Riawani Elyta: [REPOST] Persiapan Bekal Rumah Tangga untuk yang Masih Jomblo, Emang Perlu?

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 10 March 2015

[REPOST] Persiapan Bekal Rumah Tangga untuk yang Masih Jomblo, Emang Perlu?





Sobat Nida, Pernikahan sering dianalogikan dengan bahtera atau kapal. Dengan kepala keluarga atau sosok suami sebagai nakhodanya dan anggota keluarga sebagai penumpangnya. Nakhoda harus tahu kemana arah tujuan, karena dialah sang pemegang kemudi, dan memastikan diri mampu membawa semua penumpang sampai ke tempat tujuan dengan selamat.


Apa pun cobaan dan rintangan yang terjadi, jangan sampai membuat bahteranya berhenti di tengah laut, karam, atau bahkan pecah berkeping-keping. Beuh... Begitu pula para penumpangnya, seberat apa pun cobaan yang menimpa, para penumpang harus tetap kompak dan mematuhi komando sang nakhoda, kecuali kalau ternyata sang nakhoda melalaikan tanggung jawab dan keselamatan penumpangnya.


Demikian pulalah halnya dengan kehidupan berumah tangga. Ada banyak hal mungkin terjadi di luar duga dan harapan. Di luar kehendak dan cita-cita. Terkadang, perbedaan-perbedaan kecil saja bisa menjadi pemicu perselisihan.

Diantara Sobat Nida mungkin ada yang bertanya: kalau begitu, untuk mengantisipasi munculnya riak dalam rumah tangga, apakah tidak sebaiknya kita mengenali calon pasangan kita dengan proses penjajakan atau pacaran terlebih dulu?

Ho-ho. Please deh ah. Ini sama sekali bukan pembenaran buat sobat untuk memilih cara yang “kurang tepat” sebelum menikah. Karena pacaran bukanlah sebuah hubungan berasas komitmen. Pacaran lebih berpotensi mendekatkan pada dosa bernama zina. Pacaran tak lebih hanya proses coba-coba. Jika cocok, lanjutkan. Jika tidak, bubar tengah jalan. Bahkan, ada yang lebih “gila” lagi, koleksi, seleksi, baru diperistri. Hmm.

Lantas, apa sebaiknya yang saya lakukan, sebagai persiapan untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang mungkin kurang menyenangkan andai nantinya saya berumah tangga?

Pertama – berdoa dan berprasangka baiklah pada Allah.
Saat sobat berdoa memohon disegerakan jodoh pada Sang Pencipta, iringi doa itu dengan prasangka baik kepadaNya, bahwa Dia akan menyegerakan jodoh yang terbaik bagi sobat. Sugesti positif insya Allah akan mendukung pola pikir kita untuk memandang segala hal dari sudut pandang positif pula. Jika kelak kita memperoleh pasangan hidup yang karakternya tidak kita sukai, maka pandanglah itu sebagai jalan ibadah, jalan buat kita memupuk keikhlasan menerima pasangan apa adanya, juga mencanang tekad untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Kedua – bekali diri dengan ilmu pengetahuan.
Saat sobat pergi ke toko buku, jangan sungkan untuk membeli buku-buku yang membahas tentang pernikahan dan hidup berumah tangga meski sobat masih berstatus lajang. Bertanyalah pada pasangan yang harmonis, apa rahasia mereka sehingga kehidupan berumah tangga mereka tetap langgeng dan baik-baik saja. Tapi, tentu saja kalau mereka tak keberatan membagi rahasia mereka, ya? J 

Ketiga -  tingkatkan kualitas mental spiritual
Salah satu benteng terbaik dalam menghadapi permasalahan hidup, adalah dengan memiliki kualitas mental dan spiritual yang baik. Orang yang mental spiritualnya baik, maka ia tak akan mudah putus asa dan mengeluh, ia selalu memandang optimis bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, setiap penyakit pasti ada obatnya. Jadi, saat melihat kehidupan rumah tangga orang lain yang dihantam gelombang badai, atau pun yang harus berakhir di meja pengadilan agama, hal itu tidak lantas membuat kita pesimis dan trauma, apalagi sampai memutuskan untuk tak akan menikah. Teruslah memupuk keyakinan bahwa pernikahan adalah untuk menggenapkan separuh agama. Pernikahan dan kehidupan berumah tangga adalah “sekolah” terbaik untuk meningkatkan kemampuan beradaptasi, saling toleransi dan menghargai, saling membimbing dan mengingatkan, saling berbagi kasih sayang dibawah naungan ridhoNya.

Adakah yang lebih indah dari  sebuah proses yang dalam setiap detik dan sentuhannya terdapat percikan rahmat dan keridhoan dari sang Maha Pengasih?

Kutipan dari buku non fiksi saya, Sayap-sayap Sakinah, ditulis bersama Afifah Afra (Indiva Media Kreasi : 2013).

Foto Ilustrasi : google

No comments:

Post a Comment