Riawani Elyta: Resensi Novel Sunshine Becomes You : Terima kasih sudah mengajari saya akan arti kemanisan dan keindahan

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 24 February 2015

Resensi Novel Sunshine Becomes You : Terima kasih sudah mengajari saya akan arti kemanisan dan keindahan

Sinopsis :
Berawal dari insiden tak sengaja yang menimpa Alex Hirano, dimana Mia yang terjatuh menimpa Alex dan menyebabkan tangan Alex cedera padahal Alex akan menggelar konser piano dalamw aktu dekat, membuat Mia Clark terpaksa menjalani konsekuensi ketidaksengajaan itu dengan bekerja di apartemen Alex Hirano. Konsekuensi yang semula sangatlah tidak mudah untuk Mia, mengingat sikap Alex yang dingin dan seolah membencinya, bahkan bagi Alex, kehadiran Mia bak malaikat kegelapan baginya.

Ada juga sosok Ray Hirano, adik Alex Hirano yang telah lebih dulu mengenal Mia dan diam-diam menaruh hati pada gadis itu. Sementara itu, seiring waktu, kebencian Alex terhadap Mia perlahan pupus, berubah menjadi perasaan yang sama sekali tak ia duga, begitu pun perasaan Mia terhadapnya.


Namun, sesuatu yang dialami Mia membuat perasaan mereka itu harus mengalami ganjalan hebat untuk bersatu. Belum lagi keberadaan Ray yang tetap berusaha untuk menyatakan perasaannya pada Mia.
Siapakah yang akhirnya berhasil merebut hati Mia? Alex Hirano ataupun Ray Hirano? Peristiwa apa yang membuat Alex berhenti menganggap Mia malaikat kegelapan baginya, dan peristiwa besar apa pula yang dialami Mia?

-----------------------------------------------------------------------------------------

Akhirnya, berhasil juga saya menamatkan membaca novel ini setelah “perjuangan”  nyaris tiga tahun. Duh, lebay amat yak? Nyatanya, selama tiga tahun itu, saya memang berulang kali mencoba membaca novel ini, namun kemudian menyerah, membaca lagi, menyerah lagi, sampai akhirnya di awal tahun ini, saya bertekad untuk bisa menamatkannya. Pikir saya, masa sih novel mega best seller yang terjual 15 ribu eksemplar hanya dalam tempo dua minggu dan bakal difilmkan ini, gagal saya khatamkan? Parah banget dong selera saya kalau begitu? :p

Jadi, saat membaca ulang novel ini, saya meminjam tips yang saya baca di blog Bernard Batubara, bahwa sebaiknya kita mengosongkan ekspektasi saat akan membaca sebuah buku untuk bisa memberi penilaian yang objektif. Nah, saya akui, inilah salah satu kesalahan saya selama ini. saya telah membaca banyak novel roman yang begitu “berusaha keras” untuk menampilkan setting yang detail, konflik yang bergejolak dan emosional, karakter yang matang, dsb, sehingga saat membaca novel ini yang dalam banyak unsur terasa – minjem judul lagu lawasnya Meiam Bellina – semua biasa saja, saya pun jadinya terjebak dalam repetisi baca-taroh-simpen-baca-taroh-simpen yang tak kunjung selesai itu.

Dan, tips Bernard itu ternyata bekerja dengan baik, teman. Saat saya menolkan ekspektasi dan berhenti membandingkan novel ini dengan beragam novel lainnya, barulah saya dapat merasakan bahwa novel ini memang very enjoyable and lovable. Mungkin, Ilana Tan adalah satu dari sedikit penulis yang benar-benar menjaga baik konsistensinya untuk menampilkan unsur-unsur yang memberi rasa manis dan tenang, mulai dari tata bahasa, dialog, adegan, karakter serta konflik yang tetap on the track versi Ilana, dalam artian tetap berada dalam tataran yang serba ‘manis dan baik-baik’ saja.

Yup. Di sini kita tidak akan menjumpai ledakan konflik yang menggelorakan emosi, karakter antagonis yang bikin sebel setengah mati, ataupun dialog yang berisi ucapan kasar dan caci maki, semuanya benar-benar disajikan secara lembut, halus dan manis.

Keunggulan lain dari Ilana adalah, Ilana begitu natural dalam mengemas plot yang sebenarnya klise juga dalam mengemas jalinan kisah romantis antara tokoh-tokohnya. Proses metamorfosis sikap Alex Hirano dari benci jadi cinta berjalan begitu halus dan alami, dan cara Ilana menggambarkan interaksi dan reaksi tokoh-tokohnya juga terhindar dari kesan lebay atauberlebihan. Ilana juga cukup detil menggambarkan gerak-gerik dan ekspresi para tokohnya sehingga pergerakan novel ini terasa filmis, tak ubahnya melihat visualisasi drakor dalam bentuk novel.

Lalu, ada keunggulan, berarti ada kelemahan. Nah, menurut saya, kelemahan paling menonjol dalam novel-novel Ilana itu adalah pada setting. Ibaratnya nih, kalo nulis novel type novel-novelnya Ilana, penulisnya nggak perlu banyak riset, cukup tahu gambaran umum tentang cuaca, nama resto, jalan, cukup dah. Jadi mau disebutin ini novelnya bersetting di kota A, B, C tetep nuansanya nggak jauh berbeda. Sampe-sampe saya pernah berpikir sirik, duh enak banget ya jadi Ilana, settingnya cukup nyebut gambaran umum aja, tetep aja novelnya laku keras. Sementara banyak penulis lain di luar sana (termasuk saya) yang harus jungkir balik supaya settingnya detail, teteep aja ada yang ngeritik masih kurang kerasa-lah, masih dangkal-lah, and so on, ....and so far, belum bisa punya novel selaris novel-novel Ilana :D Kira-kira kalo saya nggak ambil pusing sangat soal setting novel, bakal ngefek ke selling nggak ya? Kayanya kalo ngefek ke kritik sih iya! Hehe.

Oke deh segini aja resensi saya untuk Sunshine Becomes You, dan jujur saya sempet tertegun sedih pas baca bab-bab akhirnya, namun sayangnya, begitu saya menutup novel ini, hati saya nggak merasakan adanya kesan emosional yang tertinggal. Begitu juga tak satu pun diantara tokoh-tokohnya yang masih nyantol dalam kenangan saya dan menghadirkan kesan yang kuat. Meski begitu, saya tetep kasih 3 star untuk novel yang covernya cantik banget ini, karena udah “mengajari” saya akan betapa kemanisan dan keindahan penuturan dan cara menjalin kisah bisa membuat banyak hal didalamnya pun terasa manis dan indah, juga karena novel ini telah menyemangati saya buat kembali nulis novel romance :D

Judul                    :               Sunshine Becomes You
Penulis                 :               Ilana Tan
Penerbit               :               Gramedia Pustaka Utama
Tahun                   :               2012
Jumlah hal            :               432 hal

7 comments:

  1. Memang kalau dari setting, harus kuakui Ilana Tan gak fokus ke situ. Seandainya, Mia bukan penari dan Alex bukan pianis, dan mereka bukan lulusan sekolah Juilliard (Sekolah musik paling bergengsi dan paling terkenal di seluruh dunia), kurasa settingnya pindah ke Indonesia tanpa harus repot-repot di Amerika, pun nggak masalah kayaknya ya mbak.
    Cuma kalo aku melihat, dalam hal pekerjaan tokohnya, Amerika kan memang tempat yang bagus untuk mereka yang bekerja di bidang dunia kreatif kayak Alex dan Mia. Maksudku, orang2 seperti mereka, kuliah di sekolah musik memang untuk mendedikasikan hidup mereka di situ selain pekerjaan. Mungkin itu yang jadi pertimbangan, mungkin sih, aku nggak tau persis karena nggak tau perkembangan dunia kreatif Indonesia, terutama bidang musik, cuma nebak-nebak aja, wkwkwk...
    Aku cinta setengah mati sama Alex ini. Mungkin karena pengaruh aku yang suka sama pria Jepang sih, hahaha...

    ReplyDelete
  2. Mengosongkan ekspektasi yesss. Tips keren

    ReplyDelete
  3. Hmm.. resensinya cukup detail. Mba Riawanielyta spesialis resendi novel ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak spesialis sih....seneng aja meresensi, rasanya seasyik baca buku :D

      Delete
  4. Memang, jadi Ilana enak banget rasanya. Gak perlu pusing riset setting sedalam sumur untuk nulis luar negeri :D sedangkan aku, nulis novel Jepang aja riset setting rasanya ampek jungkir balik, Kak haha :3

    ReplyDelete
  5. walaupun saya ngakunya addict baca novel saya belum pernah baca novel ilana tan, karena ya ekspektasi itu mba, sering baca reviewnya dan katanya biasa, kurang greget jadi niat mau beli selalu di rem, kecuali dipinjemin baru mungkin akan saya baca karena ingin tahu hehhe tapi sepertinya kadar keromantisannya yang membuat novelnya best seller, terutama di minati remaja :)

    ReplyDelete