Riawani Elyta: Resensi Kei : Kutemukan Cinta di tengah Perang

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 2 September 2014

Resensi Kei : Kutemukan Cinta di tengah Perang




18367554

Novel pemenang unggulan DKJ 2012 ini bercerita tentang cinta yang tumbuh di tengah peristiwa perang saudara di Ambon, yaitu antara Sala, seorang pemuda Kristen asal desa Watran, dan Namira, seorang gadis muslim asal Kei.  Keduanya bertemu di pengungsian, dan dari sanalah bibit-bibit cinta itu tersemai lalu tumbuh mekar.

Kei sendiri adalah nama pulau di Ambon yang paling lambat mengalami riak kerusuhan, juga yang paling cepat bangkit dari keterpurukan pasca tragedy berdarah di Ambon. Ini antara lain disebabkan kuatnya pengaruh hukum adat serta keteguhan masyarakatnya dalam menjunjung hukum adat tersebut sehingga mempercepat masa pemulihan.


Cinta antara Sala dan Namira sendiri tak berjalan mulus. Keduanya terpisah saat Sala diajak temannya Edo merantau di Jakarta dan Namira yang kebingungan terbawa seseorang naik kapal yang menuju ke Makassar. Akankah keduanya ditakdirkan bertemu kembali? Dan apa yang dialami keduanya saat hidup terpisah?

Cerita ini ditulis dengan diksi yang indah dan variatif juga deskripsi setting yang benar-benar detil. Saking detilnya hingga penulis tak mengabaikan satu elemen kecil pun seperti pemilihan nama tokoh, aksen dialog, nama makanan khas daerah setempat, jenis tumbuhan dan pepohonan, terlebih-lebih jenis adat istiadat dan bagaimana adat tersebut diberlakukan serta sanksi bagi yang tidak mematuhinya.

Kisah cinta antar penganut agama yang berbeda – dalam hal ini diwakili oleh kedua tokoh utamanya Sala dan Namira - juga turut diangkat penulis di dalam novel ini. Tak hanya tentang cinta, tetapi juga persahabatan, dan dalam novel ini juga terungkap fakta bahwa tragedy dan kerusuhan Ambon sebenarnya bukanlah berpunca pada konflik antar agama, tetapi memang sengaja direkayasa pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari terciptanya instabilitas di tanah air.

Kelebihan lain dari novel ini juga terletak pada karakter tokoh-tokohnya yang terasa hidup, plot yang rapi dan tentu saja pada bagaimana penulis mengolah cerita ini dengan didukung riset yang mendalam serta penulisan yang serius. Jika membincang kekurangan, maka hemat saya, hal itu terletak pada bagaimana cara penulis mendeskripsikan konflik. Dengan begitu banyak titik-titik api dalam cerita yang sangat berpotensi untuk diolah menjadi konflik yang mencekam, nuansa yang dibangun oleh penulis justru terasa lebih mirip reportase. Reportase yang ditulis dalam bahasa literer dan “sedikit” berjejal informasi. Hal ini membuat greget novel ini sedikit menurun pada pertengahan cerita, dan faktor plus yang membuat saya tetap bertahan menyelesaikannya adalah pada diksinya yang indah juga pada informasi-informasi baru tentang adat Kei yang selama ini belum saya ketahui. Untunglah, pada bab-bab menjelang akhir, penulis berhasil menaikkan ritme novel ini lewat adegan kejar-kejaran polisi dan Sala juga gank mafia serta menutupnya dengan open ending yang sangat menyentuh.

Dengan semua kelebihan yang dimiliki novel ini, tak salah jika juri memilih novel ini sebagai pemenang unggulan DKJ, dan penulisnya sendiri, juga memiliki bobot penulisan diatas rata-rata. Ini dibuktikan dengan keberhasilan penulis dalam ajang bergengsi lainnya seperti memenangi lomba penulisan cerpen JILFest tahun 2011 dan sayembara cerber Femina pada tahun 2012.

Semoga Kei dapat menginspirasi munculnya karya-karya berbobot yang mengusung problema berlatar tempat dan adat lokalitas Indonesia yang begitu kaya ini.


Judul         :    Kei ; Kutemukan Cinta di tengah Perang
Penulis      :    Erni Aladjai
Penerbit    :    Gagas Media
Tebal        :    250 hal





No comments:

Post a Comment