Riawani Elyta: Resensi Her Beautiful Eyes : Difabel, Bukan Halangan untuk menjadi pekerja mandiri*)

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 3 May 2014

Resensi Her Beautiful Eyes : Difabel, Bukan Halangan untuk menjadi pekerja mandiri*)



Difabel, bukan halangan untuk menjadi pekerja mandiri


Resensi                       :
Tanggal 1 Mei, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Sedunia. Dan di Indonesia, tanggal ini sudah ditetapkan sebagai salah satu hari libur nasional. Meski demikian, masih banyak hal yang belum tuntas, terkait dengan hak-hak serta kesejahteraan buruh.

Salah satunya adalah hak bagi buruh atau pekerja difabel, alias penyandang cacat, yang sampai saat ini masih mengalami diskriminasi dalam hal pilihan pekerjaan dan aksesibilitas.


Inilah yang dialami oleh Tiara, tokoh utama novel ini, seorang penyandang cacat yang harus menggunakan 
kruk untuk menyangga sebelah kakinya. Saat mencari pekerjaan, tak banyak pilihan yang bisa diambil Tiara, karena harus disesuaikan dengan kondisi fisiknya. Diantaranya adalah sebatas pekerjaan di depan komputer, berurusan dengan huruf demi huruf dan tak mengharuskannya berpenampilan menarik atau menjalani mobilitas yang tinggi (hal.14).

Meski demikian, Tiara tak ingin menyerah. Dia berusaha mandiri dengan menekuni bisnis online dan kreasi craft. Seorang temannya lalu menawarinya bekerja di Sarwo Batik, sebuah perusahaan kecil yang merintis usaha handicraft, dan kebetulan sedang membutuhkan karyawan untuk mengelola web dan penjualan online. Tiara mencoba melamar, dan diterima.

Di sini, Tiara memiliki atasan yang tampan dan baik hati bernama Hakam. Hakam juga sangat perhatian pada Tiara. Perasaan simpati Tiara pun mulai tumbuh dan berkembang kepada Hakam. Namun ia cepat menepis perasaan itu, karena baginya, perempuan cacat tak akan pernah diinginkan para lelaki untuk dijadikan kekasih atau istri (hal. 8).

Sahabat SMA Tiara bernama Antariksa, yang baru pulang dari luar negeri, memberi warna baru dalam kehidupan Tiara. Antariksa atau dipanggil Anta juga adalah seorang difabel yang harus duduk di kursi roda. Bermodalkan pengalamannya selama berada di luar negeri, Anta mengajak Tiara membentuk komunitas difabel di kota Solo, dengan tujuan memberi pemahaman kepada para difabel akan hak yang harus mereka milki, mengetuk hati pemerintah untuk lebih memperhatikan kaum difabel. (hal. 53), serta mendorong agar kaum difabel bisa mandiri dan memiliki bargaining position di dunia kerja (hal.65).

Rencana mereka akhirnya terwujud. Terbentuklah Komunitas Difabel Solo (KDS), dan para anggotanya dilatih membuat kerajinan tangan. Tidak hanya itu, Anta dan Tiara juga getol mempublikasikan aktivitas dan kemampuan para anggota kepada masyarakat.

Usaha mereka membuahkan hasil. Perusahaan Sarwo Batik tempat Tiara bekerja, setuju untuk menyerahkan beberapa pesanan konsumen kepada KDS. Masalah mulai muncul saat beberapa order tak mampu dipenuhi para anggota KDS tepat waktu karena keterbatasan mereka. Belum lagi masalah minimnya dukungan dana.

Ketika seorang tokoh masyarakat berkenan memberikan dukungan dana, pada awalnya ini dianggap angin segar oleh Tiara dan Anta, namun pada perkembangannya, ternyata tokoh tersebut ingin memanfaatkan KDS untuk memuluskan rencananya menuju kursi legislatif. Tiara dan Anta sepakat menolak. Lebih baik KDS tetap berjalan dengan segala keterbatasan fasilitas, daripada menjadi alat untuk meraih kekuasaan seseorang (hal.234).

Anta kemudian menyerahkan pengelolaan KDS pada Tiara, saat aplikasi beasiswa yang sudah lama dia ajukan, diterima. Meski pada awalnya meragukan kemampuannya, tetapi berkat dorongan orang-orang terdekatnya, Tiara akhirnya memberanikan diri untuk mencobanya. Dalam segenap keterbatasan, dana dan fasilitas, aktivitas KDS tetap berdenyut.

Cinta Tiara pada Hakam ternyata tak bertepuk sebelah tangan. Hakam berniat menikahi Tiara. Cinta inilah yang juga meyakinkan Tiara bahwa wanita sepertinya pun berhak meraih kebahagiaan seperti wanita normal. (hal. 321).

Melalui tokoh Tiara dan Anta, novel pemenang unggulan lomba penulisan romance Qanita ini, membuktikan bahwa seorang difabel tidak pantas dianggap rendah atau mendapat diskriminasi, mereka juga mampu untuk mandiri, bekerja, dan bermanfaat bagi orang lain meski dengan segala keterbatasan fisiknya.

Judul                          :            Her Beautiful Eyes
Penulis                        :            Rien Dj
Penerbit                      :            Qanita
Tebal                          :            328 hal
Genre                         :            Novel
Terbit                          :            2013
ISBN                          :            9786029225907

Dimuat di : http://www.indoleader.com/index.php/resensi/2753-difabel-bukan-halangan-untuk-menjadi-pekerja-mandiri

2 comments:

  1. baca revie nya mba Lyta...bagi saya sudah cukup...^_^

    ReplyDelete