Riawani Elyta: Resensi Buku Sketsa Cinta Bunda

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Sunday, 19 October 2014

Resensi Buku Sketsa Cinta Bunda

Saya "resmi" jatuh hati pada tulisan mbak Sinta Yudisia setelah membaca buku non fiksinya yang berjudul Kitab Cinta dan Patah Hati juga novel Rinai, keduanya adalah terbitan Indiva Media Kreasi, dan buat saya, keduanya adalah buku yang nyaris sempurna.

Jadi, ketika menemukan buku ini di toko buku dengan harga yang sangat terjangkau (Rp.27.500,-, lebih mahal sedikit dari harga bandrolnya yang Rp.25.000,-), saya pun membawanya ke kasir tanpa banyak pertimbangan. Dan Alhamdulillah, saya sama sekali tidak kecewa :)

Buku ini berisi kumpulan tulisan mbak Sinta yang pernah dipublikasi di media dan blog, menjadi representasi dari renungan dan pemikiran mbak Sinta sebagai seorang ibu.


Buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian 1 berjudul Al-Quran, Shalat dan Doa, membeberkan tentang hikmah dan keutamaan ibadah Al-Quran, Shalat dan Doa dalam menciptakan sebuah tata keluarga yang Islami. Diantaranya, bagaimana memberi jawaban atas pertanyaan anak-anak dengan merujuknya pada isi Al-Quran, membangun kekuatan mental dengan kebiasaan membaca, memahami juga menghapalkan Al-Quran, anjuran untuk membangun kebiasaan yang baik seperti shalat shubuh berjamaah dan senantiasa berdoa meski untuk hal-hal kecil sekalipun.

Pada Bagian 2, yang berjudul Rumah dan Pernak-pernik, penulis menguraikan tips-tips menciptakan rumah sebagai tempat terbaik bagi seluruh anggota keluarga. Saya pernah membaca beberapa buku bertema keluarga dengan anjuran-anjuran yang menurut kacamata saya yang awam ini terbilang cukup ekstrem, seperti "mengharamkan" untuk menyalakan televisi di rumah, ataupun agar orang tua menerapkan homeschooling, ketimbang menyekolahkan anak di sekolah umum dengan kualitas pendidikan yang meragukan.

Terhadap kedua masalah tersebut,  mbak Sinta memberikan anjuran yang berada "di tengah-tengah", tidak terlalu ekstrem ataupun lembek, tetapi solutif. Seperti, tetap mengijinkan anak-anaknya menonton, tetapi dengan melibatkan anggota keluarga yang lain, menonton sambil berdiskusi, dan dengan tegas menerapkan batas jam menonton. Sementara untuk alternatif homeschooling, mengingat tidak semua orang tua siap melakukannya, penulis menganjurkan untuk menyeimbangkan pendidikan di sekolah dengan memberikan apa yang disebutnya sebagai kurikulum rumah. Jadi orang tua, khususnya ibu, sebaiknya juga tetap update dengan pelajaran anak di sekolah dan dapat membantu mengajarkannya di rumah ditambah penguatan pondasi akhlak, iman dan budui pekerti, yang memang sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tua.

Pada bab selanjutnya yang berjudul Orang Tua, mbak Sinta menguraikan tentang cara Luqman mendidik anak, kelebihan yang dimiliki Luqman hingga nama dan nasehat-nasehatnya kepada sang anak diabadikan dalam Al-Quran, tips menjadi ayah yang menginspirasi dan ibu yang juara di mata anak-anak, juga bahasan menarik tentang orang tua yang nakal. Orang tua juga dianjurkan untuk memperkaya ilmu lewat majelis-majelis pengajian, dan tidak segan minta maaf kepada anak-anak, karena orang tua bukan makhluk super yang luput dari kesalahan.

Bab yang berjudul Anak, berisi paparan tentang pentingnya menjaga kesehatan anak, upaya mencegah anak dari  perilaku negatif, sekaligus membentuk karakter anak menjadi remaja yang tangguh, kreatif, berani menyuarakan pendapat serta menjadi seorang dewasa yang shalih kelak.

Buku ini ditutup dengan bab tentang Otak dan Kepribadian. Bab yang menyertakan banyak teori ilmiah dan psikologis terkait kapasitas otak manusia, pembentukan karakter remaja yang salah kaprah dari audisi-audisi bakat dan sorotan media yang hanya fokus pada sisi entertainmentnya saja, relevansi bakat dan kerja keras, hakikat kebahagiaan dan ajakan pada anak-anak kita untuk tak ragu (belajar) berpolitik. Politik dalam koridor yang benar tentu saja, mengingat tuntutan zaman dewasa ini, bahwa seorang pemimpin juga harus mahir berpolitik, dan ilmu berpolitik yang baik itu bisa ditumbuhkan sejak dini. Dalam diri anak-anak sebagai generasi yang bakal memimpin negeri ini nantinya.

Dituturkan dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai contoh-contoh keteladanan dari film dan tokoh-tokoh dunia, serta dukungan referensi yang beragam, membuat buku ini terasa "kaya" meskipun harga dan kemasannya tergolong minim. Dalam hal kemasan, saya ingin menyampaikan kritikan  kepada penerbit, karena belum 24 jam buku ini ada di tangan saya, beberapa lembar halaman depannya sudah terlepas :( juga untuk sebuah buku dengan bahasan yang cerdas dan penuturan yang dewasa, desain cover buku ini terkesan sederhana dan kekanak-kanakan.

Untuk kontennya sendiri, saya tak ragu mengacungkan dua jempol. Hanya saja, untuk pembahasan tentang hakikat kebahagiaan, saya merasa kurang puas dengan pembahasannya yang menggantung. Disebutkan penulis, bahwa konsep self acceptance ala Carol Ryff yang dalam konsep Euidamonic Well Being harus direvisi menjadi self discovery. Atau dengan kata lain, untuk menjadi bahagia, kita hendaknya tak hanya sekadar menerima diri apa adanya, tetapi harus mencari dan menciptakannya. Sayang, tidak ada kelanjutan penjelasan dari mbak Sinta tentang cara mencari dan menciptakan kebahagiaan tersebut.

Buku ini sangat layak dan penting dibaca oleh semua ibu, calon ibu termasuk para pendamping kaum ibu (suami). Sebuah buku yang akan memberi pencerahan dalam mendidik dan membesarkan anak-anak dengan cara yang berlandaskan ajaran islam, menuju terbentuknya generasi muslim yang qurani, berakhlak mulia dan berkarakter pemimpin.

Judul     : Sketsa Cinta Bunda
Penulis  : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Terbit    : Mei 2014
Hal       : 120 hal

2 comments:

  1. Mbak Sinta memang 'wow'! Proses kepenulisan Mbak Sinta juga hampir mirip dg Lyta lho. Mbak Sinta klo tidak salah baru menulis pertengahan 2000-an, sebelum itu, beliau sama sekali tidak menulis, tapi beliau fast learner dan cepat sekali melesat.

    ReplyDelete