Riawani Elyta: Nulis genre beda? Sah-sah aja, asal.....

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 30 November 2012

Nulis genre beda? Sah-sah aja, asal.....

Menarik, saat mencari-cari referensi untuk postingan ini, saya bertemu kalimat ini di www.sabda.org, bahwa bukan penulis yang memilih genrenya, tetapi genre itulah yang memilih penulisnya, karena pada hakikatnya ketika menulis sebuah karya, penulis hanya menulis apa yang ada dalam hatinya. Batasan sebuah genre diciptakan untuk memudahkan pembaca mengenal dan mengapresiasi beragam karya, tetapi batasan itu sendiri, juga tidak seharusnya menjadi belenggu bagi penulis untuk berkarya. Itu sebabnya, tak jarang, penulis juga kerap tergoda untuk mencoba menulis berbagai genre.

Hal ini nggak hanya menimpa penulis yang udah menerbitkan beberapa buku saja, bahkan seorang penulis dengan jam terbang masih minim pun tak luput dari rasa bosan, saat harus menulis pada genre yang itu-itu saja, tak peduli meski dari naskah yang ia tulis, belum semuanya layak diterbitkan.

Lalu, apa boleh gonta-ganti genre? Hari ini nulis roman, bulan depan ganti fanfic, bulan depannya lagi nulis komedi misalnya? Atau untuk yang nulis non fiksi, hari ini nulis motivasi remaja, besoknya parenting, besoknya lagi tentang finance misalnya? Ya boleh-boleh aja, karena yang namanya kreativitas itu susah ditahan maunya :D

Memang sih, banyak yang bilang kalo lebih baik bertahan di genre yang sama, biar punya trade mark, brand name, dan yang paling penting, gampang ngenalinnya. Jadi kalo suatu saat ada yang nanya, si A itu penulis apa? Dia itu penulis komedi! Gampang kan jawabnya, kalo si A itu memang nulisnya genre itu aja?

Tapi, kalo keburu jenuh, pengen variasi, gimana dong? Ya silahkan aja, nggak ada yang larang kok, sepanjang kamu paham apa konsekuensi dari tindakan gonta-ganti genre itu. Nah, di sini saya nggak akan bicara soal konsekuensi, karena nggak semua penulis ngalamin konsekuensi serupa, tetapi hanya sedikit saran, berdasarkan sepengamatan saya ketika membaca, langkah-langkah apa yang harus anda perhatikan sebelum memutuskan untuk nulis dalam genre yang berbeda-beda.

1.       Jika anda masih penulis pemula, belum pernah menerbitkan buku, saran saya, mending selesaikan dulu naskah yang lagi ditulis sampai kelar, lalu kirim ke penerbit, dan jangan dulu tergoda nulis yang lain-lain, karena satu godaan bisa menggiring pada godaan berikutnya, ujung2nya, malah nggak ada naskah yang jadi lagi.

2.       Jika anda baru punya satu buku yang terbit, lihat dan amati respon pembaca. Jika responnya cukup baik, ditandai dengan adanya inbox, twit, or komentar dari pembaca buku anda dalam jumlah lumayan, dan angka terjual buku juga cukup baik, sebaiknya tahan dulu selera untuk menulis genre berbeda, karena biasanya pembaca-pembaca anda akan menanti buku anda selanjutnya dalam genre yang sama, genre yang mereka minati dari buku pertama anda. Dengan ini secara tak langsung anda sudah membentuk basis pembaca, dan mudah2an dengan anda menjaga kualitas dan produktivitas menulis pada genre yang sama, basis ini tak akan lari kemana-mana, malah mereka akan terus menanti dan mengupdate info terbaru tentang buku anda yang akan terbit selanjutnya.

3.       Jika anda baru punya satu buku yang terbit dan responnya belum terlalu baik, sederhananya, anda belum jadi ngetop dari buku perdana itu, nggak ada salahnya untuk mencoba genre berbeda di calon buku selanjutnya, tetapi perhatikan juga rasa nyaman saat menulis, utamakan rasa ini tetap eksis hingga lebih mudah ngenalin genre mana yang paling anda sukai untuk ditulis

4.       Jika udah punya jam terbang tinggi, pilihan untuk anda lebih fleksibel, mau bertahan di genre yang sama ya silahkan, mau nyoba2 yang lain juga monggo. Udah ada beberapa tho, penulis yang berbuat begini? Asma Nadia awalnya nulis kumcer dan novel, lalu jadi PJ antologi, nerbitin cathar solo, dan sampe sekarang, sepertinya beliau lebih top sebagai penulis non fiksi. Bung Gola Gong, yang dulunya Balada si Roy-nya pernah booming, sekarang justru sering kasih pelatihan nulis travelling. Ya, begitu deh, seiring waktu dan proses, penulis juga mengalami metamorfosis.

Lalu, jadi penulis yang belum banyak dikenal dengan udah terkenal itu, masing-masing punya sisi enak dan enggak enaknya kok. Kalo di posisi pertama, kebebasan sepenuhnya jadi milik anda, mau nulis apa aja, mau ngirim artikel ke media, or ikutan lomba ngeblog, asal sanggup aja nulisnya, ya sah-sah aja. Untuk penulis yang udah dikenal, agak sedikit berbeda, karena biasanya selalu ada tuntutan pembaca untuk nerbitin buku2 selanjutnya dengan genre yang sama dengan yang udah mereka baca. Untuk penulis yang mulai masuk ke ranah WBO, alias writing by order, nah di sini malah nggak bisa suka-suka lagi nulisnya, tetapi harus sesuai pesenan yang mesen, suka nggak suka, bete nggak bete ya tetap harus ditulis, tapi untungnya ya nggak perlu nyari-nyari penerbit lagi dengan methode trial and error, try again n again sampe ada yang mau nerbitin.

Cukup dulu ya tentang yang ini? Next time lanjut lagi :)

2 comments:

  1. Kalo saya gak berniat nulis sih, buat blog juga hasil copas sana-sini.. cuma biasanya ku ubah susunannya biar enak dibaca..

    Semangat aja deh mbak nulisnya ^^

    ReplyDelete