Riawani Elyta: Bab 5 dari Bagian 3 - Yang Kedua

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 20 September 2012

Bab 5 dari Bagian 3 - Yang Kedua

Tempo hari saya udah memposting bagian cerita yang tidak ditampilkan dalam versi cetak novel Hati Memilih. Kali ini saya akan memposting bagian yang juga mengalami nasib serupa dari novel saya Yang Kedua, alias tidak ditampilkan saat sudah naik cetak, lebih kurang dengan alasan yang sama, yaitu untuk efisiensi cerita. Bagi yang udah baca, selamat menebak, kira2 cerita ini berhubungan dengan siapa  dan siapa pemuda dalam penggalan kisah ini ^_^   Ini dia :

-------------------------------------------------------------



Suatu pagi, tujuh tahun silam,
Pria itu duduk di sofa dengan gelisah. Sesekali menyatukan buku kedua tangannya dan meremas jemarinya. Memutar matanya pada sekeliling dengan ekspresi mengambang, tanpa ada selera apalagi rasa tertarik. Karena sesungguhnya ia pun telah hafal nyaris setiap inchi dan lekuk liku ruang tamu rumah ini. Rumah tua yang menjadi destinasinya setiap kali ia menginginkan keberuntungan terjadi pada dirinya, ataupun saat ingin menghindarkan diri dari hal-hal yang ia benci.
Terkadang, nasehat guru agamanya saat SMA dulu sempat bergaung di telinganya. Jangan pernah menggantungkan nasib pada selainNya. Ataupun meyakini kebenaran ramalan terhadap peristiwa yang belum terjadi. Namun nasehat itu setiap kali pula harus terkalahkan oleh keinginannya untuk lagi-lagi melangkah kemari.
“Sudah lama?” Teguran suara berat itu mengakhiri gelisahnya. Ia berdiri. Menyalami seorang pria seusia ayahnya yang menghampirinya dari belakang. Pria bertubuh gemuk itu lalu duduk di kursi sofa dihadapannya dan mulai menyalakan cerutunya.
“Lumayan,” Ia menjawab singkat. Dari ekspresi wajahnya jelas tergambar bahwa kali ini ia tak ingin terlalu lama berbasa-basi.
“Ada apa lagi sekarang? Ingin mendapatkan perempuan yang kau incar, hm?” Pria itu mengepulkan asap cerutunya, menatapnya dengan tatapan menyimpan senyum.
“Bukan. Malah sebaliknya. Aku justru ingin mencari cara agar bisa terlepas dari wanita yang akan dijodohkan denganku.”
“Oh ya? Menarik sekali. Tidak menyangka ayahmu punya niat ‘suci’. Lalu, kenapa kamu berpikir untuk menolaknya?” Pria gemuk itu menyandarkan punggungnya ke sofa. Tatapannya menyipit memandang pria muda didepannya yang mulai menggaruk-garuk pipinya dengan gelisah.
“Bukan ayahku. Tapi ibuku.” Suaranya meriap getir. “Penyakit komplikasinya membuat akhir-akhir ini kondisinya terus menurun. Katanya, dia ingin aku menikah sebelum dia meninggal. Dan sudah sejak sebulan ini, tiada hari tanpa bibirnya menyebut permintaan konyol itu.”
“Lalu?”
Ia terlebih dulu menghembus nafasnya kuat-kuat sebelum menjawab. “Aku mengenal baik wanita itu. Dia tetangga kami sejak kecil. Sebenarnya, dia cantik, juga baik, sayang, belum lama ini rahimnya harus diangkat. Ada infeksi ganas menyerangnya. Begitu yang aku dengar. Sebenarnya aku tak terlalu ambil pusing dengan rahimnya, hanya saja, aku belum ingin menikah! Dan sekarang, aku yang jadi bingung sendiri. Apapun caranya, aku ingin pernikahan itu nggak pernah ada!”
“Boleh....aku lihat foto wanita itu?”
Ia lalu mengeluarkan dompetnya. Telah belasan kali datang kemari membuatnya hafal luar kepala apa yang harus ia bawa setiap kali datang untuk meminta pertolongan.
Pria separoh baya itu sejenak mengamati selembar foto yang telah berpindah ke tangannya. Tampak serius saat jemarinya membolak-balik dan matanya membeliak lalu kembali menyipit.
“Saranku, sebaiknya kau penuhi saja permintaan ibumu.”
“Apa?” Saran itu tak urung membuatnya nyaris terlonjak.
“Ya. Menikahlah dengannya. Dia keberuntungan untukmu. Meski dia tak bisa memberimu keturunan, tapi dia adalah dewi fortuna untukmu mereguk gelimang materi. Yang perlu kau lakukan hanya bersabar, dan bawa ia pergi jauh dari keluarganya. Aura wajahnya menghembuskan isyarat bahwa kalian akan lebih cepat kaya kalau terbentang jarak dari orang-orang yang selama ini ada di sekelilingnya.”
Ia terhenyak. Tak menyangka kalau ‘analisa’ pria andalannya itu hari ini justru menghasilkan alternatif yang sangat kontradiktif dengan keinginannnya.
Tapi, apa alibi yang pantas ia tegakkan untuk membantah atau menolak? Sementara selama ini nyaris semua kemujuran yang ia raih ataupun menghindarkan diri dari kesialan, diakuinya tak terlepas dari campur tangan pria ini?
“Sekarang pulanglah. Katakan ‘ya’ didepan ibumu sebelum dia menemui ajalnya dan kau hanya bisa menangisi penyesalanmu. Dan ingat, setelah ini, jangan pernah lagi hubungi aku. Sudah saatnya kau bertobat anak muda, sebelum Tuhan menghukum kita berdua atas semua kerjasama kita yang begitu solid selama ini, heheheh...”
Pria itu terkekeh-kekeh. Kekehan yang berubah menjadi tawa lebar saat selembar amplop tebal menyelip manis dalam genggaman jemarinya yang gempal. Mengiringi kepergian sang pemuda dengan ekspresi yang sama sekali berbeda dengan saat kedatangannya beberapa menit lalu.

4 comments: