Riawani Elyta: Resensi Novel Aku, Juliet : Kisah Cinta Segitiga remaja berlatar tawuran antarsekolah

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 16 October 2014

Resensi Novel Aku, Juliet : Kisah Cinta Segitiga remaja berlatar tawuran antarsekolah

Kisah cinta segitiga, mungkin adalah tema paling populer dalam novel-novel roman. Jadi, untuk membuatnya tampil beda, tentu saja harus dimodifikasi dengan unsur lain, seperti setting, karakter, plot, dan sebagainya. Nah, novel karya Leyla Hana ini, menampilkan kombinasi yang cukup unik, yaitu kisah cinta segitiga remaja dilatarbelakangi tawuran antarsekolah ditambah adanya selipan analogi kisah percintaan paling masyhur : Romeo dan Juliet. 

Menurut saya, ini perpaduan yang cerdas, karena mengombinasikan tema stereotype dengan "trend" negatif yang belum juga sirna dari dunia pendidikan kita saat ini, ditambah unsur nuansa dongeng klasik. Lalu, bagaimana eksekusinya?


Novel ini memasang tiga tokoh sentral yaitu Camar, Bayu dan Abby. Camar dan Bayu bersekolah di SMA Juventia sedangkan Abby bersekolah di SMA Eleazar yang menjadi musuh bebuyutan SMA Juventia. Bayu adalah anak produk broken-home, dengan orang tua yang terlalu sibuk dan kurang perhatian, sehingga dampak psikisnya pada Bayu, ia menjadi sosok yang berusaha mencari perhatian dari lingkungan sekitarnya. Sayangnya, usaha capernya itu ditempuh dengan cara-cara yang kurang baik. 

Lalu ada Camar yang naksir Bayu, dan dalam perjalanan kisahnya, Bayu pun akhirnya menjadi kekasih Camar. Di sisi lain, Camar juga akrab dengan Abby dan merasakan suasana yang berbeda saat bersama dengan Abby, dibandingkan bersama Bayu yang posesif dan cemburuan. Berbeda dengan Bayu yang lahir dalam keluarga kaya, Abby seorang anak dari keluarga pas-pasan dan harus bekerja di toko donat sepulang sekolah.

Suatu ketika, Bayu memergoki Camar yang jalan berdua Abby. Dapet ditebak, si Bayu ngerasa cemburu, dan pada satu kesempatan, dia melampiaskan emosinya dengan menyerang dan memukul Abby. Tapi, pembalasan ini ternyata masih ada kelanjutannya, bahkan dalam suhu yang lebih tinggi dan pelampiasan yang lebih panas. Seperti apa? Nggak seru dong kalau diceritain di sini. So, baca sendiri deh ya :)

Ini typikal novel very fast reading. Alurnya mengalir lancar, pilihan diksinya nggak ribet dan dialognya juga ringan dan natural. Khas novel teenlit deh. Dari start buka covernya sampe kelar baca, saya iseng nengok jam, ternyata langsung tuntas dalam 20 menit! hehe. Andai semua novel typenya seperti ini dan tipisnya juga sama, dalam sehari saya bisa khatam lima novel kali ya? :D

Untuk penokohan, karakter si Bayu dan Camar terasa cukup dominan, terutama Bayu yang latar keluarganya lebih dieksplorasi. Sebaliknya dengan Abby, peran sosok yang satu ini, mungkin akan lebih "nonjok" kalau porsi penceritaan latar belakangnya juga sama besar dengan Bayu. Jadi nggak terkesan menjadi sosok yang dihadirkan untuk "dikorbankan" demi mencapai penyelesaian  cerita.

Trus, hubunganya dengan dongeng Romeo - Juliet? Ya pada cinta yang terhalang antara Camar dan Abby. Kalo pada kisah Romeo Juliet, penghalangnya adalah keluarga, pada novel ini, penghalangnya ya tembok sekolah yang bermusuhan itu. Unik 'kan analoginya? :)
 
Untuk solusi terhadap masalah tawuran itu sendiri, apa memang salah satu jalan keluarnya adalah dengan menyatukan kedua sekolah yang bermusuhan ya? Mungkin aja kali ya. Saya juga belum sempet browsing apa solusi seperti itu memang pernah dilakukan.  Kalau belum pernah, siapa tahu ke depan ada sekolah yang pingin nyoba untuk menguji efektivitasnya dalam menangkal tawuran.

Novel ini punya pesan yang bagus, bahwa perilaku kekerasan yang dilakukan remaja, termasuk tawuran, salah satu pemicunya adalah ketidakharmonisan dan kurangnya perhatian dalam keluarga. Apalagi dalam perkembangan dewasa ini, makin sedih dan miris deh, karena kekerasan juga dilakukan oleh anak usia SD kepada teman sebayanya. Rasanya beban moril dan tanggung jawab sebagai orang tua jadi tambah berat. Kalau salah mendidik, salah-salah anak bertumbuh jadi pelaku kekerasan. Bener pun dalam mendidik, eh diluar sana, si anak juga terancam jadi korban perilaku kekerasan dari temen-temennya yang salah didik. Eh ini kok malah curcol ya? :p  

Oke deh review ini saya cukupkan sampai di sini. Terima kasih buat Moka Media yang sudah mempercayakan saya mereview salah satu novel terbitannya. Dan salam sukses buat Leyla Hana. Kayanya emang udah pas deh track-nya di novel teenlit :)

Judul        :  Aku, Juliet
Penulis     :  Leyla Hana
Penerbit   :  Moka Media
Terbit       :  2014
Hal          :  180 hal

2 comments: