Riawani Elyta: RESENSI BUKU : L.A THE DETECTIVE : Novel Detektif L.A yang Made In Indonesia

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Monday, 17 February 2014

RESENSI BUKU : L.A THE DETECTIVE : Novel Detektif L.A yang Made In Indonesia






Sinopsis :
Gary Stewart, Steve Higgins, Larry Watson dan Mary Olsen, keempatnya adalah detektif yang tergabung dalam satu tim di unit kepolisian LAPD. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa Gary, dan semuanya pun berubah drastis. Larry yang sangat terpukul, meyakini kalau Gary sengaja dibunuh, dan berusaha untuk bisa membuktikan keyakinannya itu. Namun ketiadaan bukti membuat kasus itu akhirnya dipeti-eskan dan tim mereka pun bubar.

Larry kemudian memperoleh partner baru bernama Frank Russell yang kemudian menjadi sahabat terbaiknya. Berdua, mereka mengungkap berbagai kasus kriminal termasuk pembunuhan. Diantara rentetan kasus yang mereka tangani, terdapat satu benang merah yang akhirnya berhasil menghubungkan sang pelaku dengan kasus kematian Gary. Dugaan Larry benar, bahwa Gary memang mati karena dibunuh.
Namun nyawa Larry juga ikut terancam. Beberapa kali ia juga hampir menemui ajal saat berhadapan dengan musuh-musuhnya. Pada suatu kesempatan, Larry sangat terkejut saat melihat Marry kembali, mantan partnernya dulu yang tengah masuk ke sebuah gedung. Siapa menduga, hal tak terduga itu justru membimbing Larry menemukan hidayah.

Bagaimanakah akhir kisah yang berliku-liku ini? Siapa sebenarnya pembunuh Gary?

---------------------------------------------------------------------------------------------

Novel yang versi awalnya pernah terbit pada tahun 2003 dengan judul Musim Semi di Wyoming ini, mengambil latar tempat, alur cerita dan semua tokoh utama yang “beraroma” luar negeri. Narasi yang rapi mengalir, dan cerita yang digerakkan oleh dialog antar tokohnya menjadi andalan novel ini hingga cukup menarik untuk dinikmati tanpa menimbulkan kesan boring. Pilihan genre dan tema yang tidak biasa juga membuat novel ini tampil beda diantara novel-novel karya penulis lokal saat ini.

Sebagai penyuka roman detektif, tentu, saya sangat mengapresiasi kehadiran novel detektif yang ditulis oleh penulis lokal, setelah selama ini, rata-rata novel detektif koleksi saya adalah novel terjemahan. Apalagi, saat sekilas membaca behind the scene dari novel ini, yang ternyata memerlukan waktu lebih kurang enam tahun, maka saya yakin, the writer has put very serious efford to make it better and get republished.

Namun, terdapat beberapa hal yang cukup mengganjal buat saya sepanjang membaca novel ini hingga tuntas. Yang penasaran, berikut catatannya :

1.      Kenapa ya ketiga tokohnya harus punya nama serupa : Gary, Larry dan Marry, padahal mereka nggak punya pertalian darah? Ini terkesan kurang natural dan nggak jauh beda dengan kemunculan adegan kebetulan di dalam cerita.

2. Seorang editor saya pernah memberi saran, jika kita (baca : penulis lokal) ingin menulis latar kisah di luar negeri, setidaknya, tetap munculkan sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia, entah itu lewat satu tokoh utamanya yang masih berdarah Indonesia atau apalah, jadi pembaca pun tetap merasa “terhubung” dan tidak merasa berjarak dengan cerita. 

Entah karena nggak ada hal yang menghubungkan novel ini dengan Indonesia, ataupun karena keterlibatan emosinya memang minim, “feel” dan “nyawa” yang menyertai sebagian besar novel ini memang nyaris datar. Saya gagal merasakan kesan mencekam dan menegangkan dalam beberapa adegan kriminal termasuk adegan tembak-menembak dan seru-serunya, bahkan saat Larry berhadapan dengan pembunuh Gary yang sebenarnya, kesan suspense-nya pun terasa kurang greget. Untunglah, pada bab-bab akhir terdapat beberapa adegan yang cukup mengharukan  tentang pencarian hidayah tokoh utamanya.

3.  Istilah tentang penulis bertindak sebagai “Tuhan” terhadap karyanya juga berlaku dalam novel ini, dan pada bagian plot, peran “Tuhan” yang dipegang penulis terasa sedikit otoriter. Beberapa kali terjadi adegan flashback yang digambarkan dengan cara sang tokoh mengingat kejadian lampau, namun menghabiskan narasi hingga berlembar-lembar bahkan terkadang tanpa disertai pemisah dalam bab. Juga tak jarang terjadi, kejadian yang melompat meninggalkan latar tempat sebelumnya. Contohnya pada hal. 94. Tak ada angin tak ada hujan, juga tanpa prolog apapun, tiba-tiba adegan berpindah dari markas kepolisian, dimana para detektif tengah menghadapi anak dari korban pembunuhan bernama Michelle, ke adegan Larry yang bertemu dengan Mrs. Stewart tanpa adanya keterangan lokasi yang jelas. Dalam beberapa kali adegan juga, dimana Larry tengah menghadapi musuh, tiba-tiba saja Frank muncul, tanpa disertai penjelasan sebelumnya si Frank berada di mana.

Proses penemuan hidayah oleh Larry dan Frank juga terasa tiba-tiba, tanpa diiringi eksplorasi akan kontemplasi yang sangat mendalam, namun di sisi lain, bagian ini juga turut berkontribusi untuk membuat cerita ini menjadi lebih dinamis.

4. Inkonsistensi pun tak luput terjadi pada novel ini. Pada hal. 109, digambarkan Michelle begitu gembira saat bertemu Larry Watson, padahal pada hal. 93, digambarkan kalau Michelle sangat trauma melihat polisi. Mungkin, jika diantara rentang halaman tersebut terdapat alur yang menggambarkan metamorfosis psikis Michelle, inkonsistensi ini bisa terselamatkan. Dalam penggambaran latar tempat pula, untuk kota Wyoming sendiri, saya menyukai detailnya yang terkesan indah dan menyejukkan, namun dalam banyak adegan, gambaran tempat yang melatarbelakangi kejadian justru terasa kabur. Mungkin ini juga sebabnya, mengapa saya gagal merasakan unsur ketegangan dalam beberapa kali adegan pengejaran dan penangkapan penjahat. Informasi yang minim tentang lokasi yang melatarbelakangi adegan tersebut membuat saya sulit membayangkan bagaimana situasi sebenarnya saat tokoh-tokohnya tengah beradu tembak dan sebagainya. 

Inkonsistensi pada pov pun demikian. Ada tiga bab yang dituturkan dengan pov 1 oleh sosok Marry yang diletakkan secara acak (bab 1, 6 dan 19) tanpa saya mengerti apa maksud dibuat demikian, sementara sebagian besar cerita dituturkan dengan menggunakan pov 3.

5. Pada hal. 321, adegan ketika Mrs. Lindsay yang mengenakan cincin menampar wajah Larry hingga berdarah dan meninggalkan kesan luka yang jelas terlihat, saya jadi penasaran, cincin apa gerangan yang bisa membuat wajah seorang pria jadi berdarah-darah, dan sekeras apa pula tamparannya pada pria yang jelas-jelas polisi itu sampai terluka?

6.  Terkait narasi, pada hal. 100, narasi penulis untuk menceritakan pistol terasa sangat textbook. Menurut hemat saya, informasi tertulis ini masih bisa dibuat lebih smooth dan melebur dengan cerita hingga tak terkesan seperti menyalin langsung dari sumbernya. Di sisi lain, saya acungi jempol kepiawaian penulis bertutur dengan dialog yang dominan, dan sebagian besar dialognya juga cerdas dan rapi. Saya yakin, menulis banyak dialog untuk novel setebal ini bukan hal mudah. Namun, di sisi lain juga membuat karakter tokohnya menjadi seragam. Siapa pun yang bertutur, baik lelaki atau wanita, bahasanya nyaris sama aja. (anggap aja lagi baca novel terjemahan, cerewet amat sih, si mpok ini :p.)

7. Terhadap karakter dan interaksi tokohnya pula, untuk sosok polisi detektif L.A, saya merasa karakter dan interaksi antara sosok Larry dan Frank terlalu feminin, terlalu lembut, terlalu akrab dan intim, dan penggambaran interaksi keduanya dengan kalimat semacam ini : ‘saling bertukar senyum, saling berpandangan, membuka mantel lalu menawarkan....., berpelukan, menghabiskan waktu bersama, juga email Larry yang menceritakan penilaiannya tentang Frank, dan lain-lain, mengingatkan saya pada novel dengan tokoh...... (ops, cut! dipelototin CEO Indiva tuh mpok :D), saya ganti aja deh : it sounds too girly. Memang, bukan hal mudah untuk menulis karakter sosok yang berbeda gender dengan penulisnya, namun, karena interaksi Frank dan Larry sangat dominan dalam cerita ini, membuat kesan feminin tersebut pun menjadi sangat dominan pula.

Untungnya, karakter Larry dengan semua trauma psikis dan lika-liku hidup yang dialaminya, cukup membuat sosok ini berkesan. Sayangnya, begitu banyak “penderitaan” yang dialami Larry, sedikit banyak mengingatkan saya pada film-film india tahun 80an, dimana sosok hero-nya harus berdarah-darah dan menderita lahir batin dulu sebelum meraih (atau tidak meraih) kebahagiaan :D

8.  Penyelipan unsur islami dalam kisah ini, sebagian masih menggunakan cara yang ditempuh fiksi islami pada era sebelumnya, yaitu disampaikan melalui ucapan salah satu tokoh yang terkesan seperti isi ceramah yang cukup panjang. Juga proses keislaman tokoh-tokohnya terasa sangat kebetulan, karena ternyata orang-orang yang dicintai Larry, yaitu Marry dan Frank, keduanya sama-sama memeluk Islam tanpa ada penjelasan yang cukup gamblang.

Terlepas dari poin-poin diatas, saya pikir, bab-bab akhir yang berkisah tentang penemuan hidayah keislaman adalah bagian paling cemerlang dari novel ini, sekaligus berhasil menghadirkan greget pada penghujungnya, setelah kesan datar nyaris mewarnai sebagian isi novel ini.

Dan sebagaimana komentator sepak bola, belum tentu mampu menggocek bola sebaik pemain aslinya, saya pun demikian. Kalo disuruh nulis novel detektif-poll setebal 400an halaman kaya' si L.A ini, saya pilih disuruh baca dan komen aja deh :) (si mpok curang :p).

Bagi anda penggemar novel-novel detektif, dan ingin melihat bagaimana sebuah cerita yang panjang berhasil digerakkan dengan lincah oleh dialog yang dominan, novel ini layak dijadikan pilihan, apalagi di dalamnya juga terdapat “bonus” berupa pencerahan akan nilai-nilai islami. Sesuatu yang layak diapresiasi, dan membuat novel ini tampil beda dengan novel-novel detektif pada umumnya.

Judul                          :            L.A The Detective
Penulis                        :            Hikaru
Penerbit                      :            Indiva Media Kreasi
Tebal                          :            432 hal
Jenis                           :            Fiksi
Terbit                          :            Desember 2013
ISBN                          :            9786028277945


NB : pertanyaan untuk penerbit, kenapa ya judulnya L.A The Detective? Kalau dilihat dari english grammar, dan jika L.A itu mengacu nama kota, bukannya The Detective of L.A ya lebih tepatnya?


11 comments:

  1. Judulnya sebenarnya LA (The Detective), 2 kata itu tidak dijadikan satu frase. Krn itu, tulisan detective-nya ditaruh di bawah.

    Btw, masukannya 'nendang banget' hehe... semoga bisa menjadi bahan perbaikan di kemudian hari.

    Sebagai sebuah rumah, novel ini sudah cukup kekar dan menarik, layak dihuni. Tetapi memang ada ornamen-ornamen yang belum terpasang dengan baik. Saya kira, si penulis ini akan menjadi penulis besar di kemudian hari, jika mau merapikan detil-detil yang terlewat dalam penggarapan.

    ReplyDelete
  2. assalam kak Riawani Elyta review ini cakep :) oh ya aku ngereview Ping! di blog aku, maaf baru sekarang sempet bikin reviewnya :)

    ReplyDelete
  3. Yeni : oh, begitcu...aye mah komentator doank, disuruh nendang beneran blm tentu gol, hehe

    Dedul : waalaikumsalam, makasih ya udah ngereview Ping :)

    ReplyDelete
  4. Terima kasih masukannya mbak Riawani. Seneng banget dapet review dari penulis senior. Memang ada hal-hal yang saya luput. Bagian itu insya Allah jadi bahan perbaikan ke depannya. :)
    Tentang PoV : terinspirasi dari bukunya John Grisham dan James Petterson, yang juga melakukan hal serupa agar pembaca tahu jalan pemikiran tokoh-tokoh pentingnya.

    Tentang penjelasan senjata yang terkesan dicopas dari literatur : Benar sekali. Saya memang copas dari sebuah buku pinjaman yang saya baca waktu SMA, tapi lupa judulnya. Berhubung saat itu belum ada serial CSI, saya sempat catat penjelasan tentang senjata-senjata tersebut. Beberapa hal kecil sebenarnya sudah saya ganti, misalnya jenis pistol yang dipakai polisi di Amerika sekarang, jenis pelurunya, perbedaan setiap peluru saat ditembakkan ke tubuh, dsb. barang kali karena berusaha membuat hal itu up to date dengan kondisi nyatanya sekarang, membuat saya luput memoles literatur menjadi lebih smooth. Terima kasih banyak masukannya.

    Tentang Indonesia yang tidak saya masukkan sama sekali dalam novel ini. Di naskah aslinya sebenarnya ada, tapi kemudian saya buang. Sengaja saya buat seperti novel terjemahan, karena memang saya menulisnya untuk teman-teman saya yang non muslim di luar negeri. Itu sebabnya pertanyaan-pertanyaan tentang Islam adalah pertanyaan-pertanyaan dasar, yang memang pernah ditanyakan langsung kepada saya. Terkesan ceramah? Bisa jadi. Saya memang agak 'memaksakan' bagian tersebut, karena merupakan jawaban dari saya pribadi dan berbagai literatur. Jawaban pertanyaan tentang Islam bersebut ada yang saya copas langsung dari buku. (saya copas dua paragraf, dari buku sejarah dunia setebal sekitar 600 halaman), dan copas hasil wawancara ust. Syamsi Ali (Imam masjid New York) di CNN pasca peristiwa 911.

    Tokoh Larry dibuat sangat menderita? Lagi-lagi, sengaja, hahaha. :D. Supaya masuk akal perubahan psikologis dan keinginannya untuk mencari kebenaran. Saya pribadi kenal orang yang masuk Islam setelah melalui berbagai keterpurukan dalam hidup, jadi fase itu yang saya masukkan dalam cerita.

    Tentang judul : tadinya novel ini akan diberi judul 'The Agent', tapi saya yang protes ketika novel ini sudah siap naik cetak. Karena istilah agent hanya berlaku untuk kalangan federal dan intelejen (FBI dan CIA). Jadi, judul L A the detective dengan dua kata yang terpisah saya pikir win-win solution. :D

    Novel ini sengaja dibuat terkesan terjemahan. Foto penulis pun sengaja tidak dipampang di cover belakang. Nama pena saya sebagai penulis pemula tadinya memang bermaksud untuk mengecoh pembaca agar novel ini justru dibaca oleh orang-orang 'umum'.

    Sepertinya, keinginan saya utuk meng-up date novel yang telah saya nyatakan selesai lebih dari 10 tahun lalu, membuat saya lebih fokus ke literatur dan agak lalai meramu berbagai bumbu yang pas. Terima kasih sekali lagi, mbak Riawani. Insya Allah ke depan, saya kan berusaha lebih baik. :)

    ReplyDelete
  5. Terima kasih kunjungannya Hikaru, mohon maaf untuk poin2 yang mungkin kurang berkenan. Yang jelas saya enjoy koq baca L.A, saya malah nggak kelar2 baca John Grisham karena muatannya terlalu berat buat ukuran saya. Saya lebih suka yang mengalir seperti L.A :)

    ReplyDelete
  6. Wah, mantep banget reviewnya Mbak. Jadi pengn suatu hari nanti tulisan saya direview sama Mbak. (nulis dulu Ru!) Hahaha....

    Ah, aku setuju banget untuk catatan nomor 2! Saat baca novel lokal, aku lebih suka kalau menemukan unsur Indonesia di dalamnya, walau cuma sedikit.

    Tapi kalau alasannya kayak kata Mbak Hikaru sih bisa dimengerti juga. Walau tetap menurutku sayang kalo sama sekali nggak ada tempelan Indonesianya, padahal cepat atau lambat akan ketauan juga kan yang nulis orang Indonesia. Kalau pun orang masih mengira itu novel terjemahan, masukin unsur Indonesia malah bisa menarik juga. "Wah, Indonesia disebut-sebut!" gitu rasanya. Hehehe...

    ReplyDelete
  7. Hai ruru, Makasih kunjungannya:-) buat membangkitkan rasa terkoneksi n memiliki x ya, hehe

    ReplyDelete
  8. wah resensi mbak ria yg ini lbh seger deh drpd biasanya.. ada emot senyum dan melet2nya wkwkw..

    poin pertama jg sy rasakan aat baca buku ini.. nemu 3 nama yg mirip.. larry, garri dan marri.. jd krg enak ngingatnya.. :D

    resensi khas nan cakep kayak biasanya :)

    ReplyDelete
  9. qiqiqi, emot melet2 :D, makasih binta udah berkunjung :)

    ReplyDelete
  10. Nice review! Saya belum baca novelnya.. Tapi saya seakan deja vu dengan sebuah novel yang pernah saya baca semasa SMA dulu. Judulnya kalo' gak salah "Musim Gugur Di Wyoming", atau "Musim Dingin di Wyoming" - entahlah- pokoknya ada Wyomingnya. Dan saya dl emang gak terlalu merhatiin penulisnya. Tapi alur ceritanya hampir mirip sama ini, dengan jumlah halaman yang lbh sedikit. Atau ini emang reborn dr buku yg dl, dg tambahan cerita? *serius nanya*

    ReplyDelete