Riawani Elyta: Saya dan FLP : Berkenalan, Jatuh Cinta Hingga "Bersanding" dalam Karya

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Sunday, 30 October 2016

Saya dan FLP : Berkenalan, Jatuh Cinta Hingga "Bersanding" dalam Karya

Saya membuka tulisan ini dengan sebuah pengakuan, bahwa Forum Lingkar Pena (FLP), baik secara langsung maupun tidak langsung, telah berperan penting dalam “titi-langkah” kepenulisan saya meski saya bukan anggota FLP. Interaksi saya dengan FLP, dapat saya uraikan dalam fase demi fase berikut ini :


Fase perkenalan - Saya, Annida dan FLP

Awal perkenalan saya dengan majalah Annida, terjadi sekitar tahun 2000. Cerpen-cerpennya yang bernapas Islami, cerdas dan bergizi, membuat performa Annida terasa lebih “matang” ketimbang majalah fiksi remaja populer lainnya.

Satu fakta menarik, bahwa sebagian besar cerpen di Annida, adalah karya anggota FLP. Dari info seputar FLP termasuk publikasi karya para anggotanya di Annida, pemahaman saya tentang FLP mulai terbentuk. Dalam benak saya ketika itu, FLP adalah organisasi kepenulisan yang serius dan aktif membina para anggotanya untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Selain itu, meski tanpa embel-embel Islami dalam nama organisasinya, karya anggota FLP selalu bermuatan Islami.

Kesimpulannya, perkenalan saya dengan Annida, menjadi gerbang awal perkenalan saya dengan FLP. Perkenalan yang terus berlanjut dengan perburuan saya terhadap buku-buku karya penulis FLP.

Fase “jatuh cinta” - Saya dan buku-buku FLP
Setelah Annida, saya mulai mencari informasi tentang buku-buku karya para penulis FLP. Jujur saja, ketika itu, wawasan saya tentang penulis-penulis Islami sangatlah terbatas. Saat menyebut fiksi Islami, saya hanya mengenal dua nama ini : Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia.  “Parah”nya wawasan ini antara lain disebabkan susahnya menemukan fiksi Islami di kota saya.

Sampai kemudian, saya mendapat tugas dinas ke Bandung. Saya menyempatkan diri membeli beberapa fiksi Islami berlogo FLP disampulnya yang tengah diskon di sebuah mall. Diantara buku-buku tersebut, ada satu novel yang begitu membekas : Tarian Ilalang karya Afifah Afra Amatullah. Saking terkesannya, setiap kali memesan novel pada kakak saya, nama yang satu ini kerap saya minta carikan novel terbarunya. Sampai-sampai kakak saya sudah hapal, setiap kali saya memesan, dia otomatis bertanya, “Afifah Afra lagi?”

Sekitar tahun 2005, satu lagi karya penulis jebolan FLP kembali membuat saya kepincut. Apalagi kalau bukan Ayat-ayat Cinta karya Kang Abik. Membuat saya kemudian berturut-turut mencari dan membaca novelnya yang lain.

Memang, tidak semua buku karya anggota FLP, mampu menjadi magnet saya untuk membeli buku-buku selanjutnya, tetapi secara umum, buku-buku karya anggota FLP yang pernah saya baca pada era ini, memiliki kualitas yang baik. Napas Islami yang diembuskannya memberi ciri tersendiri sehingga fiksi Islami pun sempat mengalami masa jayanya ketika itu.

Buku Koleksi Saya dengan logo FLP disampulnya
Buku karya anggota FLP terbitan Indiva koleksi saya

Fase pembelajaran I - Saya, Jonru dan FLP
Bagi generasi sekarang, mungkin baru mengenal Jonru saat pilpres 2014. Namun saya telah “mengenal” Jonru pada pertengahan era tahun dua ribuan, melalui milis penulis lepas di internet yang dikelola oleh Jonru, dan beliau juga adalah anggota FLP. Saya kemudian mendaftar menjadi anggota milis dan membeli e-book karya Jonru yang dipasarkan melalui milis itu berjudul : Menerbitkan Buku Itu Gampang!

Edisi Cetak Menerbitkan Buku Itu Gampang
Inilah buku panduan pertama saya saat mulai menulis. Keberadaan milis ini dan buku panduan tersebut, saya akui telah menumbuhkan semangat dan keberanian saya untuk menulis. Meski kini Jonru memilih untuk menjadi sosok kontroversi, saya tetap menganggap Jonru dan milis penulis lepasnya sebagai tonggak awal metamorfosis saya menjadi seorang penulis.

Fase pembelajaran II - Saya dan inspirasi dari FLP
Tak saya pungkiri, karya-karya anggota FLP adalah inspirasi terbesar saya saat mulai menulis. Baik yang berupa cerpen maupun buku. Puluhan cerpen pernah saya layangkan ke Annida tanpa satupun pernah dimuat, begitupun beberapa naskah novel Islami pernah saya kirimkan ke penerbit tanpa ada yang diterbitkan.

Namun saya tak patah semangat. Saya terus belajar menulis.  Hingga akhirnya, novel duet Islami pertama saya diterbitkan Indiva pada tahun 2009, yang kemudian menjadi gerbang pembuka karya-karya saya selanjutnya. Pada masa ini, saya tetap setia membaca buku-buku karya anggota FLP yang saya sukai. Asma Nadia, Afifah Afra, Kang Abik, Sinta Yudisia hingga Ifa Avianty. Meskipun kemudian bacaan saya kian beragam, saya tetap saja merasa terikat dengan bacaan inspiratif yang bernapaskan Islami.

Fase kemitraan – “bersanding” dengan FLP
Allah Maha Baik. Akhirnya, Dia memberi saya kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan FLP. Pada tahun 2013, saya diundang sebagai pembicara seminar yang digelar FLP Batam bekerjasama dengan penerbit Indiva.

Piagam Penghargaan sebagai Pembicara
Tidak hanya menjadi pembicara, saya juga berkesempatan bertemu langsung dengan Afifah Afra, salah satu penulis FLP favorit saya yang juga menjadi pembicara seminar tersebut. Sungguh, tak bisa saya gambarkan apa yang saya rasakan ketika itu. Apalagi, Allah juga memberi kesempatan saya untuk menulis duet dengan Afifah Afra, yang melahirkan buku Sayap-sayap Sakinah dan Sayap-sayap Mawaddah. 

 Tahun 2015, saya kembali diundang memberi materi penulisan cerber di kelas menulis online FLP di facebook. Kesempatan yang saya sendiri pun gemetar saat menerimanya, karena anggota FLP yang mengikuti kelas online tersebut, banyak yang sudah senior termasuk Sinta Yudisia dan Afifah Afra.

Masya Allah........ untuk pengalaman demi pengalaman ini, saya sungguh speechless, tak tahu kalimat apa yang tepat untuk menggambarkannya. Satu yang pasti, perjuangan saya menjadi penulis dari titik nol yang terinspirasi dari karya anggota FLP, menerbitkan buku demi buku hingga "bersanding" dalam karya dan forum  dengan senior FLP, menjadi rekam jejak kepenulisan yang akan saya kenang sampai kapan pun.

Semoga FLP terus berdedikasi dan menginspirasi banyak orang untuk bertumbuh kembang menjadi penulis berkualitas sesuai mottonya : Berbakti, Berkarya, Berarti. Aamiin. 

Sebagai penutup, inilah video singkat seminar FLP Batam dimana saya dan Afifah Afra diundang sebagai pembicara.


6 comments:

  1. pengen mba, saya ikutan FLP, tapi kemana ya... masih bingung :(

    ReplyDelete
  2. saya dari dulu selalu kagum dengan penulis FLP. kebetulan waktu SMA, saya sering baca Annida. Tante saya juga sering ngasih majalah Ummi tahun-tahun lama.

    ReplyDelete
  3. Apa manfaatnya bergabung denag FLP ya Mbak?
    sering dengar sih tapi belum pernah ikut dalam even-even nya
    thank

    ReplyDelete
  4. Saya dulu juga gitu, Mbak El. Suka beli buku yang ada logo FLPnya.


    Selamat, Mbak Elyta lombanya ^^

    ReplyDelete