Riawani Elyta: Review Always Be in Your Heart : Kelembutan Cinta di bumi Lorosae

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Friday, 15 March 2013

Review Always Be in Your Heart : Kelembutan Cinta di bumi Lorosae



Judul       :    Always Be in Your Heart

Penulis    :     Shabrina WS

Penerbit  :     Qanita

Tebal      :      236 hal



Novel pemenang tiga Lomba Penulisan Romance Qanita ini bercerita tentang cinta segi tiga antara Marsela, Juanito dan Randu dengan berlatar belakang bumi Lorosae dan peristiwa sebelum serta pasca referendum pemisahan Timor Leste dari Indonesia. Satu dari sekian banyak peristiwa yang menggores jejak luka dalam perjalanan panjang bangsa ini.


Marsela dan Juanito bersahabat sejak kecil. Lambat laun mereka pun saling mencintai. Namun perbedaan prinsip keluarga saat jajak pendapat menjelang referendum membuat keduanya terpisah. Juanito tetap bertahan di Timor Leste, sementara Marsela pergi mengungsi bersama ayahnya. Dalam pengungsiannya, Marsela berkenalan dengan Randu, pria pemilik toko bangunan yang juga kemudian mencintainya.


Kepada siapakah hati Marsela akan berlabuh? Berhasilkah ia bertemu kembali dengan Juanito setelah sepuluh tahun berpisah? Ataukah ia memilih untuk merajut kebahagiaan dengan Randu?



Sesuai judul dan tampilan covernya, begitu pulalah nuansa yang mewarnai perjalanan cerita di dalamnya, mengalir manis dan lembut dalam penuturan seorang Shabrina WS  yang memang memiliki ciri khas tersendiri pada keindahan, kelembutan dan kesantunannya memilih dan merangkai kalimat.


Ini memang novel yang relatif easy-reading dengan alur, plot dan konflik yang sederhana. Namun dalam kesederhanaan itulah tersimpan kekuatan dan kelebihan dari novel ini. Bagi saya, bukan hal mudah menjadikan sesuatu yang sederhana menjadi istimewa, dan Shabrina WS, adalah satu dari sedikit penulis tanah air yang memiliki kelebihan itu.


Bab awal novel ini sempat mengingatkan saya pada novel Tanah Tabu karya Anindita yang memenangi  DKJ 2008. Yaitu saat cerita dibuka oleh narasi dari tokoh seekor anjing. Serta kemiripan ciri narasi keduanya. Saya membayangkan, sekian tahun ke depan, karya Shabrina sangat mungkin bermetamorfosa menjadi seperti karya-karya Anindita. Karya yang mengusung nilai lokalitas, kesederhanaan dan pemilihan kata yang serba indah dan bernuansa manis.


Sayangnya, setting Timor Leste memang kurang tergarap maksimal di novel ini terutama pada bab-bab awalnya, namun mulai bergerak menjadi lebih baik pada bab-bab pertengahan hingga akhir. Dan entah mengapa saya merasa alurnya sedikit terlalu cepat saat cerita mulai bergerak menuju masa sepuluh tahun kemudian. 


Deskripsi tokohnya juga belum tergambar secara detil hingga saya kesulitan membayangkan sosok ketiga tokoh utamanya. Tetapi, saya sempat tersenyum-senyum sendiri membaca kisah antara Randu dan Marsela. Cara-cara Randu   mendekati dan menjaga Marsela, sempat mengembalikan memori saya pada seorang pria yang juga melakukan hal nyaris serupa pada saya 12 tahun lalu. Pria yang kini sudah menjadi ayah untuk ketiga putra-putri kami :D


Dan, sebenarnya saya sangat berharap cerita dari sudut Lon dan Royo, kedua anjing dalam cerita ini diberi porsi lebih maksimal, walau mungkin jadinya nanti akan sedikit mirip dengan Tanah Tabu yang tokohnya seorang anak kecil, seekor anjing dan babi. Karena salah satu kelebihan Shabrina, adalah pada saat ia bercerita dari sudut pandang hewan, jadi, saya merasa agak kecewa karena porsi untuk Lon dan Royo di awal dan akhir cerita hanya seperti tempelan saja.  Tapi, mungkin karena ini novel bergenre romance, maka porsi cerita dari sudut pandang hewan pun menjadi terbatas.


Terlepas dari beberapa hal diatas, yang tentunya hanya dari sudut pandang subjektivitas saya belaka, saya sangat menikmati membaca novel ini, terbukti saya bisa menyelesaikannya dalam waktu beberapa jam saja, dan bagi saya, sebuah novel yang baik adalah novel dengan “feel” yang baik, pesan moral yang tidak menggurui juga cerita yang mudah dipahami. Dan novel ini, berhasil menjawab semua kriteria (dari sudut pandang) saya untuk sebuah novel yang baik itu. Jadi, sungguh layak kiranya novel ini berhasil menyabet pemenang ketiga dalam even lomba tersebut.


Di akhir review ini, saya kutip satu quote bermakna dari hal.85, yang diucapkan oleh tokoh ayah Marsela : Kehormatan bukan terletak pada pekerjaan kita. Tetapi ketika kita tak pernah bergantung pada manusia.


Two thumbs up for you, Shabrina. Teruslah eksis dengan ciri-cirimu yang unik dan menyentuh, percayalah, tak banyak penulis tanah air ini yang punya keunikan dan kelebihan sepertimu, keunikan yang insya Allah akan membuat karyamu bersinar dengan “warna”mu sendiri.





19 comments:

  1. novel ini keluar pada tahun berapa, mbak Elyta? sekedar tambahan informasi saja.. :D

    ReplyDelete
  2. kalu baca resensi yang apik gini, jadi penasaran pengen bacanya. tapi mengingat genre romancenya ntar dulu deh......saya super lelet kalu baca romance hedeuh....

    ReplyDelete
  3. udah rapinya, kapan nih blogku "diacak2" juga nih :)

    ReplyDelete
  4. An, thn 2013
    Mbk eky, gak rugi bacanya mbak :-)
    Mbak Sarah, hehe, beda selera ya:-)
    Naqi, request aja ama suhu, hehe :-)

    ReplyDelete
  5. warna mbak eni emang beda :)
    dan bisa menembus dimana2 tanpa merubah ciri khasnya

    ReplyDelete
  6. Cukup lengkap untuk kategori sebuah resensi. Sudah memakai teknik 'yang paling rumit' pula dalam menyusun resensi, yaitu teknik 'comparing' yaitu membandingkan antara novel ini dengan novel lain, 'Tanah Tabu'.

    Namun, meskipun merupakan teknik sederhana, 'cutting and glueing', yakni 'memotong dan merekatkan' bagian-bagian yang unik untuk diperlihatkan ke publik, bisa juga menjadi penguat dari sebuah resensi. Khususnya agar gambaran calon pembaca atas sebuah novel menjadi lebih kuat lagi.

    'Focusing' dari resensi, yang 'memvonis novel ini' sebagai 'novel yang relatif easy-reading dengan alur, plot dan konflik yang sederhana', merupakan pemetaan segmen dari si peresensi. Untung saja di paragraf awal, telah 'mengangkat' novel ini dengan kalimat: 'Novel pemenang tiga Lomba Penulisan Romance Qanita ini bercerita tentang cinta segi tiga antara Marsela, Juanito dan Randu dengan berlatar belakang bumi Lorosae dan peristiwa sebelum serta pasca referendum pemisahan Timor Leste dari Indonesia.'

    Minimal, penyuka 'novel rumit', jadi tertantang juga untuk membaca buku ini. Meski klaim dari peresensi novel ini sederhana, toh tema dan latar-nya menarik.

    Komen untuk isi buku, ya belum, lah ... soalnya belum baca :-), tetapi resensi ini sudah cukup mengundang antusiasme tersendiri.

    Tapi, bagian yang paling menarik dari resensi ini adalah kalimat: "Cara-cara Randu mendekati dan menjaga Marsela, sempat mengembalikan memori saya pada seorang pria yang juga melakukan hal nyaris serupa pada saya 12 tahun lalu. Pria yang kini sudah menjadi ayah untuk ketiga putra-putri kami :D"

    ^_^

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Terima kasih banyak Mbak Riawani. Udah baca dan bikin reviewnya. Ini, suatu yang sangat berharga bagi saya. Saya menyukai dan belajar banyak dari komentar2mu. :)

    Untuk setting di bab awal memang di Atambua, belum di Timor Lorasae, :) Terus, untuk Lon dan Royo, ide awalnya nulis ini justru akan membuat fabel anjing secara utuh, seperti bagian saya di PING. Tapi karena tiba-tiba membaca lomba romance Qanita, hadirlah Marsela dan Juanito. Tapi Lon dan Royo tetap menjadi tokoh penting. Sengaja juga cerita dari sudut pandang anjing hanya mendapat porsi sedikit, di bagian prolog dan epilog. Jadi, maaf banget kalau tidak sesuai harapan.
    Doakan ya, kelak bisa bikin fabelnya secara utuh. Aamiin. Mbak tahu kan, salah satu keinginan saya bisa punya buku dengan cover wajah hewan. hehehe

    Semua komentar Mbak ini, akan saya simpan, insya Alloh menjadi pembelajaran penting dan masukan yang berharga bagi saya. Terima banyaaaak Mbak. :)

    ReplyDelete
  9. Binta : setuju :-)
    Yeni : oh, itu ternyata bagian paling menarik, qiqiqiqi :-)
    Eni : amiin. Semoga nanti lon dan royo bisa jadi fabel yg utuh. Selamat untukmu yaa:-)

    ReplyDelete
  10. Baru nyadar, kalau setting waktu di blog ini belum disesuaikan hihi. Ini sudah 16 Maret :D

    ReplyDelete
  11. Love to read,tulisan khas mbak lyta. congrats to mbak Eni Shabrina, tulisan-tulisannya selalu lembut dan romantis pas seperti orangnya :)...dan jadi nambah ilmu baca komen mbak Yeni Mulati Afifah Afra :). Pengen juga blog ku dipermak beliaunya #eh.

    ReplyDelete
  12. Mumpung msh sadar, tolong dunk yen disesuaikan Sxan :-) qiqiqiqi :-):-)

    ReplyDelete
  13. Iya dwi, shabrina mank lembut pribadi n tulisan nya:-)

    ReplyDelete
  14. Wiihh , makasih nih ya udah mau review

    ReplyDelete