Riawani Elyta: KALI INI, MARI BICARA TENTANG NASKAH NOVEL YANG DITOLAK (Part 1)

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 28 August 2012

KALI INI, MARI BICARA TENTANG NASKAH NOVEL YANG DITOLAK (Part 1)

 “Kok yang nongol namanya itu-itu aja sih?”
“Kok selalu menang sih?”
Uwaah...kate siape gak pernah kalah? Sering malah. Berhubung dah kebal aje makanya gak inget lagi berapa rekor kekalahan udah dicetak.
Naskah ditolak? Gak kalah sering juga tuh.
Singkat cerita...one day aye dapet surat cinta dari penerbit, tapi bukan surat cinta yang ngabarin kalo naskah aye diterima, melainkan sebaliknya, belum layak terbit, alias DITOLAK!
Kecewa?
Kok enggak ya? *sambil pegang kening, mudah-mudahan masih normal*, berhubung didalam surat cinta itu diselipin poin2 apa yang bikin naskah novel aye belum berhasil bikin penerbit jatuh hati.
Tanpa perlu nyebutin nama penerbitnya, aye mau berbagi poin2 tsb, poin yang biasanya jadi standar penerbit saat membaca sebuah naskah novel, meski setiap penerbit punya standar dan segmen yang berbeda-beda. Mudah-mudahan aja bisa berguna buat siape aje yang berniat pengen ngirim naskah (novel) ke penerbit label
1.      Tema menarik / baru / sesuai target
Tak dipungkiri, masih banyak tema-tema yang itu2 saja mewarnai peredaran novel tanah air, namun harus diakui pula kalau kapasitas dan jam terbang penulis sangat berperan dalam memetamorfosa tema yang kadung ‘biasa’ ini menjadi sesuatu yang menarik. Jadi kalau masih dalam kapasitas pemula kaya’ aye nih, mau gak mau ya kudu nampilin something new untuk terlihat berbeda dan pd tahap awal setidaknya dilirik dulu deh ama yang nerima naskah .

2.      Bab awal yang menarik
Ayo, bikin start yang semenarik mungkin! Hindari opening yang lambat dan bertele-tele, menurut Sefryana Khairil, bahwa bab pertama harus sudah mencerminkan konflik, dengan begitu pembaca akan tertarik untuk terus membuka lembar demi lembar. Kebayang ‘kan apa jadinya kalau naskahmu baru ‘bergerak’ setelah masuk lembar kesepuluh sementara baru di lembar kelima yang baca naskah udah bosen? Jadi gak kebaaaca deh sisanya yang kali aja sebenarnya jauh lebih bagus

3.      Karakterisasi kuat
Jangan pernah nyepelein karakter tokoh, gitu deh kira-kira. Pernah ketemu ‘kan novel yang karakter tokohnya inkonsisten? Walhasil yang baca juga bingung dan ngerasa ada sesuatu yang kurang sreg meski cerita udah dikembangkan dengan baik. Penokohan yang kuat bisa digambarkan melalui deskripsi dan dialog, jadinya emang alangkah baiknya kalau sebelum memulai nulis, karakter tokohnya udah disetting terlebih dulu

4.      Setting cerita hidup dan mendukung
Setting waktu dan tempat emang kudu harmonis ama cerita, selain juga kudu detail dan masuk akal. Penggambaran setting juga bisa nambah poin plus dari keindahan sebuah novel sepanjang dikembangkan dengan baik dan proporsional. Umumnya setting bisa lebih hidup kalau sang penulis emang pernah ngerasain ‘ada’ didalam setting tsb, kaya’nya AAC-nya kang Abik tuh, berhubung yang nulis emang pernah ngerasain hidup di Mesir, jadinya ya klop banget ama ceritanya yang emang setting dan alur ceritanya sebagian besar mencerminkan pengalaman hidupnya selama di Mesir. Namun meski temans nggak berada di setting tempat dan waktu yang diinginkan untuk ditulis, masih bisa disiasati dengan ngumpulin info sebanyak2nya baik melalui buku2 referensi maupun dari internet, tinggal lagi bagaimana menyusunnya supaya terkesan smooth dan nggak terkesan seperti reportase

Bersambung

No comments:

Post a Comment