Riawani Elyta: October 2012

New Romance Novel by Riawani Elyta

New Romance Novel by Riawani Elyta
Love Catcher
Monday, 29 October 2012

TENTANG SETTING

Catatan di bawah ini, seperti biasanya hanyalah berdasarkan pengalaman yang saya rasakan saat membaca buku. Jadi, bagi yang membutuhkan tips yang lebih tepat dan akurat, saya sarankan, lebih baik mencarinya di buku-buku panduan menulis atau pun info link yang memang lebih pas untuk itu.

Tak jarang, saat membaca sebuah novel, elemen-elemen pendukung yang semestinya bisa membuat performa novel tampil lebih baik justru berefek sebaliknya, salah satunya dalam hal setting, atau latar cerita. Baik itu terkait setting waktu, tempat mau pun situasi sosial-kultural. Ada beberapa hal yang membuat deskripsi setting justru terasa mengganggu proses membaca, antara lain, sbb :

Monday, 15 October 2012

TAMPARLAH DAKU KAU KUKEJAR LALU KUGILAS (Part 2)

Terkadang, kita membutuhkan sedikit sentilan, senggolan, atau bahkan tamparan dalam hidup untuk membuat kita terjaga, bangkit, lalu bertekad untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dari apa yang bisa kita lakukan hari ini. Itu sebabnya, saat kita membaca atau menonton biografi tokoh2 ternama, pada umumnya mereka mengawali jejak langkah dengan terlebih dulu menapak di atas kerikil tajam, pendakian nan terjal bahkan bara api, sebelum akhirnya menjadi seperti mereka yang kita ketahui sekarang.

Pada catatan ini, saya akan sedikit "buka-bukaan" tentang beberapa pengalaman yang cukup "menampar" saya untuk lebih giat menulis dan membuktikan bahwa saya bisa mencapai cita-cita saya sebagai penulis. Untuk tamparan yang datang dari internal keluarga, insya Allah akan saya ceritakan pada catatan berikutnya, atau yang membaca tulisan ini, bisa juga menemukan sebagian kecil tentang itu di dalam antology Asma Nadia Inspirasiku.

Sebenarnya, kalo dibilang tamparan, rasanya kok terlalu kejam ya? Tapi kalo judulnya diganti cubitlah aku or senggollah aku, ntar bisa ngundang asumsi macem2 :D

Sebagian besar tamparan yang menjadi lecut ini memang terjadi di sosmed. Harus diakui, bahwa sosmed telah mengembangkan budaya interaksi secara terbuka. Setiap pengguna akunnya punya akses untuk berkomunikasi secara terbuka, termasuk mencaci maki memuji sanjung secara terbuka pula.

Pertama - sekitar akhir 2009, saya baru membuka akun FB, waktu itu, novel duet pertama saya baru terbit. Iseng, saya singgah di wall kakak saya yang juga partner duet  pada novel itu. Dan disitu, di bawah status promonya untuk novel itu, entah kenapa, komentar2 teman2nya membuat saya sedikit kecil hati. Mengapa? Karena komentar2 di situ seolah-olah novel itu hanya karya satu orang, yaitu kakak saya, padahal, tanpa bermaksud mengecilkan peran kakak saya, nyatanya 90% porsi penulisan, saya yang menulisnya. Sebenarnya, sah2 aja teman2nya berkomentar demikian, toh kakak saya adalah teman mereka, dan itu wall-nya dia, wajar sekali sebenarnya kalo mereka berkomentar demikian. Namun waktu itu, karena semangat lagi menggebu2 (maklum, novel pertama :)), hal itu membuat saya bertekad akan  belajar menulis lebih giat agar kelak saya bisa menerbitkan novel solo dan membuktikan bahwa saya bisa menulis, dan bukan sekadar mendompleng di novel duet itu.

Kedua - sekitar awal 2010, masa ketika antology tengah naik daun di FB. Beranda saya dipenuhi dengan audisi2 antologi, dan tak jarang, saya pun diseret ke inbox2 berantai untuk berdiskusi tentang antologi. Salah satu inbox berantai yang menyeret saya waktu itu, isinya perempuan semua, rata2 udah mulai menulis sejak beberapa tahun, mengikuti organisasi kepenulisan, juga tak sedikit yang udah punya buku. Waktu itu, mereka seringnya ngobrol dengan bahasa daerah yang sama sekali saya nggak ngerti. Beberapa kali saya interupsi, meminta mereka ngbrol pake bahasa Indonesia saja karena saya nggak sesuku dengan mereka dan nggak ngerti materi pembicaraan, namun setiap kali pula dicuekin. Beberapa kali coba nimbrung, sama juga, tetep dicuekin. Sampai akhirnya praduga jelek itu melintas dalam benak saya, apa karena saya penulis anak bawang, yang baru punya secuil buku dan menulis pun baru2 ini saja, sehingga suara saya tak layak didengar? Dari situ, semangat menulis itu kembali menggelora. Saya ingin buktiin pada mereka yang ada di inbox itu kalo saya nggak akan selamanya jadi anak bawang, boleh2 saja mereka telah memulai start menulis lebih dulu, tetapi saya bertekad untuk bisa mengejar ketertinggalan itu, kalo perlu tak hanya mengejar, tetapi juga mendahului mereka untuk bisa menjadi kompetitor di arena literasi. Kompetitor dalam produktivitas juga dalam kualitas karya.

Ketiga - ini terjadinya di dunia nyata. Tahun yang sama, kota kelahiran saya menjadi tuan rumah event literasi cukup bergengsi, yaitu Temu Sastrawan Indonesia III (TSI III). Penulis dan sastrawan lokal diberi kesempatan untuk ikut serta, dengan syarat harus sudah menerbitkan buku dan mengumpulkan cerpen atau puisi untuk diseleksi. Maka, dengan antusias saya pun mendaftarkan buku, cerpen dan puisi saya ke panitia. TAk lama setelah itu, seorang sastrawan lokal mengundang saya ke rumahnya. Undangan yang membuat saya senang banget. Ada tiga orang sastrawan dan penulis lain yang datang juga. Awalnya, saya begitu naif dan bersemangatnya saat bercerita tentang aktivitas menulis saya saat ini yang mencoba ikut dalam berbagai audisi antologi di FB. Namun mereka tak tampak tertarik. Mereka malah balik bertanya, memangnya kamu tahu apa itu antologi? KAmu tahu nggak kalo menulisnya 2, 3, or 4 orang, itu juga udah namanya antologi, ada juga yang bilang, kalo dia nggak bakal ikut dalam proyek2 yang nggak bikin kualitas dia lebih ter-upgrade. Sampai di sini, saya mulai merasa inferior lagi.

Malam terus beranjak. Pembicaraan kian berkembang pada hal2 yang semakin membuat saya merasa kecil. Tentang persaingan sastrawan senior-junior, pengaruh intrik politik dan kepentingan terhadap sastra lokal, sastrawan yang diakui dan yang tidak, dsb. dan puncaknya adalah ketika salah satu dari mereka mengeluarkan surat keputusan walikota berisi nama2 penulis lokal yang terpilih untuk even TSI III itu. Saya baca, dan...nama saya enggak ada.

Kecewa tentu saja, karena nama2 yang terpilih, justru sebagian besar saya ketahui belum memiliki buku, dalam artian, sebenarnya nggak cukup syarat dong? Walaupun bbrp hari setelah itu panitianya bilang kalo nama saya sebenernya terdaftar, saya memilih tidak hadir. Iya kalo emang masuk list, kalo enggak, malu2in aja dong datang nggak diundang? :)

Kembali, saya merasa sedikit tertampar. Tamparan yang membuat saya memancang tekad, meskipun saya nggak bisa nulis yang nyastra2 seperti mereka, saya akan buktiin kalo saya bukan penulis jago kandang, biarlah nggak dikenal di kota sendiri  nggak apa-apa, yang penting karya saya, baik yang komersil maupun tidak, bisa dinikmati orang2 yang tinggal di tempat lain di negeri ini, di kota2 yang tak pernah saya datangi. Alhamdulillah, kekecewaan saya waktu itu sedikit terobati karena cerpen saya terpilih untuk mengisi antologi TSI III.

Keempat - kembali terjadi di dunia maya. Waktu itu, novel kedua saya baru terbit. Ada diskusi tentang EYD dan editan di sebuah grup nulis. Terutama untuk editan atas karya penulis yang EYDnya parah, itu menuntut kerja ekstra dari editor. Saya nimbrung, saya tanyakan, bagaimana kalo andai kesalahan itu justru dari editor, dan ini emang kenyataan, ada beberapa mistypo dalam novel saya pasca cetak yang sebelumnya tidak ada. Apa komentar sang empunya grup yang juga editor? Semoga tidak ada lagi penulis yang se............. @Riawani Elyta.

Iya, sodara2. Nama saya dimensyen. Sengaja saya kosongin titik2 itu karena saya udah lupa persisnya gimana, yang jelas asumsinya adalah bahwa saya penulis pemula yang terlalu pede dan sombong, sehingga menganggap naskah saya lebih baik kualitasnya dari hasil editan pasca cetak. Waktu itu, mata saya langsung menghangat, saya tulis lagi di bawahnya, saya siap mengirim naskah pra dan pasca cetak untuk anda melihat di mana bedanya. Dia ngejawab ngerasa nggak enak hati, tanpa permintaan maaf, dan tetap keukeuh bilang bahwa selama ini sebagian besar kesalahan EYD ada di pihak penulis.

Ya sudahlah. Dari situ saya bertekad bahwa saya harus belajar EYD lebih giat lagi, harus saya akui, saya memang masih lemah dalam hal ini, dan kedepannya nanti, saya nggak boleh lagi komplain soal kinerja editor pada editor :D Alhamdulillah, saat ini editor2 saya adalah orang2 yang komunikatif, juga rendah hati dan tak sungkan minta maaf untuk hasil koreksian yang kurang berkenan di hati penulis.

Hari ini, saya justru merasa berterima kasih pada mereka2 yang mungkin tak pernah menyadari kalau dulunya mereka pernah membuat saya merasa sedikit tertampar ini, tergelora semangat untuk lebih giat belajar menulis, mungkin, jika saya mengawalinya dengan jalan yang adem ayem saja, belum tentu antusias dan semangat saya untuk menulis bisa seperti sekarang. Jadi biar banyak orang bilang saya orangnya kalem dan pendiam, urusan ambisi, beda tipis aja koq sama Agnes Monica, hehe. Yang beda banyak banget itu penghasilannya :)
Friday, 12 October 2012

TAMPARLAH AKU KAU KUKEJAR LALU KUGILAS :) - Part 1

Ternyata, judul itu memang harus eye-catching ya? :)
Part 1 dari catatan ini, sebenarnya masih versi recycling dari catatan jadoel saya yang judulnya "Dipuji or Dikritik, Kamu Pilih Mana?" Bedanya, kalau yang jadoel itu saya menganalogikan dengan permainan jungkat-jungkit, maka untuk yang ini, saya mencoba menganalogikan dengan...food. Ya. Makanan. My favourite :)

Apa yang kita rasakan saat mengecap makanan yang manis? Permen, es krim, or coklat misalnya? Pasti yang timbul adalah rasa nyaman dan terhibur, sehingga terkadang, sebagian kita cenderung melarikan diri dari persoalan dengan memakan makanan yang manis. Tetapi pada umumnya rasa manis ini hanya bertahan sekejap. Begitu melewati pangkal lidah dan meluncur ke tenggorokan, rasa manis itu pun akan lenyap. Dan meski pun makanan manis memiliki nilai gizi, kalau berlebihan mengonsumsinya, bisa berpotensi jadi penyakit, ya diabetes, obesitas, dsb.

Begitu jugalah dengan pujian. Saat kita dipuji, disanjung dan dihargai, kita akan merasa senang dan terhibur, apalagi, kalau pujian itu ditujukan untuk karya yang sudah kita buat dengan susah payah. Dalam frekuensi normal, pujian semacam ini memang terasa menyenangkan, kita jadi tersemangati karena merasa karya kita layak dihargai dan pengorbanan kita tak sia-sia.

Tetapi, pada titik ini kita juga harus mulai waspada, jangan sampai pujian berkembang menjadi kebutuhan. Kita butuh untuk dipuji atau dihargai terlebih dulu baru tersemangati. Dan yang lebih gawatnya lagi, kalau kebutuhan akan pujian ini kian berkembang menjadi tujuan. Ya. Kita berkarya, kita berbuat, kita menulis dsb dengan harapan orang2 akan memuji kita. Sudut pandang agama mengatakan kalau terobsesi pada pujian termasuk perbuatan riya. Dan riya adalah bagian dari syirik kecil, karena itu, waspadalah selalu dengan reaksi hati terhadap pujian. Camkan dalam hati bahwa semua pujian adalah milik Allah, karena Dialah yang telah memberi kita kelebihan dan kemampuan untuk berkarya. Kelebihan yang kapan pun Dia mau, Dia berhak mencabutnya.

Lalu, bagaimana dengan kritikan?
Di sini, saya ingin menganalogikannya dengan jamu pahit. Ya. Jamu tanpa ekstra madu, gula dan perasan jeruk nipis. Saat pertama mencicipinya, terutama bagi yang belum pernah minum jamu, apa yang terasa? Pahit bener pastinya, dan wajah yang spontan berkerut. Selain itu, rasa pahit juga umumnya lebih lama tinggal di lidah. Membuat kita enggan mengonsumsinya sering2, padahal, jamu pahit bagus buat kesehatan, tentu aja, jamu yang juga sesuai dengan kebutuhan fisik kita.

Nah, ketika dikritik, apalagi kritikan yang pedes bin nyelekit, apa reaksi yang muncul? Pastilah bukan senyum lebar, melainkan ekspresi wajah yang akan terlihat jelek saat bercermin :). Ya. Kritikan memang terasa pahit, namun kita juga membutuhkan "suplemen" ini agar resistensi kita bisa lebih terasah.

Sebelumnya, ijinkan saya membagi jenis2 kritik dalam versi saya, jenis yang mungkin nggak teman2 temui dalam versi yang sudah pernah ada ^_^ :
Pertama - just throw it away critic - kritik yang disampaikan dengan cara yang kasar, pedes, kalimatnya mengandung cacian dan hinaan, seperti misalnya : karyamu jelek! nggak mutu! Bagusan juga puisi ponakan gue yang masih SD! dsb. Untuk kritikan jenis ini, yang harus kita lakukan adalah just throw it away, buang jauh2, nggak perlu dipikirin lagi. Case closed.

Kedua - don't heart so much critic - ini kritik yang pada umumnya disampaikan, dan biasanya berasal dari pembaca awam. Kritik yang menyebut kekurangan karya kita sepenangkapan mereka, dan meski mereka tidak menyebut solusinya, minimal kita bisa memahami maksud komentar mereka. Misalnya nih, tema ceritanya biasa aja, klimaksnya kurang nendang, settingnya kurang detail, dsb.

Kritik jenis ini, nggak ada salahnya diterima sebagai masukan, untuk kemudian kita pilah-pilih, mana yang memang pantas kita ikuti dan terapkan. Karena kita juga nggak mungkin mampu mengikuti semua saran, apalagi, kritik pada kategori ini juga sangat bergantung pada selera. Bagaimanapun, satu hal harus kita sadari, bahwa pembaca adalah mereka yang bisa melihat karya kita tanpa pretensi apapun.

Ketiga - take it properly critic - ini kritik yang pantas kita cermati dengan saksama, yaitu kritik yang nggak hanya nyebut kekurangan karya kita tetapi juga menyertakan solusi dan saran yang positif. Kritik jenis ini layak untuk kita - sebagai penulis - mengapresiasinya. Karena jarang2 gitu loh, orang mau bersusah payah membaca dan menilai karya kita sekaligus mau ngasih masukan. Apalagi kalo saran itu berasal dari mereka yang memang kompeten. Wuih, masukan berharga banget tuh. Itu artinya orang itu juga punya keinginan baik dan ekspektasi yang baik terhadap karya kita selanjutnya.

Tetapi, respon terhadap kritik juga sangat tergantung pada kadar resistensi kita. Ada yang masih bisa manggut2 dan senyum2 biar pun udah diserang dengan kritik jenis pertama, tetapi ada juga yang langsung nangis darah saat diberi kritik jenis ketiga :).  Kadar resistensi ini sangat bergantung pada karakter dan pengalaman hidup setiap orang. Mereka yang berkarakter koleris akan memberi respon berbeda dengan mereka yang cenderung melankolis. Mereka yang telah banyak makan asam garam dan mencecap pahit kehidupan, biasanya resistensinya akan lebih baik dibandingkan mereka yang hidupnya senantiasa lancar mulus aja. Ibarat makanan (lagi), terlalu sering makan makanan yang manis dan lezat, saat suatu hari disodori segelas jamu pahit, rasanya bukan lagi pahit, tapi pahit bener-bener sampe pingin vomit :)

Nah, berhubung saya juga nggak tahu kadar resistensi masing2, buat teman2 yang mungkin selama ini kurang berkenan untuk kritik2 sotoy saya, just tell me the truth, jadi ke depan saya bakal tutup mulut, nggak lagi2 berani ngeritik, hehe, dan lewat tulisan ini sekaligus mau minta maaf untuk kritik2 saya yang selama ini mungkin kurang dapat diterima.

Trus, so far, apa hubungannya tulisan ini dengan judulnya?
ho-ho, tulisan ini emang belum selesai, masih ada lanjutannya lagi, sebagaimana kita dianjurkan untuk berhenti makan sebelum kenyang, maka begitu jugalah dalam memposting, berhentilah sebelum bikin mata pembaca berair dan pindah ke lain channel :)

Wednesday, 10 October 2012

Novel Yang Kedua cetak ulang :-)

Jumat sore, 4 okt lalu, tanpa ada kbr via tlp sebelumnya, pas jemput si bb dakocan kiriman yusi hasil menang lomba blog kosmetik halal di agen jne, eh ternyata ada ekstra paket dari bukune. Lihat bentuknya sih, udah jelas kalo itu buku. Pertanyaannya, buku apa? Semula, yang melintas dalam dugaan saya adalah paket dari mbak editor yang mau luncurin novel duet, dan itu salah satu kirimannya buat saya, hehe, kepedean ya :)

Tapi, dugaan yang kedua melintas juga nggak kalah pede, jangan-jangan, itu bukti terbit. Nggak sabar, saya langsung buka di depan agen, sambil menunggu suami bayar pulsa di ATM, dan ternyata, Alhamdulillaaaah.....dugaan yang kedualah yang dikabulkan Allah. Dua eks buku itu, memang bukti terbit cetakan ke-3 novel Yang Kedua, bersama sepucuk surat cinta :)

Jujur, sempat melintas rasa skeptis saya untuk novel ini, mengingat ratingnya di goodread yang masih di bawah romance sebelumnya Hati Memilih, begitu pun dari review beberapa teman saya yang lebih suka Hati Memilih ketimbang yang ini. Hanya satu hal yang menguatkan keyakinan saya, yaitu niat yang baik insya Allah akan disampaikan Allah pada tujuan yang baik juga. 

Saya menitipkan satu pesan dalam novel ini. Pesan tentang makna kesejatian cinta - cinta yang bermanifestasi dalam bentuk pengorbanan dan perjuangan, bukan sekadar cinta yang hanya bisa diucapkan oleh bibir. Harapan saya, pesan itu bisa nyampe ke pembaca, dan meski cinta sejati itu terasa musykil, saya ingin semua orang tetap tak putus harapan, bahwa kesejatian cinta itu - ada.

Terima kasih saya buat para pembaca, editor saya mbak Iwied, Bukune, juga teman2 yang telah sudi mereview novel ini, tanpa kalian, saya mungkin selamanya akan jadi pengkhayal doank, hehe, terima kasih untuk kesempatan yang diberikan pada saya mewujudkan satu demi satu khayalan itu. Semoga "khayalan" saya selanjutnya, masih bisa kalian terima dan apresiasi ya :)


Wednesday, 3 October 2012

WAWANCARA PING! AMFB di ProResensi tgl 29 Sep 2012

Alhamdulillah, setelah novel saya "Yang Kedua" berkesempatan mengisi obrolan di ProResensi pada bulan Ramadhan lalu, novel duet saya bareng Shabrina WS yang berjudul "Ping! A Message From Borneo" berkesempatan juga mengisi jadwal obrolan pada hari Sabtu tanggal 29 Sep jam 16.30 wib.

Berikut ini kutipan obrolan saya (RE) dan mbak n mas penyiar (P) dalam obrolan yang berlangsung kira2 lima belas menit itu :

P   : Gimana sih bisa kenal dengan Shabrina lalu tiba-tiba muncul ide bersama untuk nulis novel ini dan ikut lomba?
RE : Saya kenal dengan Shabrina WS di facebook sekitar tahun 2010, lalu sekarang kita bergabung di grup facebook Be A Writer dan di situ kita tambah intens berkomunikasi terutama seputar dunia penulisan. Shabrina kemudian pernah meneruskan imel ke saya berisi Petisi Orang Utan, di mana di dalamnya berisi himbauan untuk ikut mengampanyekan pentingnya menjaga habitat orang utan yang hampir punah termasuk tempat tinggalnya yaitu hutan Kalimantan yang kian tergerus oleh pembukaan lahan sawit. Dari sinilah awalnya ide dan motivasi itu. Kami berdua lalu bersama-sama menyusun sinopsis, dan saat baru mulai menulis, pas Bentang Belia ngadain lomba 30 hari 30 buku Bentnag Belia, kita berdua lalu rembugan dan akhirnya sepakat untuk menulis naskah ini untuk diikutkan dalam lomba tsb.

P  :  Mbak berdua nggak tinggal di Kalimantan, kok bisa kepikiran sih untuk mengangkat cerita tentang orang utan di Kalimantan?
RE : Motivasi awalnya memang dari petisi tsb, dan kita juga nggak berniat muluk-muluk, hanya berharap lewat novel ini, para pembacanya terutama pembaca remaja, karena novel ini segmennya memang buat remaja, agar lebih mengetahui kondisi sebenarnya yang kini tengah terjadi pada salah satu kekayaan yang kita miliki, yaitu orang utan dan hutan Kalimantan yang telah kian punah, dan berharap setidak-tidaknya tumbuh rasa kepedulian kita terhadap lingkungan.

P   :  Untuk risetnya, apakah pergi langsung ke Kalimantan atau riset dari internet?
RE :  Kita berdua nggak pernah ke Kalimantan (aslinya mupeng ^_^), jadi sebagian besar riset dari internet, dan sebagian besar dilakukan Shabrina karena beliau yang menulis bagian cerita si anak orang utan bernama Ping

P  :  Ke depan apakah punya niat mengeksplorasi cara penulisan yang berbeda lagi?
RE : Insya Allah, inginnya sih menulis tema-tema sosio kultur tetapi penyampaiannya dengan bahasa yang ringan seperti novel Ping agar bisa menjangkau pembaca remaja juga dengan harapan mereka juga bisa suka dan terinspirasi dengan tema-tema semacam ini


Tuesday, 2 October 2012

PRODUKTIVITAS vs TIME SCHEDULING

Satu tahun bisa menulis beberapa buku? Ini bukan hal yang mustahil. Tetapi, mohon untuk menggarisbawahi kata menulis, ya, menulis, bukan menerbitkan. Karena menerbitkan adalah hal lain lagi. Di dalamnya ada faktor keterlibatan elemen-elemen lain selain penulis yang akan mempengaruhi terbit tidaknya sebuah buku, dan kalau terbit, berapa lama satu buku akan memakan waktu sebelum layak dilempar ke pasaran. Buku yang ditulis berdasarkan pesanan atau kontrak, mungkin penerbitannya tidak akan memakan waktu terlalu lama, karena sudah punya tenggat jadwal terbit, tetapi kalau untuk naskah yang baru diusulkan oleh penulis kepada penerbit, ini sangat relatif.

Buat teman-teman yang ingin serius menulis (buku), tak ada salahnya untuk mulai menerapkan time scheduling dalam menulis sehingga produktivitas bisa berlangsung stabil dan mood menulis pun insya Allah bisa terjaga. Percaya deh, membiarkan satu naskah nggak selesai dalam jangka waktu lama bisa bikin kita males untuk menyelesaikannya :)

Apa yang akan saya bagi ini, juga mohon digarisbawahi bahwa ini lebih layak disebut cita-cita, bukan suatu pedoman yang sudah saya terapkan berkali-kali. Sejauh ini, saya masih penulis yang fleksibel, dalam artian kecepatan menulis sangat tergantung pada deadline, kalau deadline nya mepet, ya nulisnya dipaksain supaya cepet, kalo lama, ya molor2 teruslah jadinya :)

Setiap orang juga pastinya punya kecepatan yang berbeda-beda saat menulis. Jadi time scheduling di bawah ini, saya susun berdasarkan kecepatan rata-rata saya saat menulis. Yang bisa lebih cepet dari ini, ya silahkan saja, namanya juga time schedule emak2 plus pekerja, jelas bukan patokan yang standar :) 

1. Perencanaan (1 - 2 minggu)
Jangan pernah mengabaikan step yang satu ini. Karena dengan perencanaan yang baik, maka resiko menghadapi writer's block bisa diminimalisir dan proses menulis pun bisa lebih terkontrol.
Pada tahap ini, yang perlu kita persiapkan adalah pondasi dari sebuah buku, meliputi : sinopsis, outline per bab, referensi yang diperlukan, karakter, alur, plot dan setting (untuk penulisan novel), dan sebagainya.

2. Proses penulisan (2 - 3 bulan)
Dengan asumsi dalam sehari anda bisa menulis rata-rata 2-3 halaman dan total halaman buku yang akan ditulis berkisar pada 150 - 180 hal A4. Jika ada hari yang bolong menulis, sebaiknya segera ditutupi kebolongan itu pada hari yang lain. 
Pada tahap ini, rintangan terberat adalah menjaga ritme dan kedisiplinan dalam menulis. Setiap orang punya cara berbeda dalam menjaga ritme ini. Kalau saya, charge yang paling penting adalah buku. Jadi, sepanjang proses menyelesaikan sebuah buku/novel, saya membaca sekurang-kurangnya satu buku sebagai pendamping. Juga penting untuk menetapkan deadline untuk diri sendiri. Jika terserang rasa malas, lelah, dsb, berhentilah sejenak, tetapi jangan kelamaan dan keenakan, karena menciptakan kebolongan jeda menulis yang terlalu lama bisa mengurangi kemampuan dan semangat.

3. Masa jeda (1-2 minggu)
Setelah menyelesaikan sebuah naskah buku, tinggalkan naskah anda dan lupakan. Kondisikan pikiran kita sampai mengalami rada2 amnesia dengan tulisan kita sendiri. Gunanya adalah agar pada tahap berikutnya kita bisa menilai tulisan kita dengan kacamata yang lebih objektif sehingga bisa lebih jeli saat mengoreksi kekurangan dan kesalahan.

4. Masa baca ulang dan koreksi/edit (1-2 minggu)
Gunakan tahap final ini untuk membaca saksama naskah anda dan melakukan koreksi terhadap hal-hal yang dirasa kurang atau meleset.

Jadi, secara keseluruhan, tahap2 penulisan buku dengan standar di atas berlangsung untuk 3-4 bulan, atau menulis 3-4 buku dalam setahun. Bagi yang menulis novel, mungkin pernah mengalami, tiba-tiba di tengah jalan mendadak muncul ide untuk merubah jalan cerita. Silahkan saja! Tetapi tetap berpedoman pada sinopsis yang telah dibuat. Kalau perlu buat cabang2 rencana. Saya ingat waktu kecil dulu sering baca buku cerita yang endingnya ditentukan sendiri. Jadi setelah baca sampe halaman sekian, ada perintah, kalo mau lanjut A ke hal. sekian, kalo mau lanjut B ke hal. sekian, dst. Nah, kira2 seperti itulah cabang2 yang bisa kita rencanakan jika hendak sedikit bergeser dari rencana semula.

Sampe sini dulu ya. Semoga bermanfaat ^_^