Riawani Elyta: Kaleidoskop 2018 : 5 (lima) Pencapaianku di Dunia Literasi

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Thursday, 3 January 2019

Kaleidoskop 2018 : 5 (lima) Pencapaianku di Dunia Literasi

Dulu, suami saya pernah bilang, "Sepertinya di usia 40 nanti, barulah mama meraih sukses dalam dunia menulis."

Ketika itu, saya menganggapnya hanya guyonan, tetapi dalam hati tetap meng'amin'kan.  Doa yang baik, tentunya harus kita pinta kepadaNya agar terkabul, ye 'kaan? :D


Tahun 2018 kemarin, Alhamdulillah, Allah perkenankan usia saya mencapai angka 40. Dan, entah ada hubungannya entah tidak dengan apa yang diucapkan suami saya dulu, Alhamdulillah, diluar dugaan dan rencana saya, pada tahun 2018 lalu, ada 5 (lima) momen yang - bolehlah saya menyebutnya - pencapaian yang spesial buat saya dalam dunia literasi. Ya. Buat saya. Buat orang lain, mungkin ini bukan sesuatu yang spesial.

Dan, sebagai ungkapan rasa syukur saya, inilah 5 (lima) momen tersebut, saya bagikan dalam postingan di awal tahun ini, yang mudah-mudahan malaikat tidak mencatatnya sebagai riya/pamer, dan mudah-mudahan sedikit banyak, ada inspirasi yang bisa diambil dari kelima momen ini, buat saya pribadi dan buat teman-teman yang udah berkenan mampir ke tulisan ini :

1. Finalis Islamic Book Fair Award 2018
Sudah lama saya mendengar akan even bergengsi dalam dunia perbukuan Islami yang digelar setiap tahunnya ini. Namun, belum pernah sekalipun saya bermimpi bahwa karya saya akan masuk didalamnya. Kalau ngarep sih pernah, hehe. Jadi, Alhamdulillah, benar-benar diluar dugaan saya, saat novel The Secret of Room 403 menjadi salah satu finalis untuk kategori fiksi dewasa IBF 2018 (beritanya bisa kalian baca di sini). Setelah pada tahun 2014, novel ini juga menjadi salah satu Pemenang Harapan LMNI yang diselenggarakan Indiva.

Ya Allah....meskipun baru jadi finalis, sulit bagi saya untuk menggambarkan suasana hati saya kala itu, bisa berada dalam deretan nominasi bersama penulis-penulis sekelas Sinta Yudisia, Maya Lestari, kang Abik dan lain-lain (penghargaan kategori ini tahun 2018 dimenangkan oleh Sinta Yudisia).

Buat kalian yang pingin baca novel ini, dan nggak ketemu di toko, kalian bisa pesan langsung ke Indiva, atau ke saya untuk versi bertanda tangan dan harga diskon, hehe (ah...tetap saja ujung-ujungnya kau promo, Lyt). :D

2. Launching perdana di kota kelahiran
Tak pernah terpublikasi sampai novel ke-17, inilah judul berita yang diliput koran lokal kala itu seputar launching novel ke-17 saya, Love Catcher. 
 Iya benar. Saya baru berani me-launching novel di kota kelahiran saya sendiri untuk novel ke-17 terbitan Gagas Media ini. Lalu ....yang sebelum-sebelumnya? Memang tidak pernah. Saya berprinsip, biarlah karya saya saja yang dikenal dan dibaca, orangnya enggak ngetop juga enggak apa-apa. Curahan hati saya tentang ini sudah pernah saya tulis di sini.

Kalian belum punya novel ini dan males nyari di tobuk?. Tunggu aja update saya di FB ya, in sya Allah, saya akan jual novel ini dengan harga diskon (teteeep....promo). :D


3. Narasumber pada Even Promosi Minat Baca Kabupaten Bintan 
Even yang digelar Pemkab Bintan pada 30 Juli 2018 ini, menjadi salah satu even dengan audiens terbanyak buat saya, sepanjang sejarah saya menjadi narasumber dalam dunia literasi. Tidak kurang dari 300an pelajar se-Kabupaten Bintan hadir dalam acara ini. Liputan acara ini bisa kalian baca di sini.

Dan kembali, saya mengalami sesuatu yang diluar ekspektasi. Yang membuat saya untuk sesaat merasa jadi seleb dadakan, dengan para audiens yang berebut minta foto bersama dan tanda tangan.  Antusiasme begitu besar yang ditunjukkan oleh para peserta berhasil menyalakan optimisme saya bahwa literasi tetap punya tempat bagi generasi ini di tengah gempuran teknologi informasi dan segala hiburan yang dibawanya.








4. Narasumber pada Temu Tokoh Literasi Nasional
Rasanya seperti mimpi....bisa duduk bersama sebagai narasumber dengan tokoh sastra sekelas Gola Gong, pada acara yang digelar oleh Kantor Bahasa Kepulauan Riau ini. Pada even ini, kami saling berbincang dan berdiskusi tentang dunia literasi, kiat-kiat untuk memajukannya, dan saling berbagi pengalaman kepada para peserta, tentang segala yang kami lalui selama berkecimpung di dunia literasi ini. 



Beberapa hari sebelumnya, saya juga menjadi narasumber pada Bimtek Penulisan Bahan Ajar yang digelar oleh lembaga yang sama.




Sungguh, kedua even ini pada akhirnya membuat saya merasa dihargai sebagai bagian dari insan literasi di tanah melayu Kepulauan Riau, setelah selama bertahun-tahun, saya sempat mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan di kota kelahiran sendiri terkait aktivitas literasi. Tentang hal ini, tak perlulah saya ceritakan. Toh semuanya sudah "terbayar" lunas pada tahun 2018 lalu :)

5. Menerbitkan novel indie
Akhir tahun ini, Alhamdulillah ditutup dengan terbitnya novel ke-18, buku ke-25 saya : Chandelle. Kenapa ini terasa spesial? Karena inilah novel perdana saya yang terbit secara indie. Untuk pertama kalinya pula saya membuat desain cover, sinopsis cover sendiri dan keseluruhan konten yang bebas dari intervensi penerbit. 

Kenapa saya memilih jalur indie? Pertama, saya ingin ngerasain nerbitin novel yang isi ceritanya benar-benar dari saya sendiri atas izin Allah, dan yang promosi serta pemasarannya saya lakukan sendiri (novel ini hanya dijual online dan oleh saya sendiri). 

Kedua, dari pengalaman nerbitin major selama ini, terkadang saya iba melihat kondisi buku yang sudah dicetak dan tersimpan di gudang karena belum habis terjual, setelah beberapa lama kertasnya akan menguning. Bahkan beberapa penerbit yang sudah overload isi gudangnya, akan membakar buku-buku terbitan lama dan tak kunjung laku. Bisa dibayangkan bukan, berapa banyak pohon harus ditebang untuk menghasilkan kertas-kertas yang kemudian pun berakhir di pembakaran?

Sedangkan melalui jalur indie, buku akan dicetak dengan sistem POD (print on demand). Dan harganya juga enggak jauh beda dengan buku yang terbit secara massif. Buku tidak perlu menumpuk dan mengurangi produksi kertas oleh serat kayu. Jalur ini juga bisa jadi "jembatan" antara buku cetak massif dan e-book. Di satu sisi bisa mengurangi penggunaan kertas dari cetak massif dan di sisi lain tetap bisa memenuhi keinginan pembaca yang kurang nyaman membaca buku digital. 

Oh ya...buat yang mau pesen novel Chandelle sila inbox saya ya, mumpung masih promo free ongkir sampai akhir Januari 2019.
Untuk sinopsis dan behind the scene novel ini bisa kalian baca di sini.

Demikianlah kaleidoskop tahun 2018 untuk pencapaian saya di dunia literasi. Tiada kata lain atas semua ini selain rasa syukur yang tak terhingga kepadaNya, dan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua pihak yang selama ini sangat mendukung saya untuk terus menulis.

Untuk tahun 2019, saya tidak punya resolusi khusus, hanya ingin lebih produktif menulis dan tulisan saya bisa lebih bermanfaat.
Semoga tahun ini membawa kebaikan untuk kita semua. Aamiin.

28 comments:

  1. Selalu menginspirasiii
    Baru tahu usia sbenerny mb ria hehe

    ReplyDelete
  2. Masya Allah tabarakallah. Sayangnya saya sudah lama meninggalkan genre novel untuk daftar bacaan. Jadi nggak ada yang tahu satupun dari daftar buku mbak. Tapi pencapaiannya sungguh menginspirasi.

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah bunda. Kamu selalu menginspirasi ku. Di tengah kesibukan mu yang banyak tetap produktif. Padamu Bund

    ReplyDelete
  4. masyaa Allah, tetap menginspirasi dan menebar manfaat mba say...

    ReplyDelete
  5. Proud of you...!!
    Bintan juga pasti bangga punya seorang novelist yang sangat produktif seperti mbak Lyta..

    ReplyDelete
  6. selamat ya, mbak
    Sukses terus. Saya menyukai tulisan-tulisan mbak Riawani. Semoga suatu hari nanti bisa bersua.

    ReplyDelete
  7. MasyaaAllah pencapaiannya kak Riawani Elyta ini, memotivasi sekali. btw, walaupun sudah kepala 4 tapi semangat dan wajahnya nampak masih kepala 2 kak. hehe

    ReplyDelete
  8. wah, luar biasa kak, udah 25 buku yang ditulis. bagi-bagi tips nya dong kak utamanya manajemen waktunya biar bisa punya banyak karya juga.

    ReplyDelete
  9. Bangga deh sama kakak... Sangat menginspirasi. Sudah ada menelurkan 18 novel atau 25 buku. Aku penasaran dengan yang Chandelle. Mungkin nanti aku akan kontak kakak. Kereeeeeenn

    ReplyDelete
  10. MasyaAllah. Aku bangga! Mbak, aku pengen banyak nulis, pengen bikin buku juga. Tapi krn anak msh kecil2, jd aku msh pendam. Krn waktuku prioritas masih mereka, kan... Tapi suatu saat nnti bakal aku kejar, kyak mbak. InsyaAllah. Hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. in sya Allah menulis aktivitas tak pandang usia

      Delete
  11. tantangan banget tuh menerbitkan buku secara indie, karena kalau di bawah penerbit kadang kita kehilangan idealisme

    ReplyDelete
  12. luar biasa pencapaian nya kak riawani ... semoga sukses selalu dalam perjalanan membuat novel indie nya

    kami turut berdoa selalu agar karya karya nya dapat meningkat semangat membaca di Indonesia ini

    aamiin

    ReplyDelete
  13. Dirimu layak mendapatkan lebih dari itu loh. Semoga tahun-tahun berikutnya semakin bersinar meskipun usia sudah masuk kepala 4. Aku sebentar lagi menjelang 40 nih. Jadi introspeksi diri pencapaian apa yang pernah diraih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. trima kasih lina...lina juga udah bersinar banget capaiannya

      Delete
  14. Keren kak bikin kaleidoscope ini... Selamat ya kak, sdh berkontribusi besar di bidang Literasi.. Bravo... Semoga tahun ini lebih mantab lagi...

    ReplyDelete