Riawani Elyta: Resensi Novel Bulan Nararya : Transpersonal vs Farmakologi dalam penyembuhan Skizophrenia

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 29 November 2014

Resensi Novel Bulan Nararya : Transpersonal vs Farmakologi dalam penyembuhan Skizophrenia



Saat membaca stempel juara III Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 pada sampulnya, begitu pun saat membaca judulnya yang terkesan eksotis, saya sempat menduga kalau ini adalah novel berlatar kultur daerah dengan lokalitas yang kental, ternyata, ekspektasi saya meleset.

Dengan tokoh sentral bernama Nararya, atau Rara yang bekerja sebagai seorang therapis di klinik kesehatan mental milik Bu Sausan. Di antara pasien klinik, terdapat Sania, seorang gadis cilik dengan latar belakang teramat buruk. Lahir dari rahim seorang ibu perokok dan suka bergonta-ganti pasangan, memiliki ayah pemabuk dan dibesarkan oleh nenek yang pemukul, Sania tumbuh sebagai gadis cilik yang kekurangan gizi, mengenyam pendidikan hanya sampai kelas 2 SD dan tubuh yang penuh jejak kekerasan.

Ada pula Pak Bulan, lelaki mantan residivis yang gemar menatap bulan berlama-lama, dan dibuang oleh lembaga pemasyarakatan tak ubahnya membuang kucing buduk.

Juga ada Yudhistira, seorang pria pengidap skizophrenia. Penyakit yang diduga kuat erat hubungannya dengan pola pengasuhan terhadapnya. Sejak kecil, Yudhistira selalu diproteksi dengan ketat oleh ibu dan ketiga kakaknya, bahkan sampai dewasa dan berkeluarga, ia tetap mendapat sokongan materi dari ibunya yang mapan. Sementara sosok sang istri, Diana, adalah seorang perempuan superior, mandiri, keras kepala, dan menolak segala bentuk dukungan materil dari keluarga mertuanya. Memiliki para wanita dengan watak kontradiktif ini ternyata menimbulkan tekanan mental pada Yudhistira.

Rara sendiri tidak terlepas dari belitan permasalahan yang menimpa rumah tangganya. Bersuamikan Angga, seorang pria simpatik dengan banyak wanita pengagum di sekelilingnya, ditambah ketiadaan anak dalam kurun waktu sepuluh tahun pernikahan, bahtera itu pun kandas. Kondisi ini diperparah dengan kehadiran orang ketiga. Adalah Moza, partner kerja Rara yang cantik dan awalnya dipercaya Rara untuk memediasi mereka pada titik kritis pernikahan, ternyata kemudian jatuh cinta dengan Angga, begitu pun sebaliknya. Keduanya pun lalu menikah diam-diam tak lama setelah perceraian Angga dan Rara.

Menghadapi persoalan pribadi yang cukup menguras energi, ditambah pula keharusan menangani para pasien sakit jiwa, tak luput memberi Rara dampak psikis yang tak kurang peliknya. Ia menemukan bunga mawar berlumur darah amis di sekitar ruang kerjanya, membuatnya panik dan mengira dirinya mengalami halusinasi, namun kejadian berulang membuatnya yakin kalau itu benar-benar nyata.

Di sisi lain, usaha Rara untuk mengembangkan therapi pemulihan pasien dengan cara transpersonal, yaitu melalui pendekatan budaya dan melibatkan anggota keluarga serta meminimalisir farmakologi (penggunaan obat-obatan) mendapat tentangan dari ibu Sausan yang tetap ingin menggunakan cara-cara konvensional. Di tengah kemelutnya, Rara juga sempat bertemu dengan Farida, perempuan yang ditinggal mati suaminya akibat konflik berdarah di Poso. Perkenalan dan persahabatan yang sedikit banyak cukup memberi kontribusi pada cara pandang Rara terhadap pernikahannya.

Siapa sebenarnya dalang dibalik bunga-bunga mawar dan darah berbau amis yang membuat Rara ketakutan? Ataukah pemandangan itu hanya halusinasinya belaka? Akankah Yudhistira, Sania, Pak Bulan dan Rara sendiri, berhasil menyembuhkan diri dari persoalan mereka masing-masing?

Novel berlatar psikologi, boleh dibilang kemunculannya dalam ranah fiksi tanah air, masih dapat dihitung jari. Maka kehadiran Bulan Nararya seakan mengembuskan angin segar di tengah kancah peredaran novel tanah air yang masih dikuasai oleh novel-novel remaja, romance, horor dan komedi. Apalagi ditunjang oleh kemampuan akademis penulisnya yang saat ini tengah menyelesaikan studi Magister Psikologi, membuat novel ini benar-benar kental dengan muatan psikologi. Kita tidak hanya sekadar diperkenalkan dengan beragam istilah dalam ilmu kejiwaan, seperti transpersonal, narsistik, histrionik, OCD, tetapi juga diajak menelusuri latar belakang orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, gejala yang mereka alami, proses penyembuhannya, dan bagaimana pula sikap orang-orang normal saat berinteraksi dengan mereka.

Membaca lembar-lembar kisah ini, kita akan dihadapkan dengan konflik demi konflik yang silih berganti, menimpa manusia baik yang normal maupun tidak, dan mbak Sinta berhasil mengemasnya dengan plot yang padat dan dinamis, ditunjang oleh masing-masing karakter yang ditampilkan natural, tidak ada yang benar-benar malaikat atau iblis, juga sebuah kolaborasi ilmu psikologi dan perjalanan kisah hidup yang benar-benar apik.

Beberapa kali mbak Sinta menabrakkan hal yang normal dengan abnormal yang justru meninggalkan jejak perenungan yang dalam. Salah satunya saat Diana curhat pada Rara tentang rencananya untuk bercerai dari Yudhistira dengan alasan menginginkan suami yang normal dan kehidupan yang normal, inilah jawaban Rara :
“Banyak pernikahan berisi sepasang manusia normal, tapi keseharian mereka abnormal. Saling melukai, tak membangun komunikasi, tak mencoba dan mencintai. Di klinik, klien kami orang-orang abnormal. Tapi diantara kami timbul perasaan menerima.” (hal. 55).

Tak sedikit pula adegan yang membangkitkan keharuan. Diantara semua karakter, yang paling merebut rasa simpati saya adalah sosok Sania. Setiap kali terdapat adegan dimana Sania meremas boneka kelincinya sebagai ekspresi kemarahannya, setiap kali itu pulalah air mata saya menggenang.

Dan untuk aliran transpersonal sendiri, meski saya tak memiliki latar ilmu psikologi, tetapi saya sangat mengapresiasinya. Mungkin saja, melalui novel ini, mbak Sinta sedang mengemukakan sumbangsih opininya terhadap perkembangan ilmu psikologi dewasa ini dari apa yang beliau pelajari.

Maaf kalau saya menggunakan satu paragraph resensi ini untuk sedikit mengilasbalik masa lalu. Selama lebih kurang 13 tahun, saya dan keluarga hidup berdampingan dengan seorang anggota keluarga yang mengalami gangguan. Saya juga tidak tahu jenis penyakitnya, hanya dokter menyebutkan kalau ia mengalami gangguan pada syaraf temporal yang mengendalikan emosi. Sehingga pada waktu-waktu tertentu, emosinya menjadi sangat tidak terkendali. Meski telah berobat kemana-mana, pernah juga dirawat inap di klinik rehabilitasi, dan ia pun mengonsumsi obat penenang seumur hidupnya, penyakitnya tak kunjung sembuh, kadang kambuh, kadang normal. Dan selama 13 tahun itu pula, kami mendampinginya dengan cara "menerima"nya. mencoba memandang dunia dengan cara pandang dan pola pikirnya, meski seringkali sangat tidak masuk akal, dan terkadang luar biasa merepotkan, karena jika kami melawannya, maka keselamatan kamilah yang bakal terancam. Ini jugalah cara yang sejalan dengan aliran transpersonal yang dikemukakan dalam novel ini, dan saat sejenak menengok ke masa lalu, saya pikir, selain faktor takdir Allah, itulah cara yang (mungkin) membuat kami sanggup melalui 13 tahun hidup bersama orang yang abnormal. Jangan tanyakan berapa banyak air mata, rasa takut, panik, kehilangan rasa nyaman dan keharusan menekan emosi ke titik terendah dalam bilangan waktu belasan tahun itu. Masa itu pun sudah berlalu, dan ia yang menderita sakit tersebut pun sudah meninggal dunia.

Back to the topic. Novel ini langsung merebut perhatian saya bahkan sejak dari sampulnya. Mulai dari pola desain mirip vignette pada sampul depannya, sinopsis yang tak biasa pada sampul belakang dengan langsung mengutip adegan seru dari cerita, ditambah dengan konten kisah yang tak hanya menghadirkan kebaruan tema, tetapi juga mengupasnya dengan begitu detail, dalam, cerdas dan menawan.


Jika anda bertanya karya siapa yang paling banyak saya baca tahun ini, maka karya mbak Sinta Yudisia-lah jawabannya. Dan Bulan Nararya, menjadi buku keenam beliau yang saya tuntaskan pada tahun ini. Sebagai pamungkas, saya kutip beberapa kalimat bagus dari novel ini :
“Cinta saja tak cukup untuk menjembatani. Hubungan cinta kasih juga membutuhkan pengalaman dan keahlian. Kau bisa saja mengatakan mencintai pasanganmu dengan sangat, tapi apakah caramu sudah cukup ahli untuk membuatnya terkesan, atau justru menjauh dan tertekan?” (hal. 57)

“Cinta kadang semakin kuat justru ketika menemui benturan.” (hal. 185)

“Manusia berevolusi. Bukan yang terkuat yang dapat bertahan. Yang paling adaptiflah yang akan lulus seleksi alam, melewati sekian banyak rintangan.” (hal. 230).

Jadi, berapa bintang untuk novel ini? 5 bintang! Ya, serius. 5 bintang. :)


Judul         :            Bulan Nararya
Penulis      :            Sinta Yudisia
Penerbit    :            Indiva Media Kreasi
Tebal        :            256 hal
Genre       :            Fiksi
Terbit       :            September 2014
ISBN        :            9786021614334



9 comments:

  1. Wuiih.. keren kayaknya nih ya.. tapi kok juara 3 ya? Kupikir juara 1..

    ReplyDelete
  2. Multikonflik banget, ya, Mbak, novel ini. Tapi bener yang Mbak bilang, masih jarang novel dengan muatan psikologi yang sedemikian kental di Indonesia.

    Menurut saya, mengapa 'cuma' juara tiga, bisa jadi karena nuansa budaya, lokalitasnya kurang dibandingkan juara satu, dua. Tulis nusantara itu kan menomorsatukan hal tersebut. Sekadar opini. Tapi novel Mbak Shinta ini memang keren (y) juara deh..

    ReplyDelete
  3. Takjub...speechless...sama pemaparan isi buku, juga hasil mereview...
    Sekata dengan mbk Ika, kayaknya memang multikonflik ya mbak, dengan tokoh yang banyak. Kemarin itu baca review mb Linda atas buku ini, baru tau kalo Nararya itu adalah nama orang. Nama yang unik

    ReplyDelete
  4. toss Mbak.. bintang lima juga..

    Btw, subhanallah, 13 tahun di masa lalu Mbak itu sungguh luar biasa. Salut.. bisa melaluinya dengan penerimaan yg tinggi..

    ReplyDelete
  5. Wah, jadi mau bacaaaa.... (Ru, inget timbunan belom abis!)

    ReplyDelete
  6. Wah resensinya komplit dan mencerahkan. Membaca resensinya seperti diberikan clue menarik yang membuatku nggak sabar baca. Aku hampir sedikit familiar dengan istilah OCD, narsistik dan farmakologi yg disebutkan..maklum 8 tahun dicekoki obat obatan dan diagnosis.

    Trauma masa lalu biasanya jadi pemicu alami. kita memang harus lebih waspada dgn orang yang menerima perlakuan tidak wajar ketika kecil,kekerasan atau lahir dari rahim seorang ibu yg "rusak".

    Aku pengen baca juga buku ini...Kayaknya kak Lyta sll memberikan apreaiasi tinggi untuk buku buku mbak Shinta Yudisia. Aku baru punya rinai, dan belum sempat kubaca.

    Makasih review cantiknya....
    Keren

    ReplyDelete
  7. keren mbak resensinya! :D keren bangett!

    ReplyDelete
  8. Buku ini masih dalam daftar antrian buku yg akan dibaca.. *baca dengan kecepatan kura2 :D*

    ReplyDelete
  9. Betul, sempat menduga-duga Bulan Nararya itu cerita budaya lokal tertentu. Ternyata bukan

    ReplyDelete