Riawani Elyta: Momen Terbaik yang Berawal dari Rasa Kecewa

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Sunday, 2 June 2019

Momen Terbaik yang Berawal dari Rasa Kecewa

Saat menyebut momen terbaik, asumsi kita biasanya akan tertuju pada sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, pencapaian prestasi, terpenuhinya cita-cita dan impian, dan sebagainya. Namun, sesungguhnya momen terbaik tidak melulu tentang sesuatu yang mendatangkan kegembiraan. Hal yang sebaliknya pun bisa saja menjadi momen terbaik dalam kehidupan kita, sepanjang kita ikhlas menerimanya dan dibukakan mata hati olehNya tentang hikmah dibalik momen tersebut.

Singkat cerita, momen terbaik yang saya alami pada Ramadan tahun ini, bukanlah sesuatu yang membuat hati saya berbunga-bunga, sebaliknya, momen ini adalah momen yang meruntuhkan air mata kekecewaan saya. Tidak tanggung-tanggung, saya butuh waktu seminggu untuk move on dari momen tersebut. Dalam kurun waktu seminggu itu, saya menjelma supersensitif dan superemosional. Setiap kali ingatan saya tertuju pada momen itu, setiap kali pula air mata saya menetes. Mungkin, ini dipengaruhi kondisi yang lagi PMS juga ketika itu. Seandainya dalam kondisi normal, rasanya saya masih bisa mengendalikan diri.

Lantas, momen apa itu....yang sudah membuat saya menjadi begitu kecewa? Dan dimana letak “terbaik”nya?

Hari itu, 8 Mei 2019, tepat di hari ketiga Ramadan, pukul 10 pagi, saya ditelpon staf Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM, yang kemudian meminta saya hadir pada pukul 13 siang karena ada mutasi pejabat, dan saya termasuk salah satunya. Waktu itu, saya langsung merasa galau. Entah ini firasat atau apa, yang jelas, saya tidak merasa senang dengan panggilan mendadak ini.

Momen pelantikan itu dimulai sekitar pukul 14. Dan ketika nama saya dipanggil ke depan, diikuti nama jabatan saya yang baru, saya enggak tahu gimana harus melukiskan perasaan saya ketika itu. Tidak saya temukan rasa senang didalamnya. Yang ada hanya rasa kecewa, sedih, bahkan tidak terima.


Ya. Dinas baru yang bakal saya tempati, adalah dinas yang telanjur dianggap dinas buangan, punya pimpinan yang bla bla bla, para pegawainya yang bla bla bla, dan seterusnya. Saya enggak akan memerinci lebih banyak. Ini bulan Ramadan, sayang rasanya jika lapar haus saya hari ini harus tercemari dengan menuliskan hal-hal yang kurang baik tentang orang lain.

Mungkin ada yang langsung berkomentar, bukankah sebagai pegawai, harus siap ditempatkan dimana saja? Itu benar adanya. Sayangnya, pegawai juga manusia. Yang punya hati dan perasaan. Bukan robot atau mesin yang selalu siap menjalankan program  tanpa protes, tanpa baper, dan sebagainya.

Apalagi, jika kalian mengerti tentang psikologi kepribadian. Untuk tipe plegmatis seperti saya, kenyamanan adalah hal yang utama. Termasuk kenyamanan dalam lingkungan pekerjaan. Terhadap hal-hal yang bertentangan dengan rasa nyaman, seorang plegmatis lebih suka menghindar atau tidak terlalu melibatkan diri dengan lingkungan, karena dia malas berkonflik dengan orang lain.

Hari pertama saya datang ke kantor yang baru, persepsi diluar sana tentang kantor ini, ternyata memang tidak meleset. Setidaknya dalam sekian menit penilaian saya. Saya tidak mau berkomentar tentang personal, cukuplah saya gambarkan sedikit tentang suasana kantornya yang .....hehe, terlalu jadoel. Dengan eksterior-interior, jendela-jendela model dorong dan pintu-pintu kayu berpalang peninggalan tahun 70an, sebagian meubilier yang juga masih dari era yang sama, ditambah pula minus perawatan sehingga saat pintu didorong mengeluarkan bunyi derit, ada pintu yang kotorannya sudah lekat karena tidak pernah dibersihkan, MCK yang tidak layak untuk standar sebuah kantor dinas, dan sebagainya. (mohon maaf, saya tidak bisa menyertakan gambar kantornya, karena bagaimanapun, inilah “rumah” pengabdian saya sekarang).


“Maaf ya bu, disini ibu nggak punya ruang sendiri, tapi gabung sama staf yang lain,” ujar seorang Kepala Seksi saat mengantarkan saya ke ruangan. Saya hanya tersenyum hambar. Bayangan untuk setidaknya memiliki ruang sendiri – yang memang menjadi standar untuk Kepala Bidang – pupus. Bidang saya ini memang merupakan pecahan dari bidang yang sudah ada, sementara ruang yang ada tidak mencukupi, maka jadilah bidang ini hanya mendapat satu ruangan, bercampur dengan Kasi dan staf.

Ruangan jatah saya pun tidak terlalu besar. Luasnya kira-kira 4 x 6 meter, dan didalamnya terdapat 6 orang termasuk saya. Dan, “penyambutan” selanjutnya terhadap saya pun bukanlah sesuatu yang menghibur, tetapi sangatlah lugas. Seperti ini kira-kira : “Kenapa sih harus orang baru yang dipindahkan kesini? Kalau memang dipindahkan karena ada yang dipromosikan ke jabatan situ, harusnya yang dipromosiin dong yang dipindah kesini. Kalau yang pindah dari posisi eselonering yang sama, apalagi dari tempat yang nyaman, itu mah pembunuhan karakter! Bla bla bla.....”

Untungnya, setelah datang tanpa ekspektasi berlebih akan sesuatu yang menggembirakan, saya sudah lumayan siap menghadapi hal yang mungkin lebih buruk. Jadi, terhadap penyambutan tersebut, saya tidak terlalu merasa sedih atau tersinggung. Dalam hati saya berkata pada diri sendiri, “Welcome to the new reality and just face it!”.

Seminggu berlalu, dan segala cerita orang diluar sana tentang kantor ini memang banyak benarnya. Bahkan cerita yang mengalir dari pegawai yang sudah puluhan tahun mengabdi di sini, justru lebih sadis lagi, hehe.

Namun, pada titik inilah, saya merasakan ada sesuatu yang “berproses” didalam diri saya. Berawal dari emosi atas kekecewaan, (saya pernah membaca sebuah buku psikologi, bahwa jika kita mengalami sesuatu yang meledakkan amarah atau kesedihan, ekspresikan saja, akui kalau kita kecewa, jika kita langsung memasang tameng bahwa “kita kuat”, “kita mampu”, dan seterusnya, mungkin kita akan terlihat tegar di luar, namun bisa jadi sangat rapuh didalam, apalagi jika kita terlalu yakin dengan kekuatan sendiri hingga merasa tak perlu meminta pertolonganNya, di titik itu, kita justru menjelma seseorang yang arogan dimataNya. Wallahu’alam), lalu saya adukan semua rasa yang saya alami kepadaNya, saya mohon ampun, saya akui dihadapanNya bahwa saya terlalu lemah, sampai-sampai menghadapi yang seperti ini pun sudah down, dan diakhir doa, saya mohon pertolonganNya agar bisa kuat dan ikhlas menjalani realita yang memang harus saya jalani.

Saya minta kepadaNya agar hati ini ikhlas melepaskan semua kenyamanan dan hal-hal yang dulu membuat saya terlihat “mentereng”. (di kantor yang lama, saya mengenakan blazer, punya klien kalangan pengusaha termasuk pengusaha asing, sering turun lapangan ke resto dan hotel berbintang, jadi kesannya memang lebih “elit”, hehe).

Memasuki minggu kedua, saya mulai merasa lebih tenang. Hari-hari di kantor yang baru ini lebih banyak saya isi dengan sholat sunnah dan mengaji, dan perlahan-lahan, satu demi satu hikmah dan kesadaran itupun mulai merasuki benak saya.


Bisa jadi, inilah cara Allah “memanggil” saya untuk lebih mendekat kepadaNya (saya akui, tuntutan pekerjaan yang dulu membuat saya lebih duniawi-oriented ketimbang ukhrawi-oriented, kadang pekerjaan dibawa ke rumah, banyak bercampur baur dengan lawan jenis, dan sebagainya), teguran Allah atas kesalahan saya di masa lalu, juga ujianNya apakah saya mampu menghadapi ini dengan sabar dan syukur atau sebaliknya.

Saya akui, pada awalnya saya sangat kecewa dan tidak terima, namun perlahan-lahan, saya belajar ikhlas dan meyakini bahwa takdirNya untuk saya pastilah pilihan yang terbaik dariNya. Yang perlu saya lakukan kini adalah introspeksi, membangun keikhlasan itu hingga ke level paripurna dan tetap memelihara prasangka baik kepadaNya.

Dan hari ini, saat mendengar kata sambutan AHY di momen pemakaman ibunya, Ani Yudhoyono, kutipan beliau dari ucapan ibunya saat divonis menderita kanker sungguh membuat saya tertohok : “Saya telah ditakdirkan menjadi anak seorang pejuang, istri seorang jendral hingga menjadi ibu negara, sungguh saya tidak berhak mengeluh atas sakit yang saya derita, setelah Dia memberi saya begitu banyak kemuliaan dan berkah hidup.”

Astagfirullahal adzim.
Seharusnya saya juga demikian. Tidak ada keluhan yang pantas saya utarakan atas teguran kecil ini setelah Yang Maha Pengasih memberi saya begitu banyak dan sangat banyak kenikmatan hidup. 

Sungguh, buat saya, inilah momen terbaik saya pada Ramadan tahun ini. Momen ketika teguran kecil dariNya telah menggiring saya untuk lebih mendekat kepadaNya dan mata hati saya menjadi lebih terbuka akan makna syukur dan sabar.

Sungguh, kesulitan yang menginsyafkan itu justru lebih mulia daripada kenikmatan yang melalaikan. 

Dan sungguh, saya bersyukur karena Allah masih sayang sama saya, mau menegur saya saat alpa, membimbing saya untuk belajar sabar, dan tidak berlama-lama membiarkan saya terlena dalam kesenangan semu.

4 comments:

  1. semangat untuk pengabdian ditempat barunya mbak :)))

    ReplyDelete
  2. Thanx for sharing, Mbak.. Masya Allah, mencerahkan..

    ReplyDelete
  3. Barangkali dengan adanya mba di tempat baru justru jdi berkah buat bagian tersebut. Mereka dah lama nunggu agen perubahan, dan bisa jadi itu mba ^_^

    ReplyDelete
  4. I can relate to this too.. Tapi bedanya aku belum move on, sama juga mengalami hal yang gak enak di lingkungan kerja

    ReplyDelete