Riawani Elyta: Resensi Buku Merajut Benang Cahaya : Menemukan Hikmah dibalik sekecil apapun peristiwa

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Wednesday, 26 November 2014

Resensi Buku Merajut Benang Cahaya : Menemukan Hikmah dibalik sekecil apapun peristiwa

Hidup pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan. Namun terkadang, kita melangkah terlalu cepat, hingga alpa memberi perhatian ekstra pada kelebat demi kelebat peristiwa, alpa pula memungut hikmah yang terserak di dalamnya, bahkan justru membiarkannya berceceran di jalanan. 

Dalam buku ini, kita akan menemukan hal sebaliknya. Buku yang berisi kumpulan perenungan dari apa yang dialami sendiri oleh penulis, interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya juga dari apa yang dilihat, didengar, dan dibaca.

Buku ini terbagi atas tiga bab atau Jeda. Diawali dengan Jeda Pertama yang merangkum kisah-kisah bertemakan rasa syukur. Di sini, terdapat kisah-kisah dan perenungan penulis akan hikmah dibalik kisah tersebut, yang jujur saja, membuat hati saya tersentuh. Sebut saja salah satunya tentang kisah Kakek Pengemis di Depan Toko (hal. 23), dimana sang kakek dengan tubuh menyimpan jejak penyakit lepra, diantara kesehariannya meminta belas kasihan orang yang lalu lalang, dia masih menyempatkan diri untuk menunaikan shalat, membaca Al-Quran dengan mata nyaris menempeli lembar kitab yang bahkan sudah robek disana-sini. Bandingkanlah dengan kebanyakan manusia yang berada dalam kondisi sehat wal-afiat, muda dan punya banyak waktu luang, justru dengan santainya meninggalkan shalat dan menjadikan Al-Quran hanya sebagai penunggu lemari.

Kisah lain yang tak kurang menyentuh adalah yang berjudul Menjadi Buffer. Di sini, penulis membuat analogi menarik dengan larutan buffer yang berfungsi mempertahankan kondisi agar tetap berada pada keadaan yang tidak diinginkan, meski formulasinya tak seterkenal zat aktif dari suatu sediaan.

Saat menghubungkannya dengan kehidupan, cobalah sejenak kita renungkan, berapa banyak orang yang rela menjadi buffer? Yang menjaga keadaan tetap stabil, tanpa perlu terlalu tampil. Tentang anak sulung yang “hanya” seorang petani namun dialah yang membiayai sekolah adik-adiknya hingga menjadi “orang”, dialah buffer. Tentang seorang anak yang “menukar” masa bermainnya karena harus merawat ibunya yang lumpuh, dialah buffer. Tentang seorang nenek yang seharusnya hidup tenang di masa tua, namun selama belasan tahun dia merawat anaknya yang sakit dan tak sempurna, dia juga buffer. (hal. 35).

Pada Jeda Kedua yang berjudul Cinta pada Jalan Cahaya, kita akan diajak menelusuri kisah-kisah yang akan mengugah nurani kita tentang jalan yang mendekatkan atau menjauhkan kita dari Nur Illahi. Kita mungkin sudah tak asing dengan kisah Nabi Musa yang hendak berguru pada Nabi Khidir sebagaimana termaktub dalam surah Al-Kahfi, namun, tahukah kita hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut? Pertama, bahwa dalam menuntut ilmu pun kita harus memerhatikan adab. Rendahkan hati di depan guru, dan banyak-banyak berdoa agar ilmu dapat tertuang dengan sempurna. Kedua, bahwa betapa banyak hal yang tak kita pahami, hingga begitu gampang menyalahkan keadaan, padahal dibalik peristiwa paling tragis sekalipun, tetap tersimpan hikmah yang besar. (hal. 83 – 84).

Terdapat pula sebuah analogi tentang Laci yang tak kalah menarik (hal. 91). Saat kita membersihkan laci, kita tak jarang menemukan begitu banyak benda tak berguna yang wajib dibuang. Dan setelah membersihkan laci, maka laci kita pun akan menjadi lapang. Membersihkan hati pun demikian adanya. Saat kita membersihkannya dengan membuang hal-hal yang dapat mengotori hati, termasuk memaafkan, maka akan kita rasakan hati kita diliputi oleh kelapangan dan ketenteraman.

Buku ini berakhir dengan Jeda Ketiga berjudul Dalam Perjalanan Pulang, yang merangkum kisah-kisah bertema pertobatan, keinsyafan dan kematian. Tak hanya sekadar menyuguhkan kisah-kisah yang ada pada keseharian, penulis juga turut menyertakan kisah-kisah shahabiyah yang layak dijadikan contoh tauladan, seperti kisah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khatab. Tak lupa pula penulis menyertakan beberapa buah puisi yang kian mempercantik isi buku ini.

Saat membaca lembar demi lembar buku ini, bibir saya tak henti-hentinya berdecak kagum, subhanallah, subhanallah. Terkadang juga berhenti sejenak untuk mengusap air mata yang jatuh karena rasa terharu sebelum kembali melanjutkan. Dan saat membuka lembar terakhir untuk membaca biodata penulis,  sungguh saya kembali dibuat terkagum-kagum. Siapa menyangka, ke-38 kisah inspiratif nan menawan ini, adalah goresan hati dan pemikiran seorang penulis yang usianya belumlah melampaui seperempat abad? Benarlah bahwa kedewasaan tak selamanya berbanding lurus dengan usia. Dan Diena Rif’ah, atau nama penanya Arrifa’ah, melalui buku ini telah membuktikan kedewasaannya dalam memaknai hikmah dari berbagai peristiwa, dan mengajak pembaca untuk dapat mengambil jeda sejenak seraya mengasah nurani, agar mampu melihat cahaya Illahi yang memancarkan hikmah pada sekecil apapun peristiwa dengan kebeningan hati.

Sebagai pamungkas, serangkaian pertanyaan pada bab terakhir buku ini untuk kita renungkan :
Seberapa banyak pun ibadah kita kepada sang Khalik, seberapa menumpuknya ilmu kita kumpulkan, kesemuanya baru dapat dirasakan manfaatnya jika terbungkus keindahan akhlak. Kita patut bertanya : Sudah berapa banyak orang yang merasakan indahnya agama ini lewat kebaikan kita? Atau justru lebih banyak hati terlukai dan tersakiti oleh keburukan sikap dan perkataan kita, bahkan meski kita tengah membawa kebenaran?

Sudahkah kita benar-benar merepresentasikan Islam sebagai rahmatan lil alamin? Tanpa peduli ada atau tidaknya seseorang kelak yang akan mengakuinya atau mengenangnya?"

Judul   : Merajut Benang Cahaya
Jenis   :  Non fiksi Islam/Inspirasi
Penulis : Arrifa’ah
Penerbit : Qibla
Terbit    :  2014
Hal        :  189 hal

6 comments:

  1. Buku yang sarat perenungan rupanya. Subhanallah, penulisnya masih muda. Maluuu... hehe

    ReplyDelete
  2. Buku yang pernah diterbitkan indie ya mbak. Aku juga mau deh bukuku yg pernah diterbitkan indie, dikirimkan lagi ke penerbit mayor :D

    ReplyDelete
  3. iya Melani, saya juga malu nih belum bisa nulis yg kaya' gini
    bener mbak Eky, inspiratif
    Ela : coba aja tuh yg pernah di Leutika, kayanya masih update koq tema novelnya

    ReplyDelete
  4. Inspiratif banget..membersihkan hati layaknya membersihkan laci...
    Resensi yang cantik kak Lyta. terima kasih.

    ReplyDelete