Riawani Elyta: PENULIS SENIOR, JUNIOR (PEMULA), OR SUJU (SUPER JUNIOR *JUST A TITLE

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014

Novel Pemenang Harapan LMNI 2014
The Secret of Room 403
Tuesday, 28 August 2012

PENULIS SENIOR, JUNIOR (PEMULA), OR SUJU (SUPER JUNIOR *JUST A TITLE

Bismillahirrahmanirrahim.
Pasti gak asing dengan sebutan2 di judul ini 'kan? Buat yang terakhir, kali ini bukan mengacu ke grup nyanyi, tapi masih sekufu dengan sebutan2 sebelumnya :)
 Terus terang, saya masih ngerasa rancu dengan penyebutan2 ini, karena ternyata dalam pengkategoriannya pun masih belum benar2 fix, setidaknya di benak saya yang emang nggak pernah mengecap pendidikan literasi n sastra secara formil. (Kali2 aja di lembaga akademis pernah diajarin definisi dari sebutan2 ini :D).
 Saya kasih contoh bbrp kasus : Penulis A udah mulai nulis cerpen n puisi sejak dia masih kelas 4 SD, tapi belum berani mempublikasikan karyanya, begitu duduk di bangku kuliah, novel perdananya terbit, dan sejak itu dia kian aktif menulis. Kalo dilihat dari kurun waktu dia menulis, tentu itungannya udah mencapai 10 tahunan kali ya? Secara, dia udah berani nulis cerpen sejak masih SD? Tapi, mengingat novel perdananya muncul ketika ia kuliah, katakanlah usianya 20 tahun, maka orang yang nggak tahu latar belakangnya akan menyebutnya sebagai penulis pemula or junior.

Penulis B baru mulai menulis saat usianya udah nggak lagi bisa dibilang muda, biar gampangnya saya ambil contoh ttg sya aja deh, saya baru mulai nulis saat anak saya udah 2 orang, udah lama ninggalin bangku kuliah, dan novel perdana baru nongol saat usia saya udah kepala 3. Kalo diitung dari kurun waktu saya mulai nulis, jelas kategorinya masih balita, krn belom lebih dari 5 tahunan, seharusnya saya bisa dunk masuk ke kategori penulis Suju? :) tapi berhubung udah cukup 'tua', maka orang2 akan dengan mudah melabeli Penulis senior, padahal, hmm, sebutan ini bikin saya pengen nyungsepin kepala ke pasir kek burung onta, mending kalo saya emang dah nulis sejak kecil, or minimal buku solo (yg terbit, gak termasuk yg ditolak :D) udah belasan, ini mah baru seuprit :)
 Penulis C, adalah penulis yang emang profesinya menulis, ya mereka yang menjadi wartawan, jurnalis, ghost writer, penulis artikel lepas, dsb. Mereka2 ini mungkin saja belum ngelahirin karya yang dibukukan, or karya dalam bentuk buku masih kalah banyak dibandingkan mrk yang emang penulis buku, tapi kalo diitung2, dari kapasitas berapa milyar huruf yang mereka tulis, tentu, nggak ada salahnya 'kan menyebut mereka, gak peduli mereka muda or tua, sbg penulis senior?

Nah, khusus yang untuk kategori C ini, sy pernah terlibat debat 'halus' dgn satu penerbit indie di FB, menurut penerbit itu, seorang penulis baru sah n diakui eksistensinya sbg penulis kalo udah menghasilkan buku (dfinisi ini juga pernah saya temukan didalam tulisan seorang wartawan di koran), lalu saya ketengahkan contoh mereka2 yang bergelut dialam dunia menulis, ya mereka2 yang penulis C itu, apakah para wartawan/jurnalis dsb belum dianggap sah eksistensinya sbg penulis sepanjang mereka belum menghasilkan buku? Si penerbit lalu berkilah, bahwa opini mereka adalah dalam konteks penerbitan buku, bukan tulisan di media.
 Seiring dengan banyaknya produk antologi, maka penulis yang udah terlibat dalam puluhan antologi namun belum nelorin satu buku solo pun, ke kategori mana mereka harusnya dimasukin? Saya pernah menemukan note sentilan yang cukup 'hangat' dari pak Bambang Trim tentang topik yang satu ini, a.l. menyebut definisi oleh seorang pakar penulisan yg saya lupa namanya, bahwa antology, kump. tulisan, bunga rampai dan sejenisnya belum bisa dikatakan satu buku 'utuh' karena satu buku utuh idealnya merepresentasikan sebuah 'proses' mulai dari prolog, isi sampai kesimpulan. Berhubung saya bukan ahli literasi, so, no commentlah tentang ini, biar pakar2nya aja yg ngebahas :)
 Sebenernya, penyebutan2 ini bukanlah orientasi utama dari note ini, karena saya yakin banyak penulis yang nggak merasa nyaman jika dirinya dilabeli sebutan2 tertentu. Apa yang sesungguhnya ingin saya ungkapkan adalah, nggak peduli seberapa lama seseorang menggeluti dunia menulis, yang lebih penting adalah bagaimana ia memelihara passion-nya dalam dunia ini, dunianya para pejuang, makanya lalu muncul lagi sebutan 'pejuang pena'. Sebutan yang harusnya sangat membanggakan, bukan? Karena 'pejuang' mengacu pada sebuah proses yang berliku, meski didera kesulitan dan hambatan tapi tak lantas menjadi alasan untuk berhenti juga mengacu pada sebuah kerja keras tanpa mengharap pamrih yang sepadan (really? :D). Nggak banyak loh, profesi yang bisa disematkan istilah 'pejuang' ini. Kalo saya dikaruniai panjang umur dan kesehatan hingga bisa kerja sampe pensiun, yakin deh nggak bakal ada yang nyebut saya sebagai pejuang birokrat :)
 Lantas, bagaimana seseorang bisa mempertahankan passion-nya didalam dunia yang penuh lika-liku ini? Nurut saya, ada banyak cara yang bisa ditempuh :
Pertama, dengan tetap mempertahankan produktivitas menulis, tak peduli tulisan itu untuk kepentingan komersil ataupun sekedar untuk ditulis di blog2 dan note2 pribadi.
Kedua, dengan bereksperimentasi di banyak jenis penulisan, kalo tadinya hanya spesialis di cerpen dan puisi, nggak ada salahnya terus belajar dan bereksperimen di bidang lainnya, seperti artikel, non fiksi atau novel.
Ketiga, dengan terus meng-upgrade kualitas tulisan, menjadi lebih berbobot dan mencerahkan tanpa kehilangan unsur menghibur.
keempat, dengan nggak pelit membagi ilmu atau sekecil apapun ilmu yang dimiliki kepada orang lain, bahkan mengcopas ilmu orang lain dengan tetap menyebut sumbernya pun sudah bisa dianggap membagi ilmu/pengetahuan.
Kelima, dengan tetap mengondisikan diri berada di lingkungan yang terus memacu semangat menulis
Keenam, dengan banyak membaca, membaca dan terus membaca, karena membaca adalah BBM paling vital untuk seseorang yang ingin tetap produktif menulis.
Ketujuh dst, tolong tambahin lagi dunk ^_^
 Dengan begitu berwarnanya lika-liku dunia yang sesungguhnya sangat mengasyikkan ini, saya sama sekali nggak keberatan dengan munculnya istilah pejuang pena, apalagi, profesi ini juga termasuk profesi yang rawan ditipu dalam berbagai bentuknya, mulai dari royalti yang macet, honor yang nggak dibayar, isi tulisan yang ditiru tanpa nyebutin sumbernya, dsb. Dan sejauh ini, saya belum pernah dengar ada penulis yang memperkarakan penipuan2 ini sampai ke meja hijau, mungkin, a.l. karena payung hukum untuk melindungi nasib penulis masih tergolong lemah, secara, penulis murni juga rata2 masih lemah kondisi keuangannya untuk menyewa pengacara mahal kalo nggak lincah2 nyambi profesi lain :D.

Tapi, boleh percaya boleh tidak, biarpun ada jutaan hambatan menghalang, profesi ini adalah profesi yang paling sulit ditinggalkan saat seseorang telah jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta membuat aktivitas menulis lantas menjadi bagian penting dari rutinitas yang telah mendarah daging, hingga akhirnya ada yang terasa kurang kalo sehari saja nggak menulis walau hanya sekedar mengupdate status di fesbuk :)
 So, harapan saya untuk semua kita2 yang udah kudu jatuh cinta sama dunia ini, yuk tetap memertahankan besarnya passion kita untuk eksis disini, pelan2 mulai meluruskan niat dan usaha untuk berproses menghasilkan tulisan2 yang mencerahkan, tanpa peduli apapun sebutan yang berseliweran di sekitar kita, juga tanpa mengharap pamrih yang sepadan (kecuali kalo menulis emang jadi profesi, untuk menghidupi keluarga, mau nggak mau masalah materi juga tetap harus dijadiin motivasi :)) karena pejuang tangguh n sejati toh nggak butuh pelabelan, ....soal popularitas, materi, penghargaan, yang insya Allah mudah2an akan jadi milik kita juga suatu hari yang entah kapan, minjem komentar bunda HTR, anggap aja semua itu sebagai bonus sebuah kerja keras. Bukankah tak ada bonus yang lebih berharga selain kasih sayang dan keridhaanNya untuk sebuah kerja tulus, investasi berguna sekaligus amal jariah disaat kita2 semua kelak akan berpindah jua menuju alam keabadian?

 
kesalahan bukan pada mata anda, emang gambarnya
kurang nyambung ama topik tulisan :)

No comments:

Post a Comment