Riawani Elyta: Resensi Novel The Old Man and The Sea : Novel Heroik dari Sang Pecundang

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 8 November 2014

Resensi Novel The Old Man and The Sea : Novel Heroik dari Sang Pecundang



Novel legendaris dan penulisnya, cakep juga yak  :p

Barangkali, inilah salah satu novel paling legendaris dalam enam decade terakhir. Sebuah rentang waktu yang cukup lama sejak novel ini pertama kali dipublikasi, dan berhasil meraih 3 (tiga) penghargaan kelas dunia, yaitu Pulitzer (1953), Award of Merit Medal for Novel (1953) dan Nobel Sastra (1954).


Novel ini berkisah tentang perjalanan seorang lelaki tua bernama Santiago yang mengarungi lautan seorang diri, perjuangannya untuk survive dengan seekor ikan yang tersangkut di kailnya dan menjadi “teman seperjalanan”nya. Teman dalam konotasi yang cukup ekstrim, karena dengan adanya ikan inilah, membangkitkan daya survivor Santiago hingga ke titik maksimal. Santiago tak ingin melepaskan ikan yang ukurannya melebihi besar perahunya itu, karenanya ia harus berjuang untuk bisa menaklukkan atau membunuh ikan tersebut, melanjutkan perjalanan dengan jasad ikan itu tetap terikat di perahunya, sementara di sisi lain, ia juga harus bertahan dari para hiu yang mengekorinya setelah ikan besar itu terbunuh dan berjuang untuk bisa kembali pulang.

Jujur, saat pertama membaca novel ini, saya merasa luar biasa bosan. Penerjemahan dalam kalimat yang panjang-panjang juga kerap membuat lelah dan lost focus. Tetapi, saya tak ingin langsung menyerah. Saya yakin, ada sesuatu dari novel ini yang membuat eksistensinya begitu long lasting dan diganjar oleh berbagai penghargaan internasional.

Maka, saya pun membaca ulang, kali ini dengan lebih perlahan, dan barulah pada proses kedua kali, saya merasakan efek yang jauh berbeda. Pelan tapi pasti, saya mulai terhanyut oleh narasi dan deskripsi penulisnya yang begitu cermat, runut, detail dan sabar hingga rasanya sayang sekali untuk melewatkan satu baris pun. Saya membayangkan, saat novel ini diterbitkan pada era tahun lima puluhan dulu, tentulah mengundang apresiasi yang luar biasa oleh penceritaannya yang sangat deskriptif. 

Selama membacanya, benak saya otomatis memvisualisasikan setiap adegan yang diceritakan penulis dengan begitu jelas, diantaranya tentang ciri-ciri ikan yang ditangkap Santiago, ketegangan yang dialaminya saat menundukkan sang ikan besar itu dan saat membunuh hiu-hiu, bagaimana Santiago menguliti daging ikan tangkapannya lalu memakannya mentah-mentah saat lapar, dan sebagainya. Begitu pun saat Santiago berbicara sendirian tentang hal-hal yang dialaminya sepanjang perjalanan. Sebuah teknik penceritaan yang tak lagi banyak saya temukan dalam novel-novel pada era sekarang. Mungkin, pengaruh perkembangan jaman membuat selera pembaca pun bergeser pada novel-novel dengan ritme yang cepat dan konflik-konflik yang menukik. Sementara novel-novel setype ini hanya muncul pada karya-karya sastra ataupun besutan lomba-lomba novel sastra.

Hanya saja, novel ini memang nyaris tidak menyertakan penggambaran konflik batin yang dialami Santiago selain lewat monolog-monolognya yang terbatas. Hingga dari sisi emosional terasa kurang tereksplorasi. Satu hal yang unik, dalam novel ini penulisnya nyaris tidak menggunakan satu kalimat pun untuk melakukan justifikasi atas tokohnya ataupun menggiring rasa simpati ataupun opini pembaca terhadap Santiago maupun peristiwa yang dialaminya. Jadi, novel ini memang murni mengandalkan kekuatan dan kedetilan narasi dan deskripsinya sebagai cara penulis menyampaikan pemikiran dan pesannya, yang tentu saja jarang ditemui pada banyak karya kontemporer.

Sayang, keheroikan sosok lelaki tua Santiago dalam novel ini, ternyata berbanding terbalik dengan kondisi psikis penulisnya. Diketahui bahwa Ernest adalah seorang penulis yang menderita gangguan mental, memiliki kepribadian ganda dan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Dan memang, saat kita mencermati isi novel ini dengan sedikit jeli, terdapat beberapa hal yang mencerminkan isi pikiran penulisnya yang cenderung “meniadakan” eksistensi ketuhanan.

Saya kutip salah satu kalimat monolog Santiago : "Manusia diciptakan bukan untuk ditaklukkan. Seorang manusia bisa dihancurkan, tetapi tidak untuk ditundukkan."

Saat membaca kalimat ini berulang-ulang, saya menangkap makna yang tidak sekadar menunjukkan semangat Santiago untuk survive, tetapi juga mencerminkan ego yang sangat tinggi. Barangkali, pemikiran inilah yang juga menjadi cerminan sebagian diri penulisnya. Sehingga saat ia "terkalahkan" oleh hidup, bunuh dirilah menjadi pilihannya.

Sementara, di sisi lain, sepertinya penulis juga tidak mengingkari kodrat Santiago yang tetap membutuhkan orang lain. Ini dibuktikan dengan monolog berulang-ulang Santiago saat mengatakan andai bocah kecil itu ada bersamanya. Bocah kecil satu-satunya sahabat Santiago yang kerap menemani Santiago melaut, namun larangan ayahnya menghalanginya menemani Santiago pada perjalanan kali itu.

Novel ini mungkin bukan pilihan pembaca dengan selera terhadap cerita yang dinamis. Tetapi, inilah satu karya besar di jamannya yang layak untuk dibaca dan dapat melatih pikiran kita untuk menangkap nilai-nilai kehidupan yang terdapat di dalamnya.
Judul   :  The Old man and The Sea
Penulis :  Ernest Hemingway
Penerbit : Liris
Tahun  :  2013
Hal      :  128 hal




4 comments:

  1. Ngenes ya, pilihan mengakhiri hidupnya. Kata ditundukkan memang bisa ditafsiri dibunuh atau kematian. Kurang lebih seperti tafsiran Mbak.
    Novel klasik memang begini, termasuk novel lama Indonesia. Cenderung bertele-tele dan membosankan. Tapi yang membuat bertahan lama dikenang menurut saya adalah pesan yang dikedepankan.
    Say sempat nemu novel ini di perpustakaan dan baca sebentar. Sayangnya waktu itu memutuskan menyerah, nggak jadi pinjam :D

    ReplyDelete
  2. udah lama pengen beli tai belum sempet juga. Mudah2an masih edar di Batam

    ReplyDelete
  3. iya Melani, dan Ernest bukan satu2nya penulis yg mati krn bunuh diri :( iya kalo pertama2 baca emang ngebosenin, sama kaya' novel jadul kita

    Lina : siapa tahu ada versi terbitan lain yg lebih bagus terjemahanya di batam ya, kalo yg ini byk panjang2 deskripsinya

    ReplyDelete
  4. Tragis yah Mbak akhir hidup penulisnya. Untuk novelnya, bikin penasaran klo udah Mbak Lyta yang ngeresensi :)

    ReplyDelete