Riawani Elyta: Resensi Memori : Novel yang "Modern Minimalis"

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Sunday, 13 April 2014

Resensi Memori : Novel yang "Modern Minimalis"



Judul         :            Memori
Penulis      :            Windry Ramadhina
Penerbit    :            Gagas Media
Tebal        :            304 hal
Genre       :            Fiksi
Terbit       :         Cetakan pertama, 2012
ISBN        :            9789797805623

Resensi    :
Kisah dituturkan oleh Mahoni, seorang arsitek yang meniti karir di Virginia, namun oleh satu panggilan dari tanah air tentang kabar kematian ayahnya, membuatnya harus kembali ke Jakarta. Dan ternyata, masih ada hal lain yang menahan langkahnya untuk kembali ke Virginia, sesuatu yang menjadi “peninggalan” sang ayah dan ibu tirinya Grace. Dialah Sigi, buah perkawinan keduanya yang masih remaja, dan tidak punya siapa-siapa sepeninggal keduanya. 


Di mata Mahoni, Grace ibu Sigi adalah wanita yang merebut ayahnya dari dirinya dan Mae, ibu kandungnya, dan selama ini, Mae juga terus menanamkan kebencian di hati Mahoni akibat peristiwa tersebut. Meski berat rasanya, mau tak mau, Mahoni merelakan juga untuk melepas karirnya demi menjaga Sigi.

Pada kesempatan lain, Mahoni kembali bertemu dengan Simon, teman “dekat”nya waktu kuliah dulu, dan Mahoni ditawari bekerja di kantor arsitek MOSS bersama Simon dan juga Sofia, kekasih Simon. Pertemuan yang membuka kenangan lama, namun semuanya tentu sudah tak lagi sama dengan kehadiran Sofia diantara mereka.

Ini adalah novel pertama Windry yang saya baca, dan sekaligus menjadi salah satu novel favorit saya yang kondisinya sekarang sudah lecek dan terlipat-lipat karena keseringan dibaca. Ya. Diantara sekian banyak novel koleksi saya, barangkali, novel ini termasuk urutan tiga besar sebagai novel yang berhasil menarik saya untuk membacanya hingga berkali-kali dengan impresi yang tak jauh berbeda setiap kali membacanya.

Jika novel ini diibaratkan sebuah rumah, sesuai gambar sampulnya, maka ini adalah rumah berkonsep modern minimalis dengan penataan interior yang efisien dan efektif. Semua perabotan terletak pada tempat yang semestinya dan memiliki alasan yang tepat dalam setiap penempatannya.

Begitu pulalah halnya dengan novel karya penulis yang juga seorang arsitek ini. Setiap unsur pembangun ceritanya benar-benar ditempatkan pada posisi dan porsi yang tepat, tidak berlebihan, plot dan alur yang saling menunjang sehingga tidak ada jalinan cerita yang sia-sia. Karakter tokoh-tokohnya juga sangat kuat dan natural, sehingga editor saya Iwid pernah merekomendasikan novel-novel Windry sebagai novel dengan penokohan karakter yang sangat baik.

Selain itu, kelebihan lain dari novel ini adalah pada penyampaian dengan metode “show”nya yang layak untuk menjadi referensi. Windry tidak menamai karakter tokoh-tokohnya dengan watak a, b, c, tetapi pembaca dapat mengidentifikasi karakter-karakter tersebut melalui cara Windry mendeskripsikannya. Begitu pun ketika Windry menggambarkan deskripsi setting, salah satunya saat Windry menceritakan suasana rumah secara detil, membuat pembaca dapat merasakan dan meyakini bahwa suasana yang dibangun Windry memang mencerminkan sebuah desain rumah yang indah.  

Sisi lain yang juga meningkatkan bobot novel ini, adalah kisah tentang kekeluargaan yang menyentuh, meski Windry menceritakannya tanpa unsur-unsur yang mengekspos sisi humanistik secara berlebihan. Sehingga secara keseluruhan, porsi kisah keluarga ini cukup dominan jika dibandingkan dengan kisah romannya bersama Simon.

Mungkin, jika ada hal yang sedikit membingungkan, adalah pada penggunaan istilah-istilah dalam dunia arsitektur tanpa disertai catatan kaki, yang tentunya diluar pemahaman pembaca awam seperti saya, namun hal tersebut tidak sampai menimbulkan gangguan yang fatal terhadap keutuhan novel ini.

Sejauh ini, saya sudah membaca tiga novel Windry, dan tetap saja, saya belum bisa move on dari Memori. Inilah salah satu novel yang tidak hanya saya jadikan bacaan untuk tujuan hiburan dan pengisi waktu, tetapi juga sebagai referensi bagaimana menulis sebuah novel yang padat, berpondasi kokoh, dan tetap memiliki nilai estetika yang baik.




2 comments:

  1. Sama, Mbak. Buat saya Memori teteup juaranya. Setelah membaca Montase dan Metropolis. 3 juga ternyata yang baru dibaca :-)

    ReplyDelete
  2. Saya Metropolis belum, London udah :)

    ReplyDelete