Riawani Elyta: EGOIS

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 17 September 2013

EGOIS


gambar hanya ilustrasi :)
 

Manusia itu memang makhluk paling kompleks. Termasuk saya, karena saya juga manusia :) Adakalanya saya butuh untuk ngobrol, berbagi, bicara, entah itu di dunia nyata atau pun di dunia yang berbatas virtual, tetapi adakalanya juga, saya lebih menginginkan kesendirian. Seperti saat ini. Saat dimana saya hanya ingin menulis apa yang saya rasakan, saya pikirkan, jauh dari respon apapun apalagi perdebatan.

Mungkin, inilah ego. Atau mungkin juga kebutuhan untuk sesaat menjadi diri sendiri. Ya. Ingin saya bertanya. Kapan waktu untuk kita benar-benar menjadi diri sendiri? Terkadang, menjalani multifungsi sebagai makhluk sosial, tanpa kita sadari, membuat lebih banyak sisi diri kita yang terenggut oleh keinginan orang lain. Kita berbuat, bicara, bertindak, bahkan berpikir, semata-mata untuk menyenangkan hati orang lain, menghindari perselisihan, menganggap itu sebagai "kewajiban" yang harus kita penuhi sebagai makhluk sosial. Tanpa kita sadari, bahwa sisi diri kita sebagai makhluk individu pun terkadang menuntut perhatian.



Maka, inilah "perhatian" yang bisa saya berikan pada diri sendiri saat ini. Membiarkan diri melakukan katarsis sampai tak ada lagi yang perlu dituntut. Sampai saya puas menikmati "the real me time", waktu untuk benar-benar menjadi diri sendiri tanpa harus takut berselisih dengan kepentingan orang lain, termasuk memikirkan apa yang ada di pikiran orang lain terhadap diri ini.

Apakah saya egois? Terserah. Jika hal semacam ini pun  dianggap egois. Saya sedang ingin menikmati ke"egois"an, jadi, maaf-maaf saja, kalau saya pun sedang mengosongkan pikiran saya dari semua anggapan dan komentar. Setidaknya saya sudah berusaha untuk tidak memaksakan ego saya pada orang lain. Karena bagi saya, ego tidak lebih penting dari waktu, dan betapa waktu akan berjalan sia-sia jika habis untuk memaksakan ego dan kehendak pada orang lain, sementara sesuatu yang dipaksakan itu pun, belum tentu benar atau tidak.

Ah, kuucapkan selamat datang wahai diriku, mari sejenak kita rayakan kesendirian ini, sebelum kita kembali bertukar wajah, menjelma makhluk-makhluk sosial yang tak henti-hentinya mengganti  arah :)



3 comments:

  1. Sering menemukan kata "katarsis" dlm tulisan mba Lyta :)

    ReplyDelete
  2. Ckckck, kenapa juga ilustrasinya harus memakai tampang itu :D :p

    ReplyDelete
  3. Ibu Rima : iya, kata favorit, hehe
    Santi : yg penting pas kan ama tulisannya? *dipas-pasin* :D

    ReplyDelete