Riawani Elyta: RESENSI NOVEL : CINTA YANG MEMBAWAKU PULANG

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Saturday, 25 January 2014

RESENSI NOVEL : CINTA YANG MEMBAWAKU PULANG

 
Judul                         :            Cinta Yang Membawaku Pulang

Penulis                      :            Agung F. Aziz

Penerbit                    :            Indiva Media Kreasi

Tebal                        :            296 hal

Genre                       :            Fiksi

Terbit                       :            September 2013

ISBN                        :            9786028277624




Resensi                    :

Perang yang melanda Afganistan selama bertahun-tahun telah mencabik-cabik kehidupan seorang Shabana Ahmas. Ibunya meninggal dunia, dia pun terpisah dengan suami, anak tunggalnya yang baru berusia lima bulan, juga dengan ayah dan adik kandungnya.


Enam tahun berlalu, Shabana mendapat kabar bahwa ayahnya masih hidup dan tinggal di Saudi Arabia. Dengan bermodal uang hasil menjual tanah ayahnya, Shabana kemudian pergi ke Saudi Arabia untuk mencari ayahnya. Di negeri ini, ia diterima dengan hangat oleh paman dan bibinya, Zaher Hashemi dan Saghar Hamraaz.


Siapa menduga, di tanah suci Makkah, Shabana tak hanya berhasil menemukan jejak keberadaan ayahnya, tetapi juga bertemu adik kandungnya, suami dan anak kandungnya.


Tetapi, kebahagiaan itu tak berlangsung lama, serentetan peristiwa tragis terjadi, yang kembali memisahkan Shabana dengan orang-orang yang dicintainya.



Membaca novel bersampul warna kulit aprikot ini, sulit untuk percaya bahwa ini adalah sebuah novel debut. Sejak lembar pertama, novel ini telah menarik perhatian dengan sejumlah kelebihannya juga keunikannya, yaitu :

1.    Penuturan yang lincah, proporsional antara narasi dan dialog, juga diksi yang indah dan kaya adalah satu kelebihan yang membuat novel ini menarik untuk dinikmati hingga akhir. Dalam beberapa dialog, penulis juga menyelipkan percakapan yang cerdas dan menggelitik hingga nuansa yang terbangun pada awal-awal cerita pun terasa segar


2.    Tak dipungkiri, bahwa pengalaman pribadi memberikan sentuhan berbeda di dalam sebuah novel. Pengalaman penulis yang pernah berada di kota suci Makkah membuat penceritaan kota Makkah dan Madinah yang menjadi latar dominan tak hanya terasa detail, tapi juga indah dan memukau. Penulis tak hanya bercerita tentang detail tempat, tetapi juga suasana dan kultur masyarakat khususnya yang terjadi pada musim haji. Tentunya, ini pun didukung kemampuan “show not tell” penulis yang sangat baik


3.    Tema, alur dan plot novel ini tergolong tak biasa, dimana penulis dengan cerdik membidik peperangan Afganistan sebagai kekuatan latar cerita hingga beragam konflik yang tercetus karenanya pun terasa real dan memiliki keterkaitan yang solid


4.    Novel ini tak hanya sekadar bercerita, tetapi juga menambah wawasan pembaca, diantaranya adalah tentang permainan Buzkashi di Afganistan, yaitu pertandingan para penunggang kuda untuk memasukkan bangkai kambing ke lingkaran nilai, tentang sejarah penaklukan kota Hijaz oleh As-Sa’ud yang berdampak besar pada penghancuran peninggalan-peninggalan bersejarah di negeri Saudi termasuk jejak-jejak baginda Rasulullah SAW, tentang hukum qishas yang berlaku di Saudi, dan sebagainya



Namun, novel ini pun tak luput dari beberapa kejanggalan dan kekurangan, antara lain :

1.      Pada bab awal, terdapat adegan seorang lelaki tua Afganistan dan Farrukhzad yang memaki-maki tentara Amerika di tengah berlangsungnya pertandingan Buzkashi. Untuk sebuah negara yang dilanda konflik, apakah situasinya memang memungkinkan untuk warga setempat memaki-maki tentara yang menduduki wilayahnya? Sedangkan dalam beberapa visualisasi pendudukan Israel di Palestina misalnya, kita kerap menyaksikan adegan warga sipil yang disiksa atau ditembak, ataupun anak kecil yang melempar batu ke arah tank Israel


2.      Pada hal 19, terdapat percakapan ini :

“.............Sekarang, kau bisa membantunya siuman atau tidak?” Farrukhzad merutuk dalam hati.

Perempuan paro baya itu terlihat salah tingkah.

Kalau percakapan oleh Farrukhzad hanya berlangsung di dalam hati, mana mungkin lawan bicaranya menjadi salah tingkah, bukan?


3.      Terdapat beberapa kata sapaan pada bab-bab awal yang tidak dilengkapi glossarium seperti bachem, khanum, dan agha.


4.      Sampai akhir cerita, tidak ada gambaran spesifik tentang sosok Shabana Ahmas yang menjadi tokoh sentral cerita, selain berulang kali disebutkan sebagai wanita cantik secara puitis dan sempat mengundang kedipan mata tentara Amerika juga lirikan seorang supir taksi di Makkah. Tidak ada detail yang menyebutkan seperti apa bentuk mata, hidung dan wajahnya, berapa usianya, serta busana apa yang dikenakan Shabana. Apakah berupa jilbab lebar biasa, cadar ataupun burqa? Detail ini sebenarnya cukup penting disampaikan, mengingat tidak mungkin kecantikannya bisa mengundang kagum kalau ternyata Shabana mengenakan burqa, selain juga bahwa di negara-negara Timur Tengah, terdapat perbedaan antara negara yang sebagian besar wanitanya mengenakan cadar, burqa ataupun jilbab lebar


5.      Semakin mendekati akhir cerita, konflik terasa semakin menumpuk-numpuk. Hal ini bisa berpotensi menimbulkan plothole juga adegan kebetulan. Dan dalam novel ini, yang terjadi adalah yang kedua, dimana terdapat beberapa adegan kebetulan saat dalam waktu berdekatan Shabana bisa bertemu secara tak sengaja dengan adiknya juga dengan Faisullah di Makkah setelah bertahun-tahun terpisahkan akibat perang



Oh ya, saya belum menyebutkan keunikan novel ini. Dalam beberapa resensi yang saya baca, banyak yang mengkritik karakter Shabana yang terlalu tegar dan ceria meski dihantam oleh serentetan musibah dan cobaan yang tidak main-main. Shabana bahkan masih bisa tertawa disela-sela hari yang menegangkan menjelang vonis akhir ayahnya dan kerja keras keluarga untuk mengusahakan diyat bagi membebaskan ayah Shabana. 


Saya sepakat dengan pendapat ini, namun sekali lagi, latar peperangan yang dipotret penulis menjadi alasan logis dan cerdas bagi menumbuhkan karakter tersebut pada diri Shabana. Saya pernah beberapa kali membaca atau menonton kisah nyata orang-orang di wilayah konflik, dan pada faktanya, peperangan telah berhasil memetamorfosa mereka, tak terkecuali kaum ibu dan anak-anak menjadi manusia dengan ketegaran dan ketabahan luar biasa. Mungkin, luka, air mata dan kekerasan yang telah menjadi denyut kehidupan mereka itulah, yang secara perlahan menumbuhkan darah daging kekuatan dan ketangguhan jiwa dalam menghadapi berbagai kemelut dan cobaan.


Latar peperangan juga yang membuat saya pada akhirnya dapat mengerti mengapa seorang Faisullah sanggup begitu tega memisahkan Shabana untuk kesekian kalinya dengan orang-orang tercintanya. Perang ternyata tak hanya berdampak “positif” pada ketangguhan jiwa, tetapi di sisi lain, juga bisa membakar jiwa dengan dendam yang kesumat.


Keunikan lain juga terletak pada sindiran penulis terhadap jejak-jejak sejarah di kota Makkah yang digantikan dengan pembangunan peradaban modern, salah satunya seperti yang terjadi pada peristiwa penaklukan kota Hijaz atas alasan untuk membersihkan aqidah dari perilaku syirik. Apa yang menarik disini, pada halaman sebelumnya, justru digambarkan adegan beberapa wanita Pakistan yang tengah mengaji sekaligus memohon berkah dibawah tiang lampu yang dulunya adalah rumah baginda Rasulullah. Sebuah perilaku yang justru menandakan bahwa gejala perbuatan syirik tersebut memang mungkin terjadi.


Kisah menawan ini tak hanya mengajarkan tentang makna ketabahan dan ketegaran, memperkaya wawasan dan menyajikan teknik bercerita yang baik, tetapi juga menggugah kesadaran kita bahwa cinta yang tertinggi tetaplah cinta kepada Allah. Cinta yang terbukti dapat menyembuhkan sebesar apapun luka yang mengiringi perjalanan hidup kita.


Saya teringat catatan Afifah Afra tentang novel yang baik menurutnya, yaitu novel yang kaya kosakata, detail, orisinil, kaya referensi, adanya keterlibatan penulis, dan mengandung dokumentasi peristiwa. 


Maka, dengan berbagai kelebihan novel ini, tak salah rasanya untuk menyebutnya sebagai salah satu novel yang cukup berhasil memenuhi kriteria tersebut, sekaligus menahbiskan nama Agung F. Aziz sebagai salah satu penulis yang karya terbarunya paling saya nantikan.



6 comments:

  1. Another way of review, ini guwek banget ini mbak lyta, daku paling sering mengulas kekurangan dengan pakai list ginian :D

    ReplyDelete
  2. Hihihi toss mbak eky deh kalo gitu :-)

    ReplyDelete
  3. kalau kemaren ikutan, pasti juara dah ini mah..
    mantap surantap..

    ReplyDelete
  4. Yang lalu biarlah berlalu , qiqiqiqi

    ReplyDelete
  5. Memang sangat mengharukan bisa terlibat dalam proses penerbitan buku ini. Selalu senang jika berhasil berinteraksi dengan bakat-bakat baru yang punya kans besar untuk menjadi penulis besar. Seperti itu juga yang saya rasakan saat pertama kali membaca tulisanmu :-D

    Sebagai saran, biar tampilan blog enak, identitas buku ditaruh di bawah saja, Lyta...

    ReplyDelete
  6. oke boss, buat resensi yang nanti2 deh :)

    ReplyDelete