Riawani Elyta: PRODUKTIVITAS vs TIME SCHEDULING

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 2 October 2012

PRODUKTIVITAS vs TIME SCHEDULING

Satu tahun bisa menulis beberapa buku? Ini bukan hal yang mustahil. Tetapi, mohon untuk menggarisbawahi kata menulis, ya, menulis, bukan menerbitkan. Karena menerbitkan adalah hal lain lagi. Di dalamnya ada faktor keterlibatan elemen-elemen lain selain penulis yang akan mempengaruhi terbit tidaknya sebuah buku, dan kalau terbit, berapa lama satu buku akan memakan waktu sebelum layak dilempar ke pasaran. Buku yang ditulis berdasarkan pesanan atau kontrak, mungkin penerbitannya tidak akan memakan waktu terlalu lama, karena sudah punya tenggat jadwal terbit, tetapi kalau untuk naskah yang baru diusulkan oleh penulis kepada penerbit, ini sangat relatif.

Buat teman-teman yang ingin serius menulis (buku), tak ada salahnya untuk mulai menerapkan time scheduling dalam menulis sehingga produktivitas bisa berlangsung stabil dan mood menulis pun insya Allah bisa terjaga. Percaya deh, membiarkan satu naskah nggak selesai dalam jangka waktu lama bisa bikin kita males untuk menyelesaikannya :)

Apa yang akan saya bagi ini, juga mohon digarisbawahi bahwa ini lebih layak disebut cita-cita, bukan suatu pedoman yang sudah saya terapkan berkali-kali. Sejauh ini, saya masih penulis yang fleksibel, dalam artian kecepatan menulis sangat tergantung pada deadline, kalau deadline nya mepet, ya nulisnya dipaksain supaya cepet, kalo lama, ya molor2 teruslah jadinya :)

Setiap orang juga pastinya punya kecepatan yang berbeda-beda saat menulis. Jadi time scheduling di bawah ini, saya susun berdasarkan kecepatan rata-rata saya saat menulis. Yang bisa lebih cepet dari ini, ya silahkan saja, namanya juga time schedule emak2 plus pekerja, jelas bukan patokan yang standar :) 

1. Perencanaan (1 - 2 minggu)
Jangan pernah mengabaikan step yang satu ini. Karena dengan perencanaan yang baik, maka resiko menghadapi writer's block bisa diminimalisir dan proses menulis pun bisa lebih terkontrol.
Pada tahap ini, yang perlu kita persiapkan adalah pondasi dari sebuah buku, meliputi : sinopsis, outline per bab, referensi yang diperlukan, karakter, alur, plot dan setting (untuk penulisan novel), dan sebagainya.

2. Proses penulisan (2 - 3 bulan)
Dengan asumsi dalam sehari anda bisa menulis rata-rata 2-3 halaman dan total halaman buku yang akan ditulis berkisar pada 150 - 180 hal A4. Jika ada hari yang bolong menulis, sebaiknya segera ditutupi kebolongan itu pada hari yang lain. 
Pada tahap ini, rintangan terberat adalah menjaga ritme dan kedisiplinan dalam menulis. Setiap orang punya cara berbeda dalam menjaga ritme ini. Kalau saya, charge yang paling penting adalah buku. Jadi, sepanjang proses menyelesaikan sebuah buku/novel, saya membaca sekurang-kurangnya satu buku sebagai pendamping. Juga penting untuk menetapkan deadline untuk diri sendiri. Jika terserang rasa malas, lelah, dsb, berhentilah sejenak, tetapi jangan kelamaan dan keenakan, karena menciptakan kebolongan jeda menulis yang terlalu lama bisa mengurangi kemampuan dan semangat.

3. Masa jeda (1-2 minggu)
Setelah menyelesaikan sebuah naskah buku, tinggalkan naskah anda dan lupakan. Kondisikan pikiran kita sampai mengalami rada2 amnesia dengan tulisan kita sendiri. Gunanya adalah agar pada tahap berikutnya kita bisa menilai tulisan kita dengan kacamata yang lebih objektif sehingga bisa lebih jeli saat mengoreksi kekurangan dan kesalahan.

4. Masa baca ulang dan koreksi/edit (1-2 minggu)
Gunakan tahap final ini untuk membaca saksama naskah anda dan melakukan koreksi terhadap hal-hal yang dirasa kurang atau meleset.

Jadi, secara keseluruhan, tahap2 penulisan buku dengan standar di atas berlangsung untuk 3-4 bulan, atau menulis 3-4 buku dalam setahun. Bagi yang menulis novel, mungkin pernah mengalami, tiba-tiba di tengah jalan mendadak muncul ide untuk merubah jalan cerita. Silahkan saja! Tetapi tetap berpedoman pada sinopsis yang telah dibuat. Kalau perlu buat cabang2 rencana. Saya ingat waktu kecil dulu sering baca buku cerita yang endingnya ditentukan sendiri. Jadi setelah baca sampe halaman sekian, ada perintah, kalo mau lanjut A ke hal. sekian, kalo mau lanjut B ke hal. sekian, dst. Nah, kira2 seperti itulah cabang2 yang bisa kita rencanakan jika hendak sedikit bergeser dari rencana semula.

Sampe sini dulu ya. Semoga bermanfaat ^_^





6 comments:

  1. artikelnya manfaat banged buat motivasi saya untuk menulis. terimakasih

    ReplyDelete
  2. Terima kasih untuk berbagi ilmunya mbak. Sangat bermanfaat banget nih. Membantu membangkitkan semangat menulis lagi :)

    ReplyDelete
  3. makasi infonya mba, oya ada contoh cara bikin outline ga?

    ReplyDelete
  4. aq sudah melaksanakan pekerjaan ini. dah lama. sekarang kubiasakan mernulis 1/2 jam per hari untuk buletin lokal yang kutangani. satu buku dah terbit berjudul Wisata ziarah jawa madura 1. Tapi tuk yang ini, akan kucetak sendiri,

    RM ismunandar C
    qqq,pwenulissukses.com/?id=raden

    www.epistyo.blogspot.com

    ReplyDelete
  5. terima kasih tips-nya ya mbak....:)

    ReplyDelete
  6. Di paragraf terakhir itu kayaknya Pernah baca bukunya R.L Stine: Goosebumps- Misteri Selai Kacang Ungu kalau gak salah :)

    Salam kenal...

    ReplyDelete