empatimu, lalu kombinasikan dengan unsur-unsur tehnis menulis untuk menghasilkan sebuah tulisan yang "hidup" dan "bernyawa".

Ketiga - dari dorongan pesan yang ingin disampaikan. Adanya motivasi atau pun pesan yang ingin kita sampaikan lewat tulisan juga bisa menjadi pendorong untuk meningkatkan keterlibatan emosi kita dalam tulisan. Kita merasa bahwa pesan itu penting, maka dengan sendirinya kita akan terdorong untuk melibatkan emosi dan perasaan dalam menuliskannya.

Selanjutnya, untuk mencapai hasil yang maksimal, luangkan waktu untuk bisa fokus, hayati setiap peran dan karakter yang kamu tuangkan di dalam fiksi seolah-olah masalah mereka adalah masalah yang kamu hadapi. Kegembiraan mereka adalah kegembiraanmu. Begitu pun di dalam penulisan non fiksi, libatkan juga semua perasaan dan pikiran kamu saat menuliskannya, hingga non fiksimu pun akan tampil beda dan menarik, juga nggak mirip buku-buku pelajaran sekolah :)

Semoga bermanfaat


7 comments:

  1. Bermanfaat banget kakaaaa :D

    ReplyDelete
  2. terima kasih sudah berbagi mbak :)

    ReplyDelete
  3. Tapi hati-hati juga lho, terkadang emosi kita bisa jadi bumerang di suatu ketika. Jadi,menurut para pakar, bahwa trik menulis yang jitu adalah: menuliskan dengan emosi, tapi editlah dengan logika. Karena terkadang emosi kita juga dipengaruhi hubungan dengan orang-orang di sekitar kita.

    ReplyDelete
  4. hmm, jadi inget postinganku di blog yang kalo dibaca pun masih bisa bikin nangis ataupun semangat, mba. padahal udah baca berkali-kali. biasanya memang dari pengalaman pribadi atau kepedulian tentang isue yang dituliskan lewat tulisan tsb.

    ReplyDelete
  5. mak Ria, salam kenal ya ^^
    tipsnya bermanfaat bgt, trims mak..

    ReplyDelete
  6. apa pengertian dari menulis dengan emosi?

    ReplyDelete