Riawani Elyta: Strategi Pengelolaan Keuangan Pegawai Negeri untuk Masa Pensiun yang Lebih Baik

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 24 October 2015

Strategi Pengelolaan Keuangan Pegawai Negeri untuk Masa Pensiun yang Lebih Baik


gambar dari sini


Masa pensiun, bagi sebagian besar pegawai negeri menjadi masa yang dinanti-nanti. Inilah masanya terbebas dari rutinitas pekerjaan, saatnya untuk hidup santai, juga lebih aktif terlibat dalam kegiatan sosial di masyarakat. Dan meski tak lagi bekerja, seorang pensiunan pegawai masih mendapat uang pensiun setiap bulan. Inilah salah satu faktor yang membuat profesi pegawai negeri tergolong ramai peminat. Dalam anggapan banyak orang, dengan menjadi pegawai negeri, masa depan akan terjamin.

      Tetapi pada faktanya, tak sedikit pegawai negeri yang justru dilanda rasa khawatir saat masa pensiun datang. Mereka justru tak ingin cepat-cepat pensiun. Rasa cemas akan berkurangnya jumlah penghasilan, membuat mereka rela bekerja kembali pasca pensiun. Saya kerap bertemu pegawai yang telah pensiun, tetapi masih wara-wiri di kantor dengan seragam kerja. Mereka ternyata kembali bekerja sebagai tenaga honorer atas permintaan sendiri. Pada umumnya, mereka ini adalah pegawai yang saat pensiun masih staf biasa sehingga tak sungkan untuk kembali bekerja meski hanya sebagai tenaga honorer.

Lain pensiunan staf, lain pula yang pejabat. Tak sedikit dari golongan ini yang mengalami post power syndrome. Yaitu ketakutan akan hilangnya penghargaan masyarakat atas dirinya saat memasuki masa pensiun. Bukan hal mudah untuk berpisah dari semua fasilitas dan kemudahan, perlakuan hormat dari bawahan, juga saat berganti status dari seorang pejabat menjadi pensiunan. Saya jadi teringat cerita orang tua saya tentang pensiunan pejabat yang setiap harinya tetap bangun pagi dan mengenakan seragam kantor seakan-akan dia masih aktif bekerja.

Di luar masalah kekhawatiran dan syndrome, ada satu kebiasaan pegawai negeri baik yang dilakukan kalangan staf maupun pejabat, yaitu berutang atau melakukan pinjaman pada bank. Di tempat saya bekerja, jumlah pegawainya ada 30 orang. Dan dari jumlah itu, sebanyak 25 orang atau mencapai persentase 80%, memilih berutang pada bank dengan konsekuensi gaji dipotong setiap bulan. Dan ini terjadi di semua instansi pemerintah daerah tempat saya berdomisili.

Alasan mereka bermacam-macam. Mulai dari membayar cicilan rumah, perabotan, kendaraan, biaya berobat, biaya sekolah anak, dan lain-lain. Saat saya bertanya kenapa harus berutang, rata-rata jawaban mereka seragam : bagaimana bisa membeli semua fasilitas hidup (rumah, kendaraan, perabotan, gadget dan lain-lain) kalau tidak dengan berutang? Jika harus menabung, mau berapa lama baru bisa membeli?  Bahkan ada juga yang sambil berguyon mengatakan, negara yang begini besar saja masih berutang, apalagi kita yang cuma  pegawai?

Hal inilah sebenarnya yang banyak menjerat pegawai negeri pada kelalaian mengelola keuangan sehingga saat menjelang pensiun, dana cadangan yang mereka miliki sangat minim. Tak sedikit yang menjadikan kebiasaan berutang pada bank sebagai suatu “kebutuhan”. Begitu angsuran lama selesai, mereka langsung melakukan pinjaman baru. Bahkan ada yang sudah meminjam saat angsuran utang sebelumnya belum jatuh tempo. Dengan fluktuasi suku bunga bank untuk pinjaman (biasanya pada kisaran rata-rata 3-6% untuk masa angsuran 5 – 10 tahun), maka saat jatuh tempo, total bunga yang harus dibayarkan hampir sama dengan besarnya pinjaman. Otomatis, pegawai yang berutang secara terus menerus sulit menabung mengingat besarnya gaji yang dipotong untuk membayar angsuran setiap bulan.

Tetapi, tentu saja tidak semua pegawai negeri mengalami kondisi demikian. Setahun lalu, saya sempat ngobrol dengan seorang rekan kantor yang akan memasuki masa pensiun. Menurutnya, sebut saja namanya ibu Diana, saat dikeluarkan Undang-undang nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Nasional (ASN), yang salah satu isinya adalah menaikkan batas usia pensiun pegawai negeri yang sebelumnya 56 tahun menjadi 58 tahun, para pegawai yang sudah memasuki usia 56 tahun diberi pilihan apakah masih bersedia bekerja atau tidak bersedia. Jika tidak bersedia maka pegawai bersangkutan harus mengajukan permohonan berhenti.

Ketika itu, dari 70 orang pegawai di daerah saya yang sudah berusia 56 tahun termasuk ibu Diana, ternyata hanya dua orang termasuk ibu Diana yang mengajukan permohonan berhenti. Selebihnya, atau sejumlah 68 orang lainnya memilih untuk melanjutkan masa tugas hingga mencapai usia 58 tahun.

Saat saya tanyakan kepada ibu Diana kenapa memilih berhenti, beliau menjawab, selain karena ingin bebas dari rutinitas pekerjaan yang sudah dilakoninya selama 30 tahun, apa yang tak kalah penting, beliau sudah memiliki sumber penghasilan lain yang mampu menopang masa depan keluarganya. Beliau dan suami telah lama merintis bisnis sampingan dalam bidang farmasi, dan kini, usaha tersebut telah memberi mereka pemasukan rutin yang lebih dari cukup.

Dari kisah ibu Diana dan fenomena “berutang” yang dilakukan sebagian besar pegawai negeri, saya menarik kesimpulan, bahwa cerah tidaknya masa depan atau masa pensiun seorang pegawai, serta kesiapannya menghadapi masa pensiun, berbanding lurus dengan pengelolaan keuangan yang bijak sejak usia produktif atau saat masih bekerja.

Jujur saja, jika dipanjangkan usia, saya ingin menikmati masa pensiun dengan kondisi finansial yang baik seperti ibu Diana. Saya juga tidak ingin mengalami post power syndrome dan dilanda kecemasan berlebihan karena ketidaksiapan dalam hal finansial saat memasuki masa pensiun. Saya yakin, semua pegawai negeri juga menginginkan hal serupa dan tak ingin terjebak dalam rentetan utang. Untuk itu, sejak awal perlu disadari dan dipahami kondisi yang akan dihadapi saat pensiun seperti berikut ini :

-          Pemasukan lebih kecil
Meskipun masih mendapatkan “gaji” bulanan, tetap saja, penghasilan yang diperoleh jauh lebih kecil. Seorang pensiunan pegawai negeri yang memiliki masa kerja 30 tahun misalnya, hanya berhak menerima uang pensiun perbulan maksimal 75% dari gaji pokok terakhir. Untuk yang masa kerjanya lebih sedikit, persentasenya juga akan lebih kecil. Jadi jika gaji pokok terakhir seorang pegawai negeri dengan masa pengabdian 30 tahun adalah Rp.3.000.000,-, maka uang pensiun yang akan dia terima adalah Rp.2.250.000,- / bulan.

-          Tidak mendapat pemasukan di luar gaji
Saat masih bekerja, seorang pegawai negeri berpeluang mendapat tambahan penghasilan di luar gaji, misalnya dalam bentuk honorarium tim, uang perjalanan dinas, uang makan, tunjangan beban kerja, dan sebagainya. Namun saat pensiun, pintu untuk pemasukan lain-lain itu telah tertutup. Seorang pensiunan hanya bergantung pada uang pensiun bulanan jika tidak memiliki sumber pemasukan yang lain.

-          Terikat dengan peraturan
Sebagai abdi masyarakat, pegawai negeri terikat dengan regulasi pemerintah. Dan regulasi ini juga bisa berubah-ubah termasuk regulasi tentang pensiun. Misalnya saja, saat ini uang pensiun dibayar bulanan, namun tak menutup kemungkinan, ke depan bisa berubah menjadi pembayaran sekaligus di awal masa pensiun. Apalagi, wacana akan hal inipun sempat digulirkan. Bagi pegawai negeri yang kurang mampu mengelola keuangan dengan baik, sebesar apapun uang yang dibayarkan di awal masa pensiun, tetap saja akan cepat terkuras.

Oleh karena itu, seorang pegawai negeri perlu melakukan strategi pengelolaan keuangan dengan bijak agar kecemasan dan ketidaksiapan kondisi finansial saat memasuki masa pensiun tak sampai terjadi. Berikut adalah 3 (tiga) strategi yang dapat dilakukan : 

1.        Menabung setiap hari
Terkait kebiasaan menabung, Warren Buffet  menyarankan hal berikut : Do not save what is left after spending but spend what is left after saving. Sisihkan terlebih dulu penghasilan untuk ditabung sebelum membelanjakannya dan bukan sebaliknya, baru menabung saat bersisa. Hal ini sudah saya lakukan sejak mulai bekerja. Setiap menerima gaji, saya langsung menyimpannya di bank dan hanya menyisakan seperlunya di dalam dompet. Waktu itu, gaji pegawai masih dibayar tunai. Sampai sekarang pun, saat gaji telah dibayar melalui rekening, saya hanya mengambil separuhnya di awal bulan. Selama bertahun-tahun saya sengaja tidak menggunakan ATM agar penarikan uang hanya saya lakukan saat benar-benar perlu.

Namun tidak semua pegawai negeri bisa menerapkan cara demikian. Ini antara lain disebabkan kebiasaan berutang dan tidak menjadikan menabung sebagai prioritas. Kalau ada sisa, barulah menabung. Kalau tidak ada yang bisa disisihkan, toh bulan depan masih menerima gaji, dan saldo di bank masih terisi oleh dana yang berasal dari utang. Ternyata, bekerja pada “zona nyaman” turut berdampak pada rendahnya motivasi seseorang untuk menabung.

Nah, bagi pegawai negeri yang punya prinsip demikian, ada cara lain untuk menabung, yaitu dengan menyisihkan sedikit uang setiap hari. Dulu, orang tua saya pernah bercerita tentang nenek yang selalu menyisihkan segenggam beras setiap hari untuk disimpan. Saat mengalami masa susah (ketika itu adalah masa penjajahan Jepang di mana warga pribumi kerap mengalami kekurangan pangan), “tabungan” beras itulah yang kemudian dikeluarkan dan dimasak untuk anak-anaknya.

Kebiasaan ini kemudian dilakukan juga oleh ayah saya. Kebetulan, kedua orang tua saya pegawai negeri. Ayah menyiapkan satu kotak di atas lemari dan meminta ibu untuk menyimpan uang di dalam kotak itu setiap hari. Tidak perlu banyak, tetapi setiap hari harus selalu diisi.

gambar dari sini

Baru-baru ini saya menemukan tips viral di media sosial (dari akun facebook Amalia Putri) tentang cara menabung dengan prinsip serupa. Yaitu menabung setiap hari sesuai tanggal dimulai dari uang seribu rupiah. Jadi pada tanggal satu, kita menabung sebesar seribu rupiah, tanggal dua, dua ribu rupiah, tanggal tiga, tiga ribu rupiah dan seterusnya. Meski terlihat sederhana, dalam 30 hari kita bisa menabung sebesar Rp. 465.000,-. Dalam setahun, jumlahnya menjadi 12 (bulan) x Rp. 465.000,- = Rp. 5.580.000,-. Jika ini rutin dilakukan, maka dalam sepuluh tahun kita sudah memiliki tabungan sejumlah Rp. 55.800.000,-.

Cara menabung yang demikian dapat dipraktekkan oleh pegawai negeri juga bagi anda yang kesulitan mengikuti saran Warren Buffet. Pepatah “sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit” terbukti benar untuk metode ini. Anda ingin mencobanya? :)
2.        Menghindari berutang pada bank secara terus menerus
Meski profesi pegawai negeri termasuk pekerjaan di zona nyaman, bukan berarti benar-benar bebas goncangan. Contohnya saja, pada tahun 2015 ini terjadi penurunan jumlah bagi hasil migas dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Padahal sumber pembiayaan terbesar rata-rata daerah berasal dari dana bagi hasil. Sebagai dampaknya, beberapa daerah terpaksa menghentikan pembayaran tunjangan beban kerja pegawai negeri dan proyek-proyek fisik serta merumahkan tenaga honorer. Nah, bayangkan saja saat tunjangan pegawai dihentikan, sementara angsuran bank belum lunas, bagaimana seorang pegawai yang berutang bisa menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari?

Lantas, jika tidak dengan berutang, bagaimana caranya agar pegawai negeri tetap mampu mencukupi kebutuhan primer dan sekundernya? Berikut kiat-kiatnya :
-            menekan pola hidup konsumtif.
Menjadi pegawai negeri, apalagi jika masih staf biasa, memang tidak menjanjikan penghasilan yang berlebih. Jadi sebaiknya jangan gampang tergoda untuk memiliki barang-barang bermerk dan sedang trend. Lebih baik menjalani pola hidup hemat dan menekan kebutuhan konsumtif daripada keteteran mengatur keuangan.
Kendalikan rasa iri terhadap rekan-rekan kerja yang berlomba-lomba membeli barang mewah. Lebih baik fokus mengelola “asap dapur” kita sendiri daripada sibuk membanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain.

-            melakukan kalkulasi yang cermat dan menetapkan skala prioritas
Seorang pegawai negeri harus mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan untuk mencicil rumah, kendaraan, perabotan dan sebagainya dengan cara berutang. Jika gaji setiap bulan masih pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan primer, lebih baik menunda dulu keinginan memiliki barang-barang yang membutuhkan biaya besar. Jika belum mampu membeli kendaraan roda empat misalnya, lebih baik bertahan dengan kendaraan roda dua atau mengandalkan transportasi umum saja dulu.
Bagi pegawai negeri yang hanya mengandalkan satu pemasukan, misalnya hanya suami yang bekerja, kalkulasi ini tentu harus dilakukan dengan lebih cermat. Dahulukan kebutuhan pokok daripada membeli fasilitas. Jangan mudah tergoda dengan arisan barang atau ikut-ikutan membeli gadget keluaran terbaru jika harus mengorbankan dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pokok.

-            Memiliki pekerjaan sampingan untuk mendapatkan passive income
Seorang pegawai negeri tidak dilarang mempunyai usaha sampingan sebagai sumber passive income selama tidak mengganggu tugas dan tanggung jawabnya sebagai pegawai. Apalagi, saat ini banyak jenis usaha sampingan yang bisa dikerjakan secara online atau dengan bantuan gadget sehingga tidak menyita banyak waktu.  Contohnya saja, saat ini saya memiliki profesi sampingan sebagai penulis dan membuka kursus online. Dengan  passive income yang saya dapatkan, Alhamdulillah saya jadi terbantu untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan terhindar dari utang.

3.        Melakukan investasi dan asuransi
Pegawai negeri juga sangat dianjurkan melakukan investasi jangka panjang sebagai persiapan masa pensiun. Disarankan untuk berinvestasi pada aset yang nilainya stabil atau terus meningkat seperti properti, tanah, ataupun logam mulia. Ini mengingat mata uang rupiah terus mengalami inflasi dan penurunan nilai. Sebagai perbandingan, jika sepuluh tahun lalu gaji satu juta rupiah sudah mencukupi biaya hidup sebulan, sekarang, untuk bertahan hingga akhir bulan kita butuh dana hingga lima kali lipat dari jumlah tersebut.

Dalam membeli aset investasi juga harus disertai pemahaman dan penelitian terlebih dahulu. Misalnya saja saat akan membeli aset berupa tanah, pastikan dulu bahwa itu adalah tanah bersertifikat atau minimal punya alas hak dan tidak memiliki riwayat sengketa. Jika ingin membeli aset berupa rumah, pertimbangkan terlebih dulu faktor-faktor penting seperti kondisi rumah, posisi, aksesibilitas dan fasilitas penting lainnya seperti air, listrik, saluran pembuangan dan sebagainya. Jika ingin memiliki aset berupa emas, lebih baik membelinya dalam bentuk emas batangan daripada perhiasan karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Untuk pegawai negeri, dana pembelian aset ini bisa dicadangkan dari pemasukan di luar gaji, misalnya dari honorarium tim atau tunjangan beban kerja yang diterima setiap bulan sehingga tidak mengganggu gaji yang diprioritaskan untuk kebutuhan primer.

Dalam hal asuransi, saat ini seluruh pegawai negeri wajib mengikuti program asuransi pemerintah yang dananya dipotong dari gaji bulanan. Meski demikian, jika memiliki kelebihan dana, tak ada salahnya mengikuti program asuransi lain yang dikelola oleh perusahaan terpercaya. Salah satunya adalah PT. Sunlife Financial Indonesia. Perusahaan ini menawarkan berbagai produk asuransi unggulan untuk memenuhi kebutuhan akan simpanan dan investasi sekaligus memberikan manfaat perlindungan, diantaranya adalah Sun FortuneLink, Brilliance@ Fortune, Brilliance@ Sejahtera dan Brilliance@ One Protection Plus. Untuk lebih detailnya tentang masing-masing produk bisa dilihat di situs www.sunlife.co.id.

Bagi pegawai negeri yang sulit menyisihkan dana untuk membeli aset dalam rangka investasi jangka panjang, bisa memilih alternatif produk yang ditawarkan oleh PT. Sunlife Financial Indonesia sehingga mendapatkan dua manfaat sekaligus, yaitu asuransi dan investasi.

Selain melakukan strategi pengelolaan keuangan, hal lain yang tak boleh diabaikan adalah menjaga kesehatan. Bukankah sehat itu “mahal”? Saya teringat almarhum paman saya yang saat masih bekerja terkenal sangat workaholic. Dia bahkan tidak pernah mengambil cuti selama puluhan tahun bekerja. Setelah pensiun pun beliau masih aktif bekerja di kantornya.

Namun beberapa tahun setelah pensiun, beliau divonis mengidap kanker. Uang yang dikumpulkan dari kerja keras puluhan tahun pun terkuras untuk biaya berobat hingga akhirnya beliau wafat. Ini sekadar contoh bagi kita yang masih produktif bekerja, bahwa menjaga kesehatan itu sangatlah penting. Karena apa yang kita lakukan sekarang, akan membawa dampak pada masa depan. Meskipun kita telah mengikuti program asuransi kesehatan yang menanggung biaya pengobatan, tetap saja kehidupan di masa tua tidak akan berlangsung nyaman dan bahagia jika tubuh kita sakit-sakitan.

Satu hal lagi yang tak boleh kita lupakan, bahwa masa produktif sebaiknya tidak hanya diisi dengan kerja keras mengumpulkan uang, tetapi juga mendidik anak-anak kita menjadi manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab. Karena pada kenyataannya, tak sedikit orang tua yang seharusnya hidup tenang di masa pensiun, justru harus menanggung biaya hidup anak-anaknya yang sudah dewasa tetapi masih sepenuhnya bergantung kepada orang tua dan belum mampu untuk mandiri.

Menjadi pegawai negeri bukanlah jaminan akan masa depan atau masa pensiun yang lebih baik dibandingkan mereka yang bukan pegawai negeri. Oleh karenanya, melakukan pengelolaan keuangan dengan bijak mutlak dilakukan sejak menerima gaji pertama. Maka ketika masa pensiun itu datang, kita pun siap menyambutnya tanpa harus merasa khawatir akan kekurangan penghasilan serta dapat menikmati masa tua dengan tenteram dan bahagia bersama keluarga tercinta.


Referensi :
www.sunlife.co.id
www.facebook.com/amalia.putri  

Artikel diikutsertakan dalam Sun Anugerah Caraka Kompetisi Menulis Blog 2015

11 comments:

  1. Mari berinvestasi.

    Nabung itu...
    Duh, sampai susah ngomongnya, Mba.

    Sukses lombanya ya, Mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin...makasih ya udah berkunjung :)

      Delete
  2. Bermanfaaat bangettt, aku yg irt kudu bisa memantain juga nih gaji miswa dg baik

    ReplyDelete
  3. insyaAllah mbak Lyta ngga bakal mengalami Post Power Syndrome ....novelis, blogger, penulis serba bisa dan pinter masak...itu semua adalah investasi lho, cuman kadang kita nggak nyadar seperti yang saya tulis di sini :)
    http://braveandbehave.blogspot.com/2015/09/bijak-mengelola-keuangan-demi-kemapanan.html

    ReplyDelete
  4. Terima aksih Mba semoga menabung setiap hari bisa menjadi inspirasi & berkah untuk kita semua..
    Amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin.....trims ya udah berkunjung :)

      Delete
  5. Replies
    1. Tips dari ngamatin sekitar kantor hehe

      Delete