Riawani Elyta: Resensi Buku Membuat Keputusan Sulit Menjadi Mudah : Langkah Aplikatif dan Bijak dalam Mengambil Keputusan

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 29 September 2014

Resensi Buku Membuat Keputusan Sulit Menjadi Mudah : Langkah Aplikatif dan Bijak dalam Mengambil Keputusan



Kekhawatiran adalah musuh pengambilan keputusan yang baik. Kekhawatiran seperti kursi goyang. Dia akan membuat anda terus bergerak, namun tidak membawa anda kemana pun. - Lou Ann Smith, Be Decisive -

Saya menemukan buku ini di pustaka mini ruang kerja kantor, lalu saya jadikan bacaan pengisi waktu kala senggang. Sesuai judulnya, buku ini berisi panduan pengambilan keputusan, utamanya keputusan yang sulit dan beresiko. Penulis membagi isi buku ini dalam tahap demi tahap juga langkah demi langkah yang saling terhubung dan berkelanjutan.

Pada tahap satu, melalui tiga langkah upaya, penulis memberi panduan untuk mengembangkan sifat tegas dalam diri kita. Karena menurutnya, hanya orang-orang yang tegas, yang berani mengambil keputusan dan menanggung konsekuensi dari pilihan itu. Upaya ini diperoleh dengan cara membangkitkan kepercayaan diri, focus pada tujuan hidup dan menyeimbangkan daya pikir.


Tahap dua berisi langkah persiapan sebelum bertindak. Dalam uraiannya, penulis seakan menganalogikan pikiran manusia dengan otot tubuh. Dimana manusia dianjurkan untuk mengambil waktu yang cukup sebelum menentukan pilihan, melenturkan otot-otot pengambil keputusan dan melakukan jeda sejenak untuk memasok energy.

Setelah melewati tahap persiapan, pada tahap berikutnya penulis menyarankan untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya, menghubungkannya dengan pola pikir kita yang sudah terbentuk, memikirkan dan menguji berbagai kemungkinan sampai berhasil mengerucutkan pilihan pada dua opsi saja.

Tahap empat adalah tahap dimana kita harus mengambil keputusan. Dibandingkan dengan tahap-tahap sebelumnya yang terkesan sedikit njelimet, pada tahap ini secara straight to the point, kita diminta untuk menuliskan dua opsi bersama sisi positif negatifnya, dan dengan semua “bekal” yang kita peroleh pada tahap sebelumnya, kita diminta untuk memilih dengan tegas. Kita juga disarankan untuk membuat second opinion atau dalam istilah penulis, contingency plan ataupun rancangan kemungkinan, jika keputusan yang sudah kita ambil ternyata memiliki konsekuensi tak terduga dan melenceng dari perkiraan.

Buku ini berakhir dengan tahap lima, yang berisi anjuran agar memegang teguh pilihan yang sudah diambil dengan rasa percaya diri. Penulis juga menganjurkan kita untuk memberi penghargaan pada diri sendiri karena telah berani mengambil keputusan, lalu menuliskan action plan, mengomunikasikannya pada orang lain dan melakukan evaluasi kemajuan secara teratur.

Muatan buku ini sebenarnya cukup aplikatif, karena pada setiap tahapannya menyertakan langkah-langkah nyata yang harus dilakukan. Hanya saja, beberapa konteks kalimat sedikit sulit dipahami. Untungnya, pada setiap bab, penulis menyertakan konklusi dan quote inspiratif yang relevan dengan muatan bab tersebut, sehingga cukup membantu dalam mempermudah pemahaman. 

Langkah-langkah yang disajikan, sepertinya lebih cocok untuk diaplikasikan oleh para pemegang kebijakan dalam sebuah perusahaan, lembaga, organisasi ataupun birokrasi. Karena kebijakan pihak-pihak ini menyentuh kepentingan public dan juga profit bagi perusahaan. Sementara yang menyangkut keputusan individu, sepertinya kita cukup mempraktekkan beberapa tahapan saja. Yah, setidaknya kita tetap bersikap bijak dan nggak gegabah sebelum mengambil sebuah keputusan. 

Dan saya pikir, buku ini cukup baik sebagai bahan bacaan mereka yang berniat mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah, anggota legislative atau bahkan pemimpin Negara. Karena produk kebijakan yang dihasilkan oleh orang-orang dalam posisi penting ini tak hanya menyangkut nasib dan kepentingan masyarakat banyak, tetapi juga tak bisa melepaskan diri dari berbagai kepentingan termasuk kepentingan politik, resiko dan konsekuensi akan didukung atau diprotes dan dibenci. Jadi, tak ada salahnya jika setiap keputusan adalah hasil dari sebuah proses yang matang dan terencana. Bukan sekadar menuruti kepentingan atau pertimbangan dari sudut pandang segelintir golongan belaka.

Judul       :  Membuat Keputusan Sulit Menjadi Mudah
Penulis    :  Gael Lindenfield
Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama
Terbit      :  2002
Hal          : 148 hal

No comments:

Post a Comment