Riawani Elyta: Saat Kekhawatiran Melanda

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Thursday, 17 October 2013

Saat Kekhawatiran Melanda

Kemarin, saya menerima email berisi revisi sinopsis yang udah saya ajuin sebelumnya. Berbeda dengan kondisi-kondisi sebelumnya, ketika revisi sinopsis menjadi sinyal untuk mulai menulisnovel, rasanya selalu excited, dan nggak sabar pengen memetamorfosis sinopsis tersebut menjadi satu cerita utuh.

Hari ini, kalo ditanya, apakah saya excited? Ya, kadar excited saya masih sama, tetapi kali ini ada hal lain yang mengiringinya : kekhawatiran. Sesuatu yang tak pernah menghinggapi saya sebelumnya. Makin kesini, makin banyak membaca tehnik menulis, membaca karya penulis-penulis lain yang 'wow', juga makin banyak karya saya yang terbit, saya justru kian dihantui perasaan khawatir, khawatir kalau kualitas tulisan saya menurun, khawatir kalau nggak bisa menyajikan sesuatu yang baru dan menyenangkan hati pembaca saya. Ada tuntutan yang bergejolak dalam diri saya untuk menulis lebih baik lagi.



Sebelumnya, saya tak pernah terlalu detail saat merancang unsur-unsur pembangun novel. Saya hanya menulis sinopsis, selanjutnya saya lebih suka membiarkan cerita berkembang selama proses penulisan, membiarkan semua karakter berjalan sesuai kehendak cerita, dan sesuai inspirasi dariNya yang Ia tuntun selama saya menyelesaikan cerita.

Seorang editor saya bilang, hal itu biasa dialami penulis. Tetapi, kalau penulisnya mau untuk terus belajar, kekhawatiran itu sebenarnya tak perlu menjadi hal besar. Ya. Saya sadari benar itu. Sampai sekarang pun, saya masih membaca buku panduan tehnis menulis, masih banyak belajar dari karya-karya yang saya baca, dan terus mengevaluasi karya-karya saya yang sudah terbit, sisi mana yang harus dipertahankan, mana yang wajib ditingkatkan, mana yang harus dikurangi, dsb.

Tetapi, ada satu hal yang tidak bisa "dibangun" oleh tehnis teoritis, yaitu membangun keterlibatan hati sepanjang proses penulisan. Dan, inilah yang menurut saya tak kalah krusial. Dari respon-respon pembaca yang mereka sampaikan ke saya baik lewat SMS, email, inbox FB or twitter, karya saya yang berkesan buat mereka, umumnya adalah karya yang saya bangun dengan keterlibatan hati yang cukup dominan. Karya yang ketika menulisnya, saya pun sering tak kuasa menahan air mata dan seakan jiwa saya dan jiwa tokoh saya menjadi satu. Dan, untuk bisa membangun hal yang krusial ini, juga bukan hal yang mudah. Kita butuh passion, kepedulian, dan motivasi yang besar terhadap tema yang kita gali, sehingga kita juga bisa menjiwainya secara maksimal.

Ah, sepertinya curhatan ini tak perlu terlalu panjang lagi. Cukuplah menjadi catatan bahwa saya pernah mengalami kekhawatiran ini dalam proses menulis. Saya tak boleh terlalu lama larut dalam kekhawatiran. Setelah catatan ini saya publish, maka yang harus saya lakukan adalah menggali kembali motivasi saya untuk mulai menulis panjang, juga memancang komitmen untuk menulis yang lebih baik lagi. Semoga Allah meridhoi. Amin.

No comments:

Post a Comment