Riawani Elyta: Move On (part 2)

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 13 August 2012

Move On (part 2)

Apa yang biasanya dilakukan orang-orang saat pindah? Berbenah? Ngepak barang-barang untuk kemudian mengaturnya kembali di rumah baru? Khusus untuk kepindahan yang ini, saya memutuskan untuk tidak mengangkut barang-barang saya yang masih ada di rumah lama, kecuali hanya beberapa saja yang saya anggap penting, foto-foto cover buku misalnya. Kenapa? jujur, saya emang rada gaptek, jadi kalaupun nantinya akan ada fasilitasi untuk memindahkan semua barang-barang di rumah lama dengan mudah, jika tutorialnya tidak lengkap, saya pun malas menggunakannya. Pindah manual? Wah, maaf saja, waktu saya terbatas untuk itu. Untungnya, semua barang-barang di rumah lama, rata-rata punya salinan di PC file ataupun catatan fesbuk. Entahlah kalau nanti kedua "rumah" ini pun hilang lenyap, wallahu alam :)

Mengawali langkah di rumah baru, saya memilih untuk membuka lembar yang baru meninggalkan jejak yang baru pula. Dan saya ngeblog kali ini juga bukan sekadar asal ikut-ikutan atau trend-trendan. Saya ingin rumah yang sekarang sekaligus bisa merepresentasikan diri saya, mudah-mudahan juga bisa membentuk a good brand buat saya dan saya bisa menjadi tuan rumah yang baik, yang nggak sekadar mengajak teman-teman untuk mampir dan menyuguhkan cemilan ringan tetapi juga memberi mereka oleh-oleh yang bermanfaat.

Maka, berbeda dengan ketika memasuki rumah yang lama saat pertama kali, saya hanya asal beri nama, asal pasang foto, karena waktu itu niatnya ngeblog emang hanya karena mau ikut lomba, walaupun kemudian cukup banyak juga yang saya lakukan di sana, nulis resep kue dan tips-tips nulis simpel ala saya, juga promo-promo buku. Kali ini, untuk memilih label blog pun saya berpikir sampai semalaman, mulai dari memikirkan kalimat yang panjang lebar, yang bombastis, sampai akhirnya pada menit-menit menjelang masuk rumah baru, saya memutuskan untuk menggunakan label yang cukup singkat : H.A.L.T.E.
Label ini pun saya edit dua kali, dengan memberi titik-titik sebagai pemisah antar huruf, karena biar cuma titik, ternyata efeknya cukup besar untuk memaku sejenak visual kita pada makna yang tersirat dibalik sepotong kata itu, dibandingkan hanya sekadar memajang kata 'halte' yang pastinya akan dibaca sekali lewat saja.


Tak hanya terinspirasi karena tiap hari saya harus nunggu bis di halte, tetapi juga karena kata Halte akan selalu mengingatkan saya pada tagline yang saya cantumkan di bawahnya, bahwa hidup itu hanya sebuah persinggahan, jadi saya nggak boleh ngoyo, nggak boleh berorientasi poll pada dunia yang notabene hanya jadi tempat singgah, seperti juga halte yang saban hari saya singgahi, menanti bis yang akan membawa saya ke kantor. Tak ada penunggu permanen di halte itu, termasuk para ojekers yang ngetem sekalipun, semua orang mampir di sana silih berganti. Begitu pulalah hidup kita, yang tetap akan berakhir di satu titik bernama kematian. Kita hanya menunggu giliran, siapa yang lebih dulu dibawa dan siapa yang lebih lama tinggal. Semoga kita bisa tetap meluruskan niat agar menjadikan setiap detik dalam hidup kita berharga dan berorientasi pada ridho Allah swt. Amin.


9 comments:

  1. "hidup itu hanya sebuah persinggahan, jadi saya nggak boleh ngoyo, nggak boleh berorientasi poll pada dunia yang notabene hanya jadi tempat singgah" <-- Betul sekali. :) Terima kasih sudah diingatkan. :)

    ReplyDelete
  2. Sama2, tks dh mampir, maaf msh kosong blognya, baru pndah sini, biasanya q di mp

    ReplyDelete
  3. bagus, mba ... :)
    semoga betah di rumah baru ;p

    ReplyDelete
  4. makasih dah mampir risa, amiin :)

    ReplyDelete
  5. tulisan yang lama diimpor aja mpok kesini :)

    ReplyDelete
  6. mba lyta.... akhirnya aku move on juga dan buat blog di Blogspot. hehew..

    Sari Ai Semangka ^^

    ReplyDelete
  7. welcome juga Sari Ai, thank you Nyi :)

    ReplyDelete