Riawani Elyta: Resensi Novel Ayah : Love That Makes Me Crazy

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 2 September 2015

Resensi Novel Ayah : Love That Makes Me Crazy

Dua tahun lalu, terakhir kalinya saya membaca novel pakcik Andrea yaitu dwilogi Padang Bulan. Dan sungguh sayang, saya gagal menyelesaikannya. Buat saya, dwilogi Padang Bulan dan novel sebelumnya Maryamah Karpov, tidak berhasil memberi kesan yang sama dengan saat melahap trilogi sebelumnya : Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Mungkin, ketika itu Andrea tengah kehilangan separuh energi dan mood-nya, atau mungkin juga karena ia tak lagi memperuntukkan kedua novel itu untuk guru tersayangnya, Wallahu alam. Ya. Melakukan dan mempersembahkan sesuatu untuk seseorang yang kita sayangi, tak dipungkiri adalah salah satu motivasi terbesar. Bahkan tak jarang, dalam menempuhnya kita terseret dalam arus kegilaan tanpa kita menyadarinya.


Inilah yang kemudian saya rasakan saat membaca novel teranyar beliau tahun ini. Meskipun berjudul Ayah, nyaris separuh novel ini justru bercerita tentang rentetan “kegilaan” yang berlandaskan ketergila-gilaan akibat cinta amore. Cinta antara pria dan wanita yang sayangnya hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta sang tokoh sentralnya Sabari kepada Marlena. Cinta yang sanggup mendorong Sabari melakukan apa saja bahkan hal terabsurd sekalipun, bahkan hingga sang tokoh sendiri pun sudah mencapai level tiga perempat gila.

Memang, dalam novel inipun kita akan menjumpai kisah akan hubungan kasih sayang ayah dan anak, serta bakti sang anak kepada ayahnya. Walaupun porsinya tidak terlalu besar, namun dengan kepiawaian penuturannya Andrea berhasil membuat kisah yang tak terlalu besar ini menjelma lebih besar dalam benak dan ingatan pembaca.

Pada bab-bab awal, Andrea memperkenalkan satu demi satu tokoh novel ini dengan gaya tuturnya yang khas dan alur yang maju mundur. Dan saya setuju dengan pendapat rekan saya Arul Chandrana, bahwa lembar pertama novel ini ditulis dengan sangat baik, dan boleh jadi, akan menjadi lembar favorit saya juga dari lembar-lembar perdana novel-novel yang sudah saya baca tahun ini.

kenapa ini caption nya jadi horizontal padahal udah diedit vertikal? :)

Di sini, selain Sabari dan Marlena, kita akan diajak berkenalan dengan tokoh-tokoh lainnya seperti dua sahabat Sabari : Ukun dan Tamat, Izmi sang secret admirer, Zuraida sang sahabat Marlena, Zorro anak Marlena, sepasang kucing bernama Abu Meong dan Marleni, dan lain-lain. Masing-masing tokoh tampil dengan peran dan fungsinya yang memberi kontribusi terhadap keutuhan cerita. Baik yang berperan penting dalam plot utama, yang hadir untuk memperjelas misi cerita, ataupun yang hanya sekadar numpang lewat dalam lintasan kehidupan tokoh-tokoh utamanya.

Seperti novel-novel sebelumnya, di sini Andrea kembali memamerkan kepiawaiannya dalam mengolah cerita yang mengombinasikan kelucuan nan hiperbolis dengan kesedihan dan ketragisan. Sedikit banyak tuturnya mengingatkan saya pada film-film India minus tarian. Yup. Nyaris semua film India yang pernah saya tonton selalu mempertontonkan kesedihan, ketragisan dan hal-hal konyol yang kadang memancing tawa tetapi kadang juga banyak lebaynya. Apakah Andrea juga penggemar film-film India? Entahlah. Yang jelas, banyak adegan filmis dalam novel ini yang sepertinya akan terlihat menarik jika divisualisasikan.

Dan kombinasi inilah yang juga berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal dan mengeluarkan air mata berganti-ganti sepanjang menghabiskan novel ini. Harus saya akui, baru karya Andrea Hirata yang berhasil memancing ekspresi spontan saya dalam kadar yang seperti ini. Biasanya, selucu-lucunya sebuah novel komedi, saya hanya bisa tersenyum lebar, dan setragis-tragisnya sebuah novel drama, saya hanya bisa berkaca-kaca (pengecualian untuk A Thousand Splendid Sun yang surat sang ayah di bab-bab akhir berhasil membuat air mata saya mengalir deras).

Tapi, tentu saja itu bukan faktor utama yang membuat Andrea Hirata masuk dalam daftar penulis favorit saya, melainkan juga segenap keunikan dan ciri khas yang ada pada karya-karyanya. Bagaimana “seni” Andrea dalam mentertawakan kesedihan, mendeskripsikan hal-hal yang hiperbolis bahkan absurd dengan cara yang menyenangkan, juga kepolosan yang berpadu dengan kecerdasan dalam mendeskripsikan apa yang hendak ia sampaikan.

Lalu, adakah complain saya untuk novel ini? Ada.
Pada Bab Cita-cita Izmi dan Amiru, kedua tokoh ini hadir berdampingan. Padahal pada bab-bab lainnya, tokoh Izmi hadir dalam kehidupan tokoh Sabari, dan Amiru adalah sosok yang hadir pada alur waktu yang lebih kini. Apakah tersalah ketik? Atau  memang demikian adanya? Saya juga masih bertanya-tanya akan sosok Izmi yang sejak awal terlihat cukup penting hingga saya sempat mengira kalau Izmi-lah yang menulis surat balasan untuk Sabari, tetapi makin ke belakang makin mengabur. Tokoh Izmi adalah tokoh yang statis, dari semula yang seorang secret admirer dan terinspirasi dari Sabari, sampai selanjutnya pun tetap begitu.

Saya tidak akan mempersoalkan ke-absurd-an bagian kisah surat Sabari yang “dititipkan” pada penyu lalu sang penyu terdampar di Australia (dari Belitong ke Australia? Hmm). Mungkin Andrea memang sedang ingin melucu, atau mungkin sedang tidak menemukan ide lain untuk menghubungkan rasa kehilangan Sabari dengan kehilangan yang dialami sosok tua Pak Niel.

Sebenarnya saya berharap Andrea akan lebih banyak mengeksplor kisah-kisah humanis yang mengharu biru namun menyimpan makna, seperti kisah perjuangan Amiru untuk menebus radio ayahnya di pegadaian (ini bab favorit saya), tetapi Andrea seperti agak “terlena” dengan untaian kisah-kisah yang konyol dan hiperbolis. Memang sih, sepertinya pembaca kita lebih menyukai kisah-kisah dengan nuansa menghibur seperti ini. Ditambah lagi puisi demi puisi Sabari turut memberi kesan “nyeni” pada novel ini.

sepertinya ada yang salah dengan lepi saya, sampe upload yang tegak bisa jadi miring begini :p

Kejanggalan lainnya adalah saat Andrea mempertemukan tokoh-tokoh cerita yang berbeda fragmen dan berbeda nama pada bab yang sama. Meskipun tokoh-tokohnya adalah orang yang sama, namun Andrea sepertinya tidak mau bersusah payah menjelaskan fakta tersebut. Bahkan dengan gampangnya menyebutkan nama mereka yang berbeda itu pada adegan yang sama.

Terlepas dari beberapa kejanggalan di atas, novel ini cukup mengembalikan kekuatan dan ciri khas Andrea Hirata yang (menurut saya) sempat memudar pada novel-novel pasca Edensor. Novel ini juga memiliki pesan yang kuat akan cinta, persahabatan dan kasih sayang tanpa pamrih, yang disampaikan dengan cara yang unik lagi menghibur. Bagi teman-teman penggemar karya Andrea, atau yang belum sama sekali pernah membacanya, novel ini layak kalian koleksi.

Judul                     :               Ayah
Penulis                  :               Andrea Hirata
Penerbit                :               Bentang Pustaka
Tebal                    :               412 hal
Tahun                   :               2015



11 comments:

  1. Apa hubungan antara percintaan dengan AYAH ya? Harus beli nih

    ReplyDelete
  2. sy sempat patah hati sm pakcik Andrea jg pas baca Dwilogi Padang Bulan dan Maryamah Karpov. Trus jadi ragu2 pas Ayah ini rilis. Tapi karena he's still my fav author, nungguin review dulu. dan akhirnya ... segera masuk list nih. Mudah-mudahan nggak mengecewakan Ayah ini. D thanks for review, mbak ...

    ReplyDelete
  3. Saya juga udah baca mak....bikin berkaca-kaca...

    ReplyDelete
  4. Aku belon punya n belon baca nih novel ini

    ReplyDelete
  5. Aku belum satupun dr buku Andrea Hirata pernah kubaca mbak, hahaaa *tepok jidat.
    Membaca resensi, jadi pengin beli buku Ayah :D

    ReplyDelete
  6. Belum baca maaak.... tapi thanks buat masukannya

    Menurutku, sejak novel Padang Bulan, aku memang jadi TIDAK tertarik lagi, gak seperti menikmati kisah Laskar Pelangi

    ReplyDelete
  7. Yusi : pakcik ni tulisannya mank mantap ya :)

    yervi : begitulah....pinter penulisnya meramunya :)

    arinta, mbak santi : ayo dicoba :D

    yeni : happy shopping

    yurie : sama2, semoga Ayah nggak mengecewakan buat yuri :)

    iyah mbak anita, bikin cry di bbrp bab

    mbak ade : novel2 sebelumnya dari AH apa udah baca mbak?

    mbak Eky : bukan seleranya mungkin ya, hehe

    iya mbak Tanti, trilogi LP still the best of him

    ReplyDelete