Riawani Elyta: Resensi Novel Friends Don't Kiss : Lebih dari sekadar menghibur

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 28 February 2015

Resensi Novel Friends Don't Kiss : Lebih dari sekadar menghibur


Sinopsis :
Menjadi sukarelawan konselor laktasi adalah sebuah pilihan yang langka, idealis dan sekaligus menantang. Terlebih-lebih, jika profesi itu dilakukan oleh seorang gadis lajang seperti Mia Ramsy.  Ya. Siapa sih yang bisa seratus persen percaya pada nasehat seorang konselor yang belum pernah melahirkan dan menyusui? Bahkan dengan adik kandungnya Lia yang baru saja melahirkan, Mia harus melalui perdebatan demi perdebatan sengit saat memberi anjuran positif tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif.

Namun semangat dan kegigihan Mia dalam memperjuangkan hak setiap bayi terhadap ASI eksklusif melalui organisasi nirlaba Indonesian Breastfeeding Mothers (IBM) tak perlu diragukan lagi. Bagi Mia, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu kepada anaknya.

Sementara itu, pada suatu momen tak terduga, kecerobohan Mia membuatnya menabrak mobil seseorang di parkiran rumah sakit. Pemilik mobil yang ditabrak itu adalah Hardian Subagyo atau dipanggil Ryan. Berawal dari pertemuan dengan cara yang konyol itu, interaksi mereka mulai berlangsung. Perlahan tapi pasti, bibit cinta di dalam hati Ryan terhadap Mia mulai tumbuh dan berkembang. Di mata Ryan, gadis mirip Winona Ryder itu memiliki keunikan yang belum pernah ia temui pada gadis mana pun selama ini. Dan apa yang terpenting, gadis itulah yang pertama kalinya mampu menggetarkan hati dan hasratnya untuk lebih dari sekedar menyayangi, tetapi memilikinya secara utuh dan membawa hubungan mereka ke jenjang pernikahan.

Tetapi, sebuah kenyataan tentang Ryan yang akhirnya diketahui Mia, meluluhlantakkan segala rencana Ryan. Gadis itu menolak cintanya dan menghindarinya.

Kenyataan apa gerangan tentang Ryan yang sangat mengecewakan Mia? Lantas, pengorbanan apa yang dilakukan Ryan demi meraih cinta Mia kembali? Berhasilkah Ryan dalam pengorbanan tersebut atau justru berakhir dengan kesia-siaan? Semuanya akan terurai dalam novel setebal 208 halaman bersampul warna biru muda ini.

-------------------------------------------------------

Friends Don’t Kiss adalah novel metropop keenam karya Syafrina Siregar yang saya baca setelah April Cafe, My Two Lovers, Psycho-love, DJ & JD dan Early.

Sejak pertama kali jatuh cinta pada novel-novel bergenre metropop dan membaca April Cafe, saya memang langsung klik dengan karya-karya Syafrina. Selain karena gaya penceritaannya yang lugas dan lincah, latar kota Batam dan negara Singapura yang beberapa kali diangkat Syafrina sebagai setting novelnya, menjadikan karya Syafrina terasa begitu dekat. Karena Batam dan Singapura, adalah dua tempat di dunia yang paling saya akrabi setelah kampung halaman.

Ketika membuka lembar pertama novel ini, pertanyaan awal yang muncul di benak saya adalah : adakah progress yang dilakukan Syafrina pada novelnya kali ini? Adakah sesuatu yang baru atau hanya mendaur ulang tema-tema stereotype dalam kemasan yang baru? Saat membaca sinopsisnya, saya menangkap adanya pesan tentang ASI eksklusif di dalam novel ini. Rasa penasaran saya pun kian bertambah : bagaimana gerangan Syafrina meleburkan pesan ini di dalam sebuah novel bergenre metropop?

Ini memang bukan novel pertama penulis yang memuat pesan edukatif. Sebelumnya, penulis juga telah mengangkat tema tentang ODHA pada novelnya yang berjudul Dengan Hati. Dan usaha semacam ini tentunya sangat layak diapresiasi. Karena adanya muatan positif dapat memberi nilai tambah yang bermanfaat terhadap sebuah bacaan populer.

Lantas, apa kesan saya setelah menamatkan novel ini? 
Saya awali dengan poin-poin positifnya dulu :

  •   Ekspektasi saya akan progress menulis Syafrina cukup terpenuhi. Dalam novel ini, gerak tutur tulisan Syafrina terasa kian luwes dan lancar. Kemampuan Syafrina menampilkan adegan dan dialog yang lucu namun tetap natural juga kian terasah. Buat saya, menampilkan situasi cerita yang dapat membuat pembaca tersenyum atau tertawa spontan bukanlah hal yang gampang, salah-salah, justru terasa garing, dan hal itu untungnya tak berlaku untuk novel Syafrina yang satu ini. Buktinya, beberapa kali saya berhasil dibuat gemes dan tersenyum-senyum geli terhadap interaksi Mia dan Ryan, juga kecerobohan Mia yang selalu menabrak mobil di parkiran.

  • Upaya Syafrina meleburkan informasi edukatif tentang pentingnya ASI eksklusif dengan fiksi berlatar percintaan juga cukup berhasil. Meskipun pada beberapa titik, muatan informasi yang disampaikan cukup padat, hal tersebut tidak mengurangi nuansa romantisme yang mengalir bersama kisah Mia dan Ryan. Syafrina juga cukup cerdas dalam membangun konflik antar keduanya yang dipicu oleh konflik eksternal berupa pertentangan antara memperjuangkan dukungan terhadap ibu menyusui oleh organisasi yang peduli terhadap pentingnya ASI eksklusif dengan orientasi profit dari pemilik pabrik susu formula.

  • Karakter-karakter yang dihadirkan dalam novel ini pun cukup realistis. Masing-masing tokoh memiliki sisi baik dan buruk sehingga tidak menjelma sosok yang hitam putih. Karakter Mia yang gigih, idealis dan meletup-letup berpadu dengan kecerobohan dan spontanitasnya dalam bertindak. Karakter Ryan yang dominan, maskulin, ambisius namun di sisi lain memiliki perhatian dan kepedulian yang mampu membuat hati wanita luluh. Deskripsi sosok Lia dengan segala emosi yang dialaminya pasca melahirkan juga sangat manusiawi. Pengalaman Lia yang terjaga sepanjang malam dan mengalami keletihan karena bayinya terus-terusan ingin disusui, juga situasi dilematis saat harus mengganti ASI dengan susu formula karena anggapan yang keliru terhadap produksi ASI, mengingatkan saya pada sederet persoalan serupa yang saya alami pada kelahiran anak pertama dan si bungsu.


Sebagian orang mungkin akan berpendapat bahwa sosok Mia bersama deretan petuah nasehatnya tentang ASI di dalam kisah ini terkesan menggurui. Namun sekali lagi Syafrina berhasil menyiasati hal ini dengan menyertakan latar belakang atas karakter Mia tersebut. 

Seseorang seperti Mia Ramsy, yang belum pernah merasakan pengalaman melahirkan dan menyusui serta belum lama menggeluti aktivitas sebagai konselor laktasi, memang sangat rentan akan kecenderungan memiliki idealisme yang meledak-ledak, terlalu bersemangat dalam mengedukasi hingga terkadang mengabaikan sisi psikologis klien yang baru usai melahirkan. Dan latar belakang ini menurut saya cukup proporsional saat disandingkan dengan berderet nasehat dan informasi yang disampaikan Mia dengan penuh antusias di sepanjang novel ini.

Penyesalan Mia saat akhirnya menyadari kekurangannya yang turut dihadirkan Syafrina membuat karakter Mia pun terasa humanis. Berikut cuplikannya :

“Gue merasa nggak pantas jadi konselor. Selama ini gue salah langkah. Benar yang dikatakan Lia. Dan mungkin juga beberapa klien gue yang lain merasakan hal sama. Gue tuh seharusnya berdiri di samping mereka, mendukung mereka. Bukannya di depan mereka, menggurui mereka,” Sesal Mia. (hal. 135).

  • Berbagai informasi seputar ASI eksklusif dan proses menyusui yang dibeberkan secara detail, sangat bermanfaat untuk memberi wawasan dan pengetahuan baru bagi pembaca, khususnya pembaca (wanita) yang belum pernah mengalami proses melahirkan dan menyusui. Bagi kaum bapak, pengetahuan ini bisa menjadi bekal saat mendampingi dan mendukung istri sepenuhnya untuk memberikan ASI eksklusif. Dan bagi kaum ibu yang sudah pernah mengalami, informasi-informasi tersebut dapat memperkaya pengetahuan yang pernah diperoleh selama ini sehingga dapat menjadi tambahan ilmu andai berencana ingin menambah momongan lagi :)

Selain hal-hal positif diatas, novel ini juga tak luput dari sedikit kejanggalan. Pada halaman 128, saat Ryan bertanya tentang trik kotor pemasaran seperti apa yang Mia maksud, Mia menjawab : “Mereka mendekati para ibu yang baru melahirkan, menawarkan berbagai macam insentif, hadiah, dan lainnya.”

Nah, pertanyaannya : bagaimana gerangan para sales promotion susu formula mengetahui kalau ibu yang mereka dekati adalah ibu yang baru melahirkan? Tentu berbeda halnya dengan ibu yang sedang hamil karena kondisi fisiknya terlihat jelas. Mungkin akan lebih logis jika jawaban Mia diperinci, misalnya dengan : “Mereka mendekati para ibu yang tengah melihat-lihat susu formula untuk bayi usia nol tahun.”  
Ataupun jika trik kotor itu dilakukan di rumah sakit, dimana para tim pemasaran susu formula langsung mendekati ibu yang baru melahirkan, saya pikir nggak ada salahnya jika lokasi kejadian juga disertakan di dalam jawaban Mia, misalnya dengan : "Mereka mendekati para ibu yang baru melahirkan di rumah sakit, dst...." 

Mengingat kasus-kasus seputar hal ini sifatnya sangat spesifik, sehingga bagi pembaca yang awam terhadap topik ASI eksklusif bisa mengalami kerancuan. Lain daerah lain pula realisasinya. Sebagai perbandingan, saat saya melahirkan putri ketiga di sebuah klinik bersalin empat tahun lalu, regulasi tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif pada bayi yang baru lahir, terlaksana dengan baik. Setiap bayi yang baru lahir akan diletakkan diatas tubuh ibunya untuk belajar menyusui sekurang-kurangnya setengah jam, dan selanjutnya, ibu dan bayinya akan menjalani rooming-in atau dirawat di ruang yang sama. Tidak terlihat produk susu formula bahkan dalam bentuk sampel sekalipun. Ini jauh berbeda dengan pengalaman saat melahirkan anak pertama dan kedua, dimana dari pihak klinik dan rumah sakit langsung menyediakan susu formula dan pada kelahiran anak kedua, bayi dipisahkan sehari semalam sebelum dipertemukan lagi dengan ibunya.

Saya pikir, seiring pemahaman yang semakin baik terhadap regulasi yang mendukung pemberian ASI eksklusif, kasus-kasus tersebut tak akan ditemukan lagi. Tetapi ternyata, di lain tempat pula, kasus pasca melahirkan yang saya alami sebelas dan sembilan tahun lalu itu, dimana produk susu formula tetap diijinkan "menyusup" di rumah sakit dan klinik bersalin serta ibu dan bayi yang dirawat terpisah, masih saja terjadi. 
Kejanggalan lainnya juga saya temukan pada adegan talkshow di halaman 161 :
“Tak berapa lama, nampak beberapa orang panitia membawa kain putih untuk menutupi logo Prima Gold di banner dan backdrop. Kemudian MC naik ke atas panggung dan memulai acara talkshow dan memanggil semua pengisi acara termasuk Mia. Tak terasa satu jam kemudian acara talkshow usai.”

Selanjutnya, pada halaman berikutnya diceritakan tentang Gina yang mengirim WhatsApp berisi foto Mia sedang berbicara di depan audiens dengan backdrop yang masih menampilkan logo Prima Gold, dan dari konfirmasi pihak IBM kepada panitia, dikatakan kalau orang dari Prima Gold-lah yang melepas kain penutup logo tersebut.

Pertanyaannya : Bukankah ketika itu talkshow sedang berlangsung dan disaksikan oleh para audiens? Jadi nggak mungkin dong kalau nggak ada yang menyadari termasuk Mia sendiri saat ada yang datang lalu melepas kain penutup logo? Apalagi, pekerjaan melepaskan kain juga bukan pekerjaan tukang sulap yang bisa menghilangkan benda dari pandangan dalam sedetik. Itu pasti butuh waktu dan proses yang sudah tentu tak akan luput dari penglihatan orang-orang yang hadir.

Selanjutnya, sebagai penggemar karya Syafrina dan novel-novel metropop, izinkan saya menyampaikan beberapa masukan untuk novel ini :

  1.  Informasi-informasi tentang ASI yang disampaikan Mia dalam beberapa dialog, sepertinya masih bisa diperhalus penyampaiannya agar kesannya lebih natural, tidak terkesan text-book ataupun seperti menyalin langsung dari sumbernya. Saya kutip salah satunya :
“Kode Etik ini secara internasional disebut sebagai International Code of Marketing of Breastmilk Substitute yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 1981. Salah satu poinnya yaitu larangan penggunaan sarana kesehatan untuk kegiatan promosi susu formula dan larangan bagi produsen susu formula untuk menawarkan langsung ke rumah-rumah, memberikan potongan harga, atau hadiah,....”

Well. Sepertinya jarang banget ya orang bicara langsung seperti ini kecuali jika ada teks di depannya dan dia tinggal membacanya?
  
2.      Saya akui, karakter fisiologis dan sosiologis Hardian Subagyo atau Ryan yang dideskripsikan sebagai seorang yang tampan, kaya raya, pemilik pabrik, anak tunggal pengusaha terkaya se-Asia Pasifik, ditunjang pula oleh karakter psikologisnya yang sangat maskulin, adalah karakter yang mampu bikin hati pembaca wanita berdesir-desir dan klepek-klepek, serta menjadi karakter yang cukup mainstream dalam novel-novel metropop.

Tetapi, rasanya nggak ada salahnya juga kalau sesekali novel di genre ini menampilkan karakter sosiologis tokohnya yang lebih membumi atau down to earth. Misalnya saja Ryan digambarkan bukan sebagai sang pemilik pabrik, tetapi cukup sebagai kepala tim pemasaran susu formula yang berwenang menentukan trik-trik pemasaran. Lalu saat hal ini memicu konflik dengan Mia, Ryan terjebak situasi dilematis antara memilih Mia dan meninggalkan pekerjaannya sementara perusahaan telah memberinya gaji yang layak dan menuntutnya harus terus berupaya menaikkan profit perusahaan, sementara di sisi lain Ryan juga harus menanggung biaya hidup orang tuanya, ataupun tetap bertahan menekuni profesinya dengan konsekuensi melepaskan Mia.

Melihat dari sinopsis cerita, karakter Ryan, menelusuri proses jatuh bangun kisah cinta Mia dan Ryan serta pengorbanan besar yang dilakukan Ryan untuk meraih cinta Mia kembali, membuat novel ini lebih cenderung pada typikal harlequin, dan harlequin versi Indonesia adalah lini Amore. Tetapi barangkali, karena gaya penuturan Syafrina yang tergolong lincah dan selama ini pun Syafrina telah dikenal lewat karya-karyanya yang bergenre metropop, maka novel ini pun sepertinya memang lebih “layak” mengusung logo metropop.

Novel ini cocok untuk para penggemar fiksi populer yang menyukai gaya penceritaan yang lincah dan segar, dan lebih direkomendasikan untuk pembaca berusia dewasa. Hal ini mengingat tema edukatif yang diangkat adalah persoalan yang memang menyentuh kehidupan wanita dewasa khususnya kaum ibu, dan meskipun judulnya Friends Don’t Kiss, beberapa kali adegan kissing tetap akan kita jumpai pada interaksi antara Mia dan Ryan.

Buat saya, novel ini lebih dari sekadar menghibur, tetapi juga memperkaya pengetahuan tentang ASI eksklusif, tindakan-tindakan antisipatif terhadap kasus-kasus seputar pemberian ASI eksklusif termasuk cara mengatasi kesulitan yang dialami para ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Sebuah multimanfaat yang jarang banget saya temui dalam novel-novel populer dan sekali lagi, sangat layak diapresiasi.

Semoga Syafrina tetap gigih mengangkat tema-tema edukatif lainnya dalam karya-karyanya selanjutnya, segigih Mia Ramsy dan para konselor IBM saat memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif dalam Friends Don’t Kiss :).

Judul         : Friends Don’t Kiss
Penulis       : Syafrina Siregar
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama
Jenis          : Novel / fiksi
Tahun        : 2014
Hal            : 208 hal


7 comments:

  1. Wah, mresensinya apik.
    Menang lagi nih kayaknya mbak :D

    ReplyDelete
  2. Wooow....komplit, tampaknya seluruh isi sudah tercerminkan dalam resensi ini.Diikutkan lomba ya Mbak?

    ReplyDelete
  3. Kereeeen. ini bagus sekali buat perempuan lajang - dewasa muda. Kalo disajikan dalam bentuk novel, bisa lebih masuk pesannya.

    Mbak Lyta detil sekali, seperti biasa. Review-nya keren.

    Oya saya pernah mengalami yang ini:

    Pada halaman 128, saat Ryan bertanya tentang trik kotor pemasaran seperti apa yang Mia maksud, Mia menjawab : “Mereka mendekati para ibu yang baru melahirkan, menawarkan berbagai macam insentif, hadiah, dan lainnya.”

    Ini beneran terjadi pada saya, di rumah bersalin, ketika baru saja melahirkan putri kedua saya. Dan yang melakukannya: BIDAN yang menolong persalinan saya. Saya dioengaruhi untuk pakai susu formula karena kata dia bayi baru lahir bisa kuning kalo tidak banyak minum dan biasa ASI yang baru keluar cuma sedikit. Untungnya saya berkeras tidak mau pakai sufor. Bidan itu melakukannya karena secara otomatis, di RSB itu akan dibuka sekaleng susu formula setiap ada ibu yang baru melahirkan. Kurang ajar banget ya?

    ReplyDelete
  4. makasih mbak Eky, Amiiin :)

    Iya Lina, hehe

    mbak Niar : itu kejadiannya tahun berapa mbak? Waktu saya melahirkan anak pertama dan kedua juga masih kejadian, tapi udah berlalu sekitar 11 dan 9 tahun lalu. Pas anak ketiga kira2 4 tahun lalu udah nggak ada lagi kasus spt itu. Makasih infonya mbak :)

    ReplyDelete
  5. Saya juga mengalami yg sama nih Mb Lyta. Pas kelahiran anak pertama 11 tahun yg lalu di RSU kota ya begitu. Dibilang anak saya tak kunjung keluar feses hitam gara2 kekurangan asupan ASI, harus ditambah ama sufor. Waktu itu ya manut2 aja saya :(
    Resensinya sip banget, semoga menang ya mba....

    ReplyDelete
  6. Selain bagus infonya , , mantap juga niihhh . . !!!

    ReplyDelete