Riawani Elyta: KONSEP DIGITAL UNTUK START-UP BUSINESS

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 16 November 2012

KONSEP DIGITAL UNTUK START-UP BUSINESS

Pengen memulai bisnis tapi modal seuprit?
Pengen jualan tapi gak pede menghadapi calon konsumen?
Lupakan cara konvensional, saatnya untuk start-up your business dengan konsep digital, karena konsep ini nggak hanya akan menghemat banyak sumber daya seperti tenaga, waktu, dan materi tetapi juga menjanjikan profit dan jaringan yang nyaris tanpa batas.
Tulisan ini bukan iklan jualan obat, juga bukan bujuk rayu untuk menjadi member produk, melainkan sebuah ulasan praktis tentang how and what you need to start up your business by using this digital concept.


Sebenarnya, apa itu konsep digital? Digital berasal dari bahasa Yunani "Digitus" yang artinya jari jemari. Pengertian dasar inilah yang melatarbelakangi konsep penciptaan dan inovasi pesat gadget di era ini untuk berbagai keperluan termasuk dalam hal bisnis, yaitu segala proses cukup dilakukan dengan cara menggerakkan jari jemari pada keypad, touchscreen atau pun keyboard laptop. Dan berkat kemajuan di bidang teknologi informasi, gerakan jari jemari ini nggak hanya akan membuatmu terhubung dengan banyak orang, tetapi juga akan membawa kamu pada penjelajahan nyaris tanpa batas di dunia maya.

Dan ketika kamu udah memutuskan untuk start-up your business, maka pada saat itu jugalah kamu udah harus menetapkan tujuan utama, yaitu : success.

Jadi, sebagai pengawal, formula dalam konsep ini akan saya beri initial : S to S, atau Start-Up to Success.

Oke. Sekarang kamu udah punya produk untuk diperdagangkan. Lalu, apa saja yang kamu butuhkan untuk start-up business dengan konsep digital ini?

Jawabannya, kamu hanya perlu 3 (tiga) perangkat awal yang saya beri initial T-B-C, tapi bukan TBC penyakit lho, melainkan : T (tool), B (behaviour) dan C (capability). Berikut penjelasannya :
  1. T (tool) atau alat
Yaitu berupa seperangkat alat pendukung terdiri atas gadget, provider internet, blog dan akun di sosial media. Untuk gadget, kamu tinggal menyesuaikan dengan budget yang kamu miliki juga tingkat mobilitas. Pelajari pula cara-cara mengoptimalkan kinerja gadget tersebut agar bisa mendukung aktivitas bisnismu secara optimal. Yang tak kalah penting itu justru adalah provider. Memiliki provider yang bisa mendukung koneksi internet yang tepat dan cepat adalah pilihan mutlak, agar kamu senantiasa terhubung dengan konsumen kapan pun dan di mana pun, juga selalu update dengan perkembangan dan info-info yang kamu perlukan. Dalam hal ini, kamu bisa mengandalkan Axis sebagai salah satu operator GSM nasional yang terbukti daya jangkaunya luas, tarif yang transparan dan memiliki kecepatan koneksi internet yang sangat terpercaya.

beraneka jenis gadget

modem Axis
                    

Langkah selanjutnya, kamu harus memiliki blog dan mampu mengoperasikannya. Fungsi blog adalah sebagai toko dari produk yang kamu jual. Blog menjadi media untuk calon konsumen mendapatkan info tentang produk. Oleh karenanya, blog harus dilengkapi menu-menu berupa display foto, harga dan spesifikasi produk, cara pemesanan dan segala hal yang berkaitan dengan produk. Akan lebih baik jika tampilan blog dibuat semenarik mungkin dan memanfaatkan SEO (Search Eengine Optimization) untuk memudahkan pencarian konsumen terhadap produk.

contoh tampilan blog

Untuk pemula, kamu bisa mengambil contoh tampilan blog yang sudah ada di internet atau pun mendownload tampilan-tampilan khusus yang lebih ciamik dan mengkreasikannya sesuai keinginan. Jika ingin lebih baik lagi, kamu bisa mempelajari cara maksimal ngeblog melalui panduan-panduan tutorial yang banyak dijual di pasaran.

Oh ya, untuk display foto produk, meski teknologi photoshop memungkinkan tampilan foto menjadi lebih baik, disarankan untuk tidak melakukan makeover secara berlebihan, karena ketika produk sampai ke tangan konsumen, mereka bisa saja mengeluh karena wujud aslinya ternyata berbeda dengan yang ada pada display.

Langkah selanjutnya, bergabunglah dengan sosial media di internet, terutama yang paling banyak penggunanya seperti facebook dan twitter, atau pun BBM group jika kamu adalah pengguna blackberry. Luaskan jejaring kamu dengan menambahkan sebanyak-banyaknya teman. Lebih dianjurkan untuk memiliki dua akun. Yaitu akun personal dan akun yang khusus untuk tujuan bisnis, agar profesionalitas dalam berbisnis lebih terjaga. Untuk akun bisnis di facebook, lengkapi juga dengan display foto dan info produk. Meski kamu bisa memberi link blog kamu di sosial media ini, terkadang calon konsumen merasa lebih praktis saat melihat tampilannya langsung di beranda facebook.


Pada tahap ini, kamu udah bisa mulai berinteraksi dengan calon konsumen secara efektif dan optimal. Sosial media adalah sarana promo gratis, namun tetap diingat, bahwa nggak berarti kamu bisa jor-joran melakukan promo, tetap ada trik-triknya agar promo kamu bisa tepat sasaran dan berakhir dengan penjualan (selling). Ikuti terus ulasan di bawah ini ya.

  1. B (behaviour) atau sikap
Yup. Sikap adalah modal terpenting dalam berbisnis. Apalagi dengan penggunaan sosial media di internet sebagai media bisnis, segala informasi dapat terserap cepat lagi transparan, termasuk juga kebohongan dan penipuan. Jadi sekali aja kamu berbuat curang atau manipulatif, berita itu akan cepat sekali beredar, dan akan sulit untuk memperbaikinya kembali. 

Setidaknya ada 3 (tiga) sikap yang harus kamu punya, dan lagi-lagi initialnya T-B-C, maksudnya biar kamu gampang mengingatnya, yaitu : T (trust), B (be friendly), dan C (care).

T (trust) – ini adalah sikap wajib untuk semua pebisnis. Yaitu menjadi orang yang dipercaya dan mampu menjaga kepercayaan dengan baik. Jadi pastikan semua product order dapat kamu penuhi dan sampai ke tangan konsumen dalam kondisi baik juga tepat waktu. Dalam hal ini, adalah penting buat kamu memiliki partner jasa pengiriman yang capable dan profesional, karena mereka inilah ujung tombak yang sangat menentukan citra pelayanan produk kamu di mata konsumen. 


B (be friendly) – saat mulai berbisnis, awalilah dengan niat yang ikhlas dan keinginan untuk menjadikan semua calon konsumen sebagai teman, dan realisasikan niat itu dengan mengembangkan sikap bersahabat. Dengan demikian, interaksi dengan mereka pun akan berlangsung lebih hangat dan akrab. Percaya deh, di tengah persaingan produk yang kian ketat dewasa ini, calon konsumen juga memiliki bargaining position yang lebih baik, mereka nggak mau lagi “sekadar” dianggap sebagai target penjualan, tetapi mereka juga merasa berhak untuk didengar dan dihargai. Selain itu, sikap be friendly juga dapat menaikkan tingkat kepercayaan konsumen terhadapmu, dan untuk kamu sendiri, sikap ini dengan sendirinya akan memunculkan sikap yang berikutnya secara alamiah, yaitu C (care).


C (care) – adalah penting buat memiliki rasa peduli yang besar terhadap konsumen. Pasti sudah nggak asing ‘kan, bahwa perusahaan-perusahaan juga menerapkan konsep care ini dalam interaksinya dengan konsumen, antara lain melalui program-program CSR (Corporate Social Responbility) dalam bentuk beasiswa dan bantuan sosial, atau pun memberi penghargaan terhadap konsumen yang loyal. Kamu juga bisa mengembangkan sikap care ini dalam konsep digital dengan cara yang sederhana tetapi berkesan, seperti mengucapkan selamat ulang tahun kepada konsumen, memberikan gratis ongkir atau diskon harga untuk konsumen yang udah lima kali memesan misalnya, sesekali memberi komentar untuk status-status konsumen yang sekaligus juga teman anda di sosial media (ingat, senantiasa hargai dan perlakukan konsumen sebagai teman, kembangkan sikap be friendly secara optimal dan tulus), posisikan dirimu sebagai konsumen saat ada konsumen yang mengeluh akan pelayananmu, dengan cara ini kamu akan mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi keluhan tersebut, juga secara intuitif dapat melakukan promo pada waktu dan tempat yang tepat pula.

  1. C (capability) atau kemampuan
Wah, jangan kerut kening dulu dong mendengar kata capability. Jika kamu udah punya sikap yang baik, yakin deh, capability ini akan lebih gampang untuk dipelajari dan diterapkan. Untuk poin ini, saya akan mengutip beberapa prinsip marketing berbasis human spirit sebagaimana yang dikemukakan Hermawan Kartajaya, presiden World Marketing Association, yang dapat kamu aplikasikan dalam bisnis di era kontemporer dengan konsep digital. Untuk lebih mudahnya, kali ini saya menggunakan initial 4C – connected, communities, character, and collaborate. Berikut penjelasannya :

Connectedpastikan dirimu selalu terhubung dengan calon konsumen. Jangan biarkan calon konsumen menunggu lama untuk jawaban atas order mereka, karena pergerakan menit bisa merubah pikiran seseorang. Pastikan juga dirimu selalu available di dunia maya khususnya sosial media, antara lain dengan rutin mengupdate status atau twit tentang produkmu. Status nggak hanya berisi promo, tetapi juga variasikan dengan tips-tips dan khasiat produk, dengan demikian, ada take and give yang didapat konsumen darimu dan konsumen nggak hanya sekadar menjadi target penjualan semata.

Hermawan mengatakan, bahwa pada era ini, terkoneksi dengan konsumen, pesaing dan perubahan adalah kemutlakan. Tujuannya adalah agar para pemasar selalu memahami apa yang menjadi kebutuhan konsumen termasuk perubahannya.

Dengan demikian, di dalam konsep digital, pemilihan provider internet yang dapat mendukung kemampuan koneksimu secara optimal pun menjadi suatu kemutlakan.

Communitiesjangan anggap remeh keberadaan komunitas di dunia maya. Justru kamu harus jeli mengidentifikasi komunitas mana yang paling tepat untuk sasaran produkmu. Misalnya saja, komunitas ibu rumah tangga, adalah target paling pas untuk jenis produk pakaian, tas dan barang-barang kebutuhan rumah tangga. Komunitas penulis dan pecinta buku, adalah target untuk produk berupa buku dan jasa penerbitan indie. Setelah mengenalinya, berinteraksilah secara kontinyu dengan mereka dengan cara yang bersahabat, libatkan diri seutuhnya dan bangun rasa nyaman mereka atas keberadaanmu, sehingga ketika kamu melakukan promo, mereka nggak akan merasa terganggu, sebaliknya ketika mereka membutuhkan produk, mereka akan terlebih dulu menghubungimu ketimbang orang-orang yang ada di luar komunitas.

Character – karakter diperlukan sebagai identifikasi diri dan produk secara cepat di mata konsumen. Juga untuk memberi nilai plus bagimu dibandingkan produk pesaing. Karakter yang matang bisa terbentuk dengan konsep yang baik sejak dini dan dibangun secara concern. Misalnya nih, kamu menyelipkan kartu mini berisi ucapan terima kasih pada setiap produk yang kamu kirim ke konsumen. Kesannya sederhana, tetapi dapat membentuk stigma yang melekat kuat pada si konsumen. Akan lebih baik lagi jika karakter itu bisa kamu bangun dalam hal pelayanan. Dan lihatlah hasilnya : Suatu hari ada yang nanya ke salah satu konsumen kamu, pesan baju gamis yang bagus dan murah di toko online mana ya? Lalu si konsumen akan bilang, di A shop aja, pelayanannya cepat dan harganya paling bersaing. Atau jika kamu adalah penjual buku-buku bekas, ketika salah satu konsumenmu ditanya oleh konsumen lain yang juga butuh buku bekas, maka si konsumen akan menjawab, pesan di si B aja, buku bekasnya kondisinya masih bagus, beda tipis aja dengan yang baru, diplastikin lagi.

Nah, betapa kepedulian terhadap hal-hal sederhana namun dibangun secara konsisten akan memberi kontribusi positif pada pembentukan karakter produkmu, bukan?

Lalu, bagaimana dengan creativity? Tidakkah itu juga penting dalam bisnis? Ya. Creativity atau kreativitas juga penting, bahkan sangat penting, namun dalam poin ini, saya cenderung menggolongkannya sebagai sub bagian dari character, karena sevariatif apa pun bentuk kreativitas yang kamu lakukan, kreasi dan inovasi itu sebaiknya harus tetap mengacu pada karakter produk agar produkmu bisa memiliki performa yang spesifik hingga mudah dikenali, dan percaya deh, saat kamu udah sepenuhnya bergelut dalam bisnis, kreativitas ini akan berkembang secara natural seiring dorongan dari dalam diri kamu untuk tetap bisa survive dan tidak kalah dalam persaingan.

Collaborate – bisnis yang dibangun oleh human spirit otomatis membutuhkan kerjasama positif dalam pengembangannya. Maka dengan melakukan kerjasama dapat memperluas jaringan dan menambah daya jangkau produk. Dalam konsep digital, bentuk kerjasama yang dapat kamu lakukan, antara lain dengan saling bertukar banner promo di blog, melakukan penjualan produk online bersama jika lokasinya memungkinkan, atau pun menggabungkan promo online dan offline, misalnya produkmu mensponsori even-even tertentu yang digelar secara offline.

Sampai di sini, mungkin nggak sedikit dari kamu yang akan bilang : ah, itu ‘kan teori. Prakteknya nggak segampang itu.

Nah, khusus buat kamu yang berpendapat begitu, berikut ini saya akan sedikit mengulas pengalaman saya dalam berbisnis dengan konsep digital. Dan ini bukan tentang pengalaman yang muluk, seperti halnya promo tentang bisnis online yang bisa meraup puluhan juta dalam sebulan. Bukan. Sama sekali bukan itu. Melainkan hanya sebuah pengalaman sederhana yang mudah-mudahan bisa kamu ambil pelajaran darinya.

Pertama kali saya mengenal dan membuka akun di sosial media (facebook), adalah pada akhir 2009, namun saya baru menggunakannya untuk berbisnis pada sekitar pertengahan 2010 hingga sekarang. Itu pun hanya sebagai selingan semata. Saya juga memiliki akun twitter dan blog, tetapi keduanya hanya saya fungsikan secara personal.

Bisnis saya masih ada hubungannya dengan profesi sampingan saya, yaitu menulis. Dan bisnis ini pun frekuensinya sangat jarang, karena saya baru melakukan promo dan penjualan setiap kali buku saya terbit, termasuk buku-buku bekas dari koleksi pribadi. Sejak akhir 2009 sampai sekarang, saya baru menghasilkan enam novel, beberapa antologi, dengan hanya satu antologi yang saya jual secara intens. Jadi, jika diambil rata-rata, dalam kurun waktu dua tahun, saya menerbitkan buku per sekali dalam empat bulan. Dan hanya dalam periode itu jugalah saya baru melakukan promo dan penjualan secara online melalui media facebook, yaitu rata-rata sekali dalam empat bulan. Dan sejauh ini, pencapaian penjualan saya adalah 500an eksemplar untuk novel dan antologi, 100an judul untuk buku bekas.

Bagi kamu, itu memang bukan jumlah yang fantastis dan “wow”, tetapi jika kamu membaca dari awal tentang frekuensi penjualan saya yang sangat minim, tidakkah angka penjualan itu cukup signifikan? 

paket buku yang siap diantar ke pemesan

Dan sekarang bayangkan jika kamu adalah seorang pemilik toko online yang memiliki waktu konsisten rata-rata 1-2 jam per hari untuk melakukan promo dan penjualan, kamu juga memiliki multiproduk untuk ditawarkan, berapa banyak potensi jumlah dan profit yang bisa kamu capai? Mungkin, angka 500 eksemplar di atas bisa kamu tembus hanya dalam tempo sebulan saja.
Dan anggaplah dari rata-rata eksemplar yang terjual, saya bisa mengambil laba Rp.5.000,-. Bayangkan dengan penjualan 500 eksemplar yang bisa kamu tembus dalam sebulan, profit yang kamu dapat cukup lumayan, bukan? Apalagi, kalau produk yang kamu jual memiliki harga dan laba yang lebih besar, maka semakin besar pulalah potensi keuntungan bakal kamu raih.

Meskipun bisnis saya hanya berlangsung secara temporer dan frekuentif, saya tetap mengacu pada semua teori yang udah saya jabarkan di atas. Saya memiliki perangkat berupa gadget, provider, blog dan akun di sosial media. Saya juga cukup berhati-hati dalam sikap, menjalankan prinsip 4C secara natural dengan bergabung pada komunitas yang solid, menganggap dan memperlakukan para anggotanya sebagai teman baik, berusaha untuk selalu terkoneksi dengan sosial media facebook, dan tentunya membuka peluang kerjasama selebar-lebarnya kepada siapa pun yang ingin berbisnis dengan konsep digital dan prinsip mutual.

Sejauh ini, alhamdulillah bisnis saya masih terus berjalan baik, saya memiliki konsumen yang loyal di samping terus menambah konsumen baru, dan lebih dari itu, saya juga mereguk manfaat lain seperti peluang untuk memperluas jaringan silaturahim dan pertemanan, ter-update dengan info-info seputar dunia penulisan dan bidang-bidang penting lainnya, memotivasi diri melalui publikasi catatan-catatan inspiratif, dan lain-lain.

Jadi, dengan begitu banyak manfaat yang bisa kamu dapatkan dari konsep digital dalam berbisnis dan begitu mudah pula untuk menjalankannya, masihkah ada alasan untuk menunda start-up your business?
Sebagai penutup, inilah formula sederhana konsep digital untuk start-up business yang dapat kamu jadikan panduan sekaligus sebagai kesimpulan dari uraian ini :

(2) TBC + (4) C = S to S

           Simply. Easy. Surely you can do!

Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti "Melek Digital untuk Startup Business Blog Competition" yang diadakan oleh Axis.

17 comments:

  1. Replies
    1. Trims mama hawna udh nyempetin mampir :-)

      Delete
  2. Wah, kereeeeen tulisannya. Komplit banget.
    Good luck ya mbak

    ReplyDelete
  3. Wow... lengkap, dan formulanya oke banget. gutlak Mbak, aku padamu dah ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Ci, amiin, nunggu artikel oci :-)

      Delete
  4. Ikut di barisan yg kagum sm tulisan ini..
    Asli.. keren banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trims mbak udh ninggalin komen, walau kena capcay pantang mundur :-)

      Delete
  5. Waduh baca ini jadi minder, asli keren bgt. Semoga menang ya :)

    ReplyDelete
  6. wah, keren mbak. jadi penasaran sama bisnisnya mbak Lyta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisnisnya mah pas buku baru terbit aja mbak, hihi :-)

      Delete
  7. wow, keren banget.. alamat menang nih.. Aamiin :)

    ReplyDelete